..............berpendarlah dengan cahaya yang berkilau laksana kunang-kunang di malam yang gelap....... tak perlu ragu karena dari mana asalmu, karena kilau emas sekalipun berasal dari kubangan lumpur juga......................

Senin, 23 Mei 2011

perlukah setetes darah yang sama untuk disebut saudara???



.....dadi wong ojo ijir (terlalu perhitungan).....

Kata-kata itu selalu terngiang dalam kupingku mulai dari aku kecil hingga beranjak dewasa. Itu adalah kata-kata yang sering dilontarkan olah ibuku, entah itu siang, malam bahkan entah hujan maupun badai (kumat lebay-nya ^_^).

Dulu sewaktu saya masih kecil, setiap kali selesai makan kakak-kakakku sering diam-diam tidak mau mencuci sendiri piring yang baru mereka pakai untuk makan. Aku yang selalu terakhir selesai makan dan selalu saja aku yang harus mencuci piring bekas yang dipakai kakak-kakakku. Dan suatu ketika dengan sangat jengkelnya, aku tidak mau mencuci piring yang bekas mereka pakai, aku hanya mencuci piring yang bekas aku pakai saja. Saat ibuku tahu hal itu, maka dia bertanya, "nyapo ora di isahi kabeh?" (kenapa tidak dicuci semua?). Aku hanya diam karena jengkel.

Setelah itu ibuku kembali berkata, "dadi wong ojo ijir, opo maneh karo sedulure dewe." (jadi orang jangan terlalu perhitungan, apalagi terhadap saudara sendiri). Terus kemudian ibuku menyuruhku duduk, dan dia mulai memberikan wejangan yang padahal waktu itu tidak terlalu aku gubris, tapi tanpa sadar hal tersebut telah terpatri dalam hati dan pikiranku juga telah menjadi ciri pribadiku seperti sekarang.

Kita tak pernah tahu dengan siapa kita hidup. Tidak selamanya kita hidup bersama orang tua dan saudara-saudara kandung yang akan selalu memahami kita. Untuk itulah kita harus banyak-banyak bertoleransi (tepo seliro). Bersikap baiklah kepada orang-orang yang hidup di sekelilingmu, karena mereka bisa menjadi saudara-saudara yang sesungguhnya walau tanpa ikatan darah, tergantung caramu memperlakukan mereka seperti apa. Jangan terlalu bersikap perhitungan jika kamu ingin mereka menyayangimu selayaknya saudara. Tidak semua yang ada di dunia ini bisa dihitung seperti hitungan ilmu aljabar (nama ilmu matematika saat ibuku masih kecil), walau kamu boleh selalu bersikap waspada. Tidak apalah kita sedikit merugi jika nantinya kita akan untung mendapatkan saudara yang bisa saling membantu (tuna sathak, bathi sanak). Jangan merasa tidak membutuhkan orang lain, setidaknya saat matipun kita membutuhkan bantuan orang lain untuk mengurus jasad kita.

Jujur, pada saat itu aku tidak begitu paham dengan apa yang dibicarakan ibuku. Tapi seiring berjalannya waktu, aku mulai paham dengan sikap dan contoh dari ibuku. Kadang aku bertanya 'kenapa begitu banyak orang yang menyayangi ibuku? begitu hormat kepada ibuku, bahkan anak-anak kecil di sekitar rumahku sangat menyukai ibuku, walau ibuku sendiri terkesan galak'.

Tak perlu hubungan darah untuk bisa disebut sauradara, mungkin itu prinsip ibuku. Setelah aku mulai besar begitu banyak kenyataan yang sangat membuatku terkejut. Banyak orang yang dari dulu kupanggil nenek, kakek, mbak, mas, bulik, paklik, budhe, pakdhe dan lain-lain ternyata mereka tidaklah ada hubungan darah dengan ibuku. Mereka adalah orang-orang yang sudah dianggap saudara oleh ibuku sendiri, bahkan sampai sekarang hubungan tersebut juga masih terjaga dengan sangat baiknya.

Ibuku (lahir di jember, jawa timur) dari kecil sudah tidak tinggal bersama orang tua kandungnya, dia dijadikan anak angkat oleh sepasang suami istri (salah satu kakek dan nenekku yang sekarang tinggal di blitar). Setelah menikah dengan bapakku (lahir di lumajang, jawa timur), orang tuaku tinggal di tulungagung (jawa timur), padahal disana tak ada sedikitpun sanak keluarga. Disanalah aku lahir dan disanalah ibuku menemukan saudara-saudaranya. Bahkan karena saking eratnya hubungan tersebut, sesaat setelah bapakku meninggal, ibuku tidak pernah berniat meninggalkan tulungagung walau tak ada sedikitpun saudara disana. Walaupun banyak saudara yang menyarankan untuk kembali ke jember. Kini aku sadar bahwa itulah kehebatan ibuku, dia bisa membuat orang-orang yang disekitarnya begitu menyayangi dan menghormatinya dengan selalu berbuat baik kepada orang lain, tapi tanpa harus menjadi pribadi yang penuh kepura-puraan.

Dan kini aku selalu berusaha untuk mencontohnya, (walau pernah gagal). Aku selalu berusaha menjadi saudara yang baik bagi sahabat-sahabatku, karena merekalah yang begitu mengerti tentangku, merekalah saudara-saudaraku. Aku selalu merindukan kebersamaan kita, walau sekarang terpisah sebisa mungkin jalinan silahturahmi tetap terjaga.

Walau pernah ada marah, pernah ada dusta, pernah ada benci, pernah ada air mata, pernah ada intrik, tapi aku selalu berharap selalu tersimpan senyum di hati kalian para sahabatku, sekaligus saudaraku. ^_^

11 komentar:

  1. persahabatan yang mengharukan...
    salam blogger. ^_^

    BalasHapus
  2. wah. . . pesan ibu mas sama banget sama pesan bapakku,,,, kaga perlu sedarah,,, teman, sahabat juga bisa jadi sodara,, sebaliknya ada juga yang notabene sedarah tapi sikapnya seperti orang laen. . .

    BalasHapus
  3. @Edi Kurniawan: makasih mas.... salam blogger juga.... *_*

    @Nihayatuzzin: yup betul.... kita harus bangga punya orang tua yang memberikan pesan2 moral yg baik kepada kita..... salam kenal ^_^

    BalasHapus
  4. jadi inget sahabat yang juga sebagai saudara-saudariku.. apalagi kalo ikatannya atas dasar ukhuwah mas :) subhanallah... orang-orang tanpa pamrih semoga Allah senantiasa melindungi mereka :)

    BalasHapus
  5. aduh bagaimana ini, lagi-lagi aku tidak bisa tepati janji, maaf jangan tagih ya janjinya. tulisannya bagus dan teladan yang perlu ditiru

    BalasHapus
  6. @Thanjawa : tenang saja aq gak bakal nagih.... (cuma penasaran dan sangat berharap bisa lihat contoh batik martapura.... ^_^)... tenang saja banyak waktu di hari esok.... *_* semoga bermanfaat bagi kita semua yang masih berjiwa muda...

    BalasHapus
  7. persahabatan adalah segala-galanya yang patut untuk kita jaga, yang tidak akan kita temukan pada pasangan. Salut buat tulisannya bro :)

    BalasHapus
  8. @Chical's: okay.... makasih sudah mampir... ^_^

    BalasHapus
  9. Assalamu'alaykum

    Alhamdulillaah setelah baca ini jadi berniat untuk membuang jauh-jauh hitung-menghitung..,Hehhe..
    Jazaakumullaah khayran.

    BalasHapus