..............berpendarlah dengan cahaya yang berkilau laksana kunang-kunang di malam yang gelap....... tak perlu ragu karena dari mana asalmu, karena kilau emas sekalipun berasal dari kubangan lumpur juga......................

Senin, 16 Mei 2011

Memoirs of a Geisha




“Aku tak bisa mengatakan kepadamu apa yang memandu kita dalam hidup ini; tetapi bagiku, aku jatuh kepada Ketua sama seperti batu yang jatuh ke tanah. Ketika bibirku luka dan aku bertemu Tuan Tanaka, ketika ibuku meninggal dan aku dengan kejam dijual, itu sama seperti aliran air yang jatuh di atas karang-karang tajam sebelum air itu bisa mencapai samudera. Bahkan setelah dia pergi, aku masih memilikinya, dalam kenanganku yang indah.”

Dulu aku sempat mengira bahwa geisha adalah tidak lebih dari ajang sebuah prostitusi, tapi pikiranku berubah setelah membaca buku "Memoirs of a Geisha" karya Arthur Golden. Buku ini dulu aku beli tidak sengaja, waktu itu sekitar tahun 2004, saat itu aku pergi ke Malang (ke rumah paman) dan aku sempatkan mampir ke Toko Buku Gramedia di sekitar alun-alun kota Malang. Karena waktu udah malam, maka aku tak punya banyak waktu untuk memilih, dan entah kenapa aku mengambil buku ini.

Setelah aku membacanya, aku merasa tak menyesal membeli buku ini. Buku yang begitu indah. Buku yang di tulis oleh orang yang bukan asli dari Jepang tapi sangat mendetail menggambarkan seluk beluk kehidupan Geisha. Selain ceritanya yang memang bagus, latar belakang kehidupan Geisha di Jepang sangatlah membuatku kagum. Membuka mataku, bahwa mereka ternyata adalah para seniman yang hebat. Mereka adalah sosok wanita-wanita anggun dan terhormat dengan cara mereka sendiri.

Bercerita tentang seorang Geisha yang terkenal saat itu. Orang-orang hanya tahu dia adalah “Nitta Sayuri”, seorang geisha muda cerdas dari gistrik Gion yang terkenal. Dengan tutur katanya ia menghibur para lelaki. Dengan lentur tarian dan suara merdunya ia menarik perhatian semua orang. Menjadi geisha memang bukan keinginannya. Tapi setelah bertemu ketua di tepian Sungai Shirakawa, ia pun menemukan jalan hidupnya.



Sayuri bernama asli Sakamoto Chiyo, saat berumur 9 tahun anak nelayan miskin yang tinggal di gubuk reot di Yoroido ini harus 'dijual' oleh orang tuanya sendiri ke sebuah rumah Geisha (okiya) bersama kakak perempuannya, Satsu. Mereka di jual ke sebuah okiya yang terkenal bernama okiya Nitta di Gion. Sayang, Satsu tidak memenuhi syarat sebagai seorang geisha sehingga malah dipekerjakan di sebuah tempat pelacuran. Chiyo cukup menderita dalam menjalani kehidupan di okiya karena seorang geisha lain yang lebih senior yang bernama Hatsumomo yang iri dengan kecantikannya (Chiyo terkenal memiliki mata yg indah bagai air). Hatsumomo melakukan berbagai cara agar Chiyo hanya dijadikan sebagai pelayan seumur hidup. Ia pun memaksa Chiyo untuk mencorat-coret kimono milik Mameha, seorang Geisha terkenal yang menjadi saingan Hatsumomo.

Chiyo dan kakaknya. merencakan sebuah pelarian yang tak berujung mulus. Sang kakak berhasil kabur. Tapi Chiyo kecil harus jatuh dari atas atap dan mengalami patah tangan. Hancur sudah masa depannya. Nyonya Nitta, sang pemilik rumah geisha, tentu tak ingin menginvestasikan pendidikan pada Chiyo. Sementara itu, Chiyo takkan pernah bisa pulang. Tak ada siapa pun tersisa di sana. Hanya bau laut Yoroido dan papan arwah orang tuanya yang tersisa dari masa lalu.








Di saat dunianya hancur, Chiyo hanya bisa duduk dan menangis di tepian sungai Shirakawa. Tapi keajaiban datang saat tanpa sengaja, Chiyo bertemu dengan Ketua Ken Iwamura, seorang laki-laki pengusaha yang sangat baik, yang kebetulan lewat dan berhenti untuk bicara padanya. Benar-benar bicara dan mengusap air matanya. Ketika itulah, Chiyo kecil jatuh cinta. Untuk pertama dan terakhir kalinya. Sejak saat itu Chiyo bertekad menjadi seorang Geisha yang hebat agar bisa bertemu Ketua lagi. Tekad Chiyo makin bangkit saat Mameha yang terkenal meminta kepada pemimpin okiya Nitta agar Chiyo menjadi adik angkatnya sekaligus anak didiknya dengan berbagai pertaruhan.

Dibawah didikan Mameha, Chiyo berubah menjadi seorang calon Geisha (maiko) yang hebat bahkan lebih hebat daripada Hatsumomo, dan nama Chiyo diubah menjadi Sayuri setelah debutnya sebagai Geisha. Tapi tak cukup sampai di situ tekad Chiyo/Sayuri untuk bisa bersama Ketua yang begitu dia cintai harus menuai berbagai konflik. Konflik muncul dari Hatsumomo dan Labu (teman masa kecil Chiyo di okiya), selain itu ada Nobu, sahabat karib ketua yang sangat menyukai Sayuri, juga Baron, Dana (sebutan 'suami' bagi Geisha) dari Mameha, juga ada dokter 'Kepiting' yang bisa di sebut sebagai koletor Mizuage(ritual hilangnya keperawanan maiko/calon Geisha).





