..............berpendarlah dengan cahaya yang berkilau laksana kunang-kunang di malam yang gelap....... tak perlu ragu karena dari mana asalmu, karena kilau emas sekalipun berasal dari kubangan lumpur juga......................

Selasa, 17 Mei 2011

Saya dan Batik



Bagi siapapun yang pernah membaca cerpen saya berjudul "Truntum" pasti akan mengira bahwa saya adalah pecinta Batik. Mungkin tidak salah jika dibilang begitu, karena dari kecil sampai sekarang saya tak pernah lepas dari batik walaupun secara nyata saya bukan kolektor batik.

Saya mencintai batik bukan hanya semata-mata karena itu adalah warisan budaya atau terlebih karena kontroversinya yang sempat membuat dunia sedikit geger, tapi saya melihatnya sebagai suatu nilai seni yang mengagumkan.

Saya terlahir dari seorang ayah yang mana beliau adalah salah satu pegawai pegadaian. Saat masih TK, saya sering bermain di kantor ayah saya karena sekolah saya bersebelahan dengan kantor ayah saya. Setiap pulang sekolah saya sering melihat begitu banyak orang di kantor ayah saya. Yang menjadi perhatian saya adalah banyak wanita-wanita yang membawa gulungan kain. Setelah aku tanya ke teman ayahku, untuk apa gulungan kain itu? ternyata gulungan kain itu untuk digadaikan (dijadikan jaminan untuk pinjaman uang tunai). dan gulungan kain itulah yang di sebut orang dengan nama BATIK.



Dari situlah saya mengenal batik, yang sewaktu saya masih kecil kain batik selain sebagai pakaian juga sebagai bentuk investasi bagi perempuan di desa saya. Karena ketertarikan saya, maka saya pun sering pulang sekolah mampir dulu ke kantor ayahku, saya begitu takjub ketika diajak oleh teman ayah saya ke gudang penyimpanan kain batik yang dijaminkan di pegadaian tempat ayahku bekerja.



Aku juga sering mengamati ayahku yang menaksir harga batik tersebut, mulai dari teknik pembuatannya (tulis, cap dan tulis, atau cap saja) selain itu ditaksir juga dari motifnya.

Menurutku batik itu indah, indah menurut motifnya, indah menurut pembuatannya yang butuh keuletan, ketrampilan dan kesabaran yang luar biasa, dan indah karena dinilai dari hati.



Sewaktu saya kelas 2 SMP, saya iseng ikut tetangga saya yang berprofesi sebagai 'tukang batik' (pembuat batik), namanya mbokde Muji. Dari situlah saya makin mencintai batik, saya benar-benar belajar membatik, menuangkan malam (sejenis lilin) ke dalam selembar kain mori dengan alat yang di sebut canting. Seperti mimpi rasanya.



Rasanya seperti ada kenikmatan tersendiri dalam membatik, kita diberikan kebebasan berkreasi sebebas-bebasnya namun harus tetap pada jalur atau pakemnya. Padahal saya kira dulu motif batik adalah pakem yang tak boleh diganggu gugat, tapi ternyata tidak. Hanya motif dasarnya saja yang memang senada tapi ornamen-ornamen tiap detailnya boleh kita kreasikan sesuai dengan imajinasi kita.



Semula batik dibuat di atas bahan dengan warna putih yang terbuat dari kapas yang dinamakan kain mori. Dewasa ini batik juga dibuat di atas bahan lain seperti sutera, poliester, rayon dan bahan sintetis lainnya. Motif batik dibentuk dengan cairan lilin yang lebih sering disebut malam mungkin karena warnanya yang gelap, dengan menggunakan alat yang dinamakan canting (memiliki berbagai ukuran yang berbeda) untuk motif halus, atau kuas untuk motif berukuran besar, sehingga cairan lilin meresap ke dalam serat kain. Kain yang telah dilukis dengan lilin kemudian dicelup dengan warna yang diinginkan, biasanya dimulai dari warna-warna muda. Pencelupan kemudian dilakukan untuk motif lain dengan warna lebih tua atau gelap. Setelah beberapa kali proses pewarnaan, kain yang telah dibatik dicelupkan ke dalam bahan kimia untuk melarutkan lilin. Untuk warnanya sendiri sebenarnya juga dipakai sistem pewarnaan yang tumpang tindih.



Ragam corak dan warna Batik dipengaruhi oleh berbagai pengaruh asing. Awalnya, batik memiliki ragam corak dan warna yang terbatas, dan beberapa corak hanya boleh dipakai oleh kalangan tertentu (seperti motif parang dan kawung). Namun batik pesisir (contohnya batik madura dan cirebon)menyerap berbagai pengaruh luar, seperti para pedagang asing dan juga pada akhirnya, para penjajah. Warna-warna cerah seperti merah dipopulerkan oleh Tionghoa, yang juga memopulerkan corak phoenix. Bangsa penjajah Eropa juga mengambil minat kepada batik, dan hasilnya adalah corak bebungaan yang sebelumnya tidak dikenal (seperti bunga tulip) dan juga benda-benda yang dibawa oleh penjajah (gedung atau kereta kuda), termasuk juga warna-warna kesukaan mereka seperti warna biru. Batik tradisonal tetap mempertahankan coraknya, dan masih dipakai dalam upacara-upacara adat, karena biasanya masing-masing corak memiliki perlambangan masing-masing.



Batik adalah kerajinan yang memiliki nilai seni tinggi dan telah menjadi bagian dari budaya Indonesia (khususnya Jawa dan Bali) sejak lama. Perempuan-perempuan Jawa di masa lampau menjadikan keterampilan mereka dalam membatik sebagai mata pencaharian, sehingga di masa lalu pekerjaan membatik adalah pekerjaan eksklusif perempuan, tapi menurut saya membatik bukan hanya bisa dilakukan oleh perempuan. Saya tertarik dengan membatik karena mengajarkan saya sebuah kesabaran, begitu tenang dan damai, batik tak mungkin indah jika dikerjakan dengan asal-asalan dan terburu-buru. Batik adalah ekspresi diri (seperti kisah pembuatan batik motif truntum), maka untuk itulah kenapa batik tulis terkenal paling mahal, karena tiap lembarnya adalah ekspresi diri dan tak ada yang mampu menduplikasikannya dengan sempurna dan sama persis.



Tradisi membatik pada mulanya merupakan tradisi yang turun temurun, sehingga kadang kala suatu motif dapat dikenali berasal dari batik keluarga tertentu. Beberapa motif batik dapat menunjukkan status seseorang. Bahkan sampai saat ini, beberapa motif batik tadisional hanya dipakai oleh keluarga keraton Yogyakarta dan Surakarta. Selain itu membatik bisa menunjukkan karakter tiap-tiap orang, jika dua orang dengan karakter yang berbeda membatik dengan motif yang sama persis, maka bisa dipastikan hasilnya beda, pasti ada guratan-guratan yang menjadi ciri dari tiap-tiap orang.



Untuk motif batik secara umum saya sendiri kurang begitu faham, hanya beberapa motif yang saya tahu seperti parang rusak, lereng, kawung, mega mendung, sida mukti, truntum dan sekar jagad. Sedang untuk ciri khas motif batik dari daerah-daerah tertentu saya juga kurang tahu, hanya batik mega mendung yang saya tahu benar-benar khas dari Cirebon, sedang untuk batik madura yang saya tahu adalah penggunaan warna-warna yang tegas (merah, biru, hijau dan kuning) serta banyaknya tarikan garis dalam satu motif batik. Untuk warna utama dari batik adalah sogan (coklat), biru, dan hitam. Warna sogan berasal dari hasil rebusan kulit batang pohon mahoni, warna biru dihasilkan dari tanaman indigo atau dikenal sebagai daun tom/tarum. Sedang warna hitam adalah perpaduan warna sogan dan biru. Efek terang dan gelapnya pada kain Batik dihasilkan melalui lamanya perendaman kain sendiri. Selain itu ada juga warna-warna alami lain untuk warna merah (buah pinang), hijau muda (Daun mangga), bahkan, kotoran sapi sekalipun bisa dia manfaatkan untuk mendapat warna kuning emas. Tapi sekarang sangatlah sulit mendapatkan kain batik dengan pewarna alami, jika adapun mungkin sangatlah mahal harganya. Dan biasanya kain batik dengan pewarna alami malah terkesan kusam namun lembut.