Semua diceritakan oleh sang penulis dengan begitu liar (di atas lancar.... hehehe), menggambarkan semua yang ada di buku ini dengan detail, bagaimana seorang Maiko (calon Geisha) harus belajar sungguh-sungguh menjadi Geisha. Mulai dari menari tarian tradisional (tachikata), bernyanyi (jikata), memainkan shamisen (kecapi khas jepang), mengenakan kimono dan menggunakan make up yang begitu 'menyiksa', mengerti tata cara seremonial minum teh secara formal, bahkan cara menuang teh sesensual mungkin.

Sebagaimana juga penulis menggambarkan keidahan-kendahan kimono dengan begitu detail, penulis juga menggambarkan kecantikan mata Chiyo dengan begitu mendalam, bagaimana perbedaan make-up maiko dengan Geisha, bagaimana cara tampil sensual tampa harus vulgar, bahkan penulis menggambarkan prosesi Mizuage dengan begitu detail.

Saat membaca buku ini seolah saya ikut larut ke dalam cerita, seolah mereka begitu hidup di sekitar saya. Buku yang tidak hanya berkutat dengan cerita cinta, tapi merupakan perpaduan cerita cinta, seni, budaya, tradisi, harapan, tekad, cita-cita, persaingan, sensualitas, kecantikan dan materi.

Dan sangat pantas jika akhirnya buku ini di angkat ke layar lebar yang diproduksi oleh Amblin Entertainment milik Steven Spielberg dan disutradarai oleh Rob Marshall. Film ini juga telah memenangkan 3 dari 6 nominasi dalam ajang Academy Awards.




Saat melihat film ini aku begitu tercengang, begitu menajubkan, hampir sempurna menurutku, sempurna sesuai dengan bayanganku. Sang sutradara sangat bijak memilih adegan mana-mana saja yang memang layak di tonjolkan dan mana yang hanya dapat porsi sedikit atau bahkan dihilangkan sama sekali. Bahkan tidak meninggalkan detail yang digambarkan di bukunya, lihat saja motif kimono milik Mameha yang dirusak oleh Chiyo atas suruhan Hatsumomo, sama seperti gambaran di buku yang berupa motif sulur-sulur pohon bambu. Begitu juga gambaran gubuk reot di tepi pantai tempat Chiyo tinggal semasa kecil. Bagaimana juga detail cara make-up maiko yang lebih mencolok dibandingkan para Geisha senior. Juga prosesi menyakitkan saat rambut seorang maiko harus di bentuk menggunakan bahan sejenis lilin. Begitu juga saat Sayuri harus mencelupkan tangannya kedalam es sebelum belajar memainkan shamisen. Bahkan poster film-nya begitu menonjolkan keindahan mata Sayuri. Selain itu semua, adegan yang paling aku suka adalah ketika Sayuri mempraktekkan teknik 'senyuman dan lirikan maut' ala Mameha yang mampu membuat laki-laki terpesona sampai tersungkur. Selain itu pemerannya sungguh pilihan yang tepat, Zhang Ziyi begitu hebat menggambarkan sosok Sayuri, Gong Li sangat lihai menggambarkan sosok Hatsumomo yang cantik sekaligus berbahaya (jahat), Mameha yang anggun dan berwibawa sangat ciamik dibawakan oleh aktris sekaliber Michelle Yeoh, dan Ken Watanabe yang begitu mempesona sebagai sosok ketua, dan tak lupa adalah sosok Suzuka Ohgo yang begitu pandai memerankan tokoh Sayuri kecil/Chiyo.

Dan tak salah jika film ini memenangkan penghargaan dalam ajang Academy Awards, antara lain, Cinematography : Dion Beebe, Art Direction : John Myhre (Art Direction); Gretchen Rau (Set Decoration) dan Costume Design : Colleen Atwood. Selain itu mendapatkan penghargaan dari saya sendiri, dengan menontonnya lebih dari 3 kali...... ^_^


9 komentar:

  1. aku belum baca bukunya tapi udah nonton pilmnya... emang bagus kok.. :D

    BalasHapus
  2. saya juga belum baca tapi udah nonton.. biasanya lebih keren bukunya sih..
    tapi filmnya inspiratif dan membukakan mata ;))
    keep posting,,
    salam bloofers

    BalasHapus
  3. >Akane: coba baca dech.... keduanya bagus....

    >Fitri: salam bloofers juga.... banyak pelajaran dari buku dan film ini

    BalasHapus
  4. saya malah baru tahu kalau ternyata memoirs of a geisha ada bukunya

    tapi saya sudah nonton filmnya, bagus :)

    BalasHapus
  5. @Alvita: kalau aku sih dulu pengen nonton film ini (sampai bela-belain cuti kerja) karena sudah lebih dulu baca bukunya....

    BalasHapus
  6. waaah dulu saya nntonnya waktu kelas 1 Mts, jadi lupa2 jalan ceritanya

    BalasHapus
  7. Ka adi sudah baca bukunya? Maaf ka saya ada tugas kuliah. Boleh minta kontak line nya ka? Mau nanya sesuatu. Atau gak add line saya agilatul. Thankyou

    BalasHapus
    Balasan
    1. Maaf baru buka blog lagi. Maaf sekali.

      Hapus
    2. Maaf baru buka blog lagi. Maaf sekali.

      Hapus