Selain itu dalam membatik juga dikenal beberapa hiasan ornamen yang mengisi keseluruhan motif batik, seperti padas gempal, beras wutah, kembang jeruk dan lain-lain.

Jika dulu motif-motif tertentu hanya boleh digunakan oleh keluraga keraton (parang dan kawung) maka sekarang sudah tidak berlaku lagi, tapi penggunaan batik motif-motif tertentu untuk acara-acara tertentu masih banyak dianut di masyarakat, seperti larangan pasangan pengantin menggunakan motif parang rusak untuk prosesi pernikahan.



Untuk itu saya merasa bangga sekali menyadari bahwa saya pernah belajar membuat kain batik. Bahkan saya bangga dengan sosok seperti OBIN (Josephin Komara) sang Tukang Kain (memang dia tidak mau disebut sebagai designer), yang mana adalah pecinta kain-kain tradisional indonesia, terutama batik. Batik buatannya bisa seharga 8 digit nominal rupiah, tapi beliau selalu tampil sederhana dengan balutan batik dimanapun dia berada. Batik mengajarkan begitu banyak makna salah satunya kesederhanaan.

Marilah kita cintai batik bukan hanya karena warisan budaya tapi kita jadikan sebagai identitas kita. Identitas bangsa kita. Jika bukan kita siapa lagi?

16 komentar:

  1. Batik itu indah dan terkadang menggambarkan isi hati dari pembuatnya...
    kunjungan pertama, salam kenal yah

    BalasHapus
  2. @F4dly: makasih atas kunjungannya.... salam kenal juga....

    BalasHapus
  3. Saya juga pengkoleksi batik mas, apalagi yang corak pertama tu , batik Mega Mendung, tapi warna biru putih, dan celananya juga ada 6 , kemarin baru dapat kiriman lagi dari Yogyakarta :D

    salam persohiblogan ^_^

    BalasHapus
  4. Saya juga suka batik, apalagi gamis-gamisnya itu, manis dan elegan. Warna-warna gelap membuat perempuan terlihat Indonesia banget..


    Salam bloofers!

    BalasHapus
  5. @auraman: malah saya bukan pengoleksi batik.. ^_^ .. hehehehe..... cuma di rumah, ibu saya yang masih punya beberapa kain batik.... (warisan dari nenek)... kalau untuk pakaian sih saya cari yang agak modern sih... biar masuk untuk segala suasana...

    @fitri: wanita indonesia terlihat cantik dan sexy kalau pake batik, aq aja kagum klo lihat wanita2 seperti yati pesek dan waljinah yg luwes banget pake kain jarit batik.... nenek2 ku juga masih pakai....

    BalasHapus
  6. jadi inget waktu pelajaran seni: ternyata, membatik itu lebih sulit daripada ngupil pake jempol kaki-____-

    BalasHapus
  7. @Kartini: hahahaha....memang bisa ngupil pake jempol kaki?????

    BalasHapus
  8. salah satu produk budaya asli yang harus dicintai dan dilestarikan, aku suka kemarin dapat kiriman kain batik dari adik katanya sih produk dari martapura

    BalasHapus
  9. @Thanjawa Arif : wah jadi pengen tahu seperti apa batik dari martapura..... ^_^

    BalasHapus
  10. besok mudah-mudahan bisa upload fotonya

    BalasHapus
  11. @Thanjawa Arif : wahhhh..... pasti bagus dech.... ^_*

    BalasHapus
  12. aku belum pernah membatik.... ^_^

    ingin ecoba ah suatu waktu nanti ^_^

    BalasHapus
  13. @W i e d e s i g n a r c h : cobalah dan temukan kesenangannya....

    BalasHapus
  14. maaf sob aku belum bisa kirim fotonya sudah dicoba tidak bisa ke emainya juga tidak bisa, bagaimana jika diupload diberandaku ((aku resah karena janji adalah hutang)

    BalasHapus
  15. @Thanjawa Arif : ok.... gak apa2...

    BalasHapus
  16. ingin punya aneka jenis motif batik dari masing-masing daerah, sayang harganya mahal bahkan walau hanya batik cap, apalagi batik tulis :(

    BalasHapus