..............berpendarlah dengan cahaya yang berkilau laksana kunang-kunang di malam yang gelap....... tak perlu ragu karena dari mana asalmu, karena kilau emas sekalipun berasal dari kubangan lumpur juga......................

Selasa, 24 Mei 2011

Shin Suikoden 1



Sudah sejak dulu saya ingin sekali membaca buku karya Eiji Yoshikawa, seperti Taiko atau Musashi, tapi mungkin karena belum berjodoh angan-angan itu serasa hampir begitu saja menguap, sampai sekitar sebulan yang lalu saat saya nyasar di Toko Buku Gramedia. Di depan langsung disambut oleh jajaran buku-buku yang bercover warna biru. Setelah saya mendekati, saya langsung tertarik dengan desain covernya, yang lebih membuat saya tertarik adalah nama pengarang yang tertulis, yaitu Eiji Yoshikawa yang begitu melegenda. Buku tersebut berjudul SHIN SUIKODEN (kisah klasik batas air) dan tanpa pikir panjang langsung saya bawa buku tersebut ke kasir.

Hampir sebulan buku tersebut terlantar di laci lemari saya (karena saya masih sibuk dengan urusan lain), hingga beberapa hari yang lalu buku tersebut baru bisa saya sentuh. Dan surprise banget baca buku tersebut (walau awalnya masih agak bingung dengan alur ceritanya). Baru kali ini buku setebal 486 halaman bisa saya baca dalam kurun waktu kurang dari satu minggu, atau tepatnya selesai baca selama 4 hari (padahal saya termasuk tukang baca yang lamban).

Buku ini berkisah tentang 108 bintang (108 Bandit Budiman Ryou Zan Paku) yang bersatu hendak menggulingkan pemerintahan Kaisar Ki Sou (Dinasti Sou, Cina) yang dipenuhi oleh pejabat-pejabat yang korup, sedang sang Kaisar seolah tidak peduli dengan penderitaan rakyatnya. Di buku pertamanya yang diterjemahkan langsung dari bahasa Jepang ini kita baru akan diajak mengenal beberapa tokoh yang kelak akan bertemu untuk satu tujuan tertentu. Mereka antara lain Shi Shin, pemuda dengan rajah sembilan naga di tubuhnya, ahli tongkat yang meski mudah emosi, namun sangat menghargai pertalian antarlelaki sejati. Ro Chi Shin si Pendeta Bunga, mantan polisi militer dengan tubuh dan sikap bagaikan raksasa kasar, namun berhati lembut laksana bunga musim semi yang dirajah indah menakjubkan di punggungnya. Cendekiawan Go, guru kuil di desa yang tersohor ketajaman akal dan kepiawaiannya dalam membuat strategi. Kemudian ada tokoh-tokoh lain diantaranya Rin Chu si Kepala Macan Kumbang, yang harus menjadi korban kejahatan para pejabat yang sewenang-wenang. You Shi si Iblis Berwajah Biru, Chou Gai (raja langit pemikul batu momentum), Kou Son Shou, Gen 3 Bersaudara, Ryu Tou dan lain-lain.

Di buku pertama ini awalnya seperti tak memiliki alur cerita yang jelas (saya juga sedikit bingung) karena masing-masing bab menceritakan latar belakang dan sepak terjang tokoh-tokoh utamanya yang masing-masing memiliki kisahnya sendiri. Barulah di bagian-bagian akhir kisahnya akan semakin fokus ke kisah perampokan iring-iringan hadiah ulang tahun dari seorang pejabat yang hendak diberikan kepada ayah mertuanya yang tak lain adalah Menteri Sai, salah satu pejabat yang korup.

Karena banyaknya tokoh dan nama yang diceritakan di buku ini saya kadang bingung sendiri. Mungkin karena saya tidak terbiasa membaca buku bertema seperti ini sehingga terkadang nama dan tokohnya sering tertukar-tukar atau sering lupa bahwa tokoh yang sedang diceritakan di bagian tertentu itu sama dengan yang dikisahkan di bagian sebelumnya.

Pengisahan tokoh-tokohnya memang menarik namun di paruh pertama novel ini karena masih belum jelas mau kemana sebenarnya kisahnya akan bergulir hal ini membuat saya sedikit bosan. Untungnya di bagian-bagian akhir tokoh-tokohnya bertemu satu sama lain dan bekerjasama untuk melakukan sebuah tindakan mulia (perampokan iring-iringan hadiah ulang tahun pejabat), hanya sayangnya ketika sedang seru-serunya kisahnya harus berhenti karena baru bisa dilanjutkan di jilid ke 2 nya.

Sepertinya di jilid-jilid selanjutnya kisah Shin Suikoden ini akan semakin menarik karena selain kisahnya yang telah semakin fokus dan kemahiran penulisnya dalam merangkai cerita yang seru dan memikat, tentunya jalan hidup dari para pendekar dalam kisah ini akan semakin banyak memberikan pesan moral yang baik bagi pembacanya baik itu dalam hal kesetiakawanan, kepahlawanan, dan komitmen serta semangat juang mereka dalam memperbaiki kesejahteraan rakyat yang telah direnggut oleh pemerintahan yang korup untuk memperkaya dirinya.

Satu kesan saya, akan sangat rugi membiarkan buku seperti ini teronggok begitu saja di etalase-etalase toko buku, dan makin penasaran dengan karya-karya Eiji yang lain. ^_^

7 komentar:

  1. wahhh.. buku ke-empat eiji yoshikawa.. :D

    sya juga suka ini. tp bertahan untuk tidak mencari bukunya sebelum lengkap bab-babnya.

    tp diantara semua sepertinya taiko mmg yg paling mantaf. bgmna menurutmu sodara? :D

    BalasHapus
  2. @Accilong: hahahaha..... aq belum sempet baca TAIKO dan MUSASHI.... hehehehe.... makin penasaran aja nich.... ^_^

    BalasHapus
  3. berkunjung dan membaca saja sob

    BalasHapus
  4. @Thanjawa : hehehehe.... makasih atas kunjungannya....

    BalasHapus
  5. blogwalking...

    aku belum baca buku dari penulis ini.
    penasaraaannnn.....!!!!

    ditunggu kunjungan baliknya ya.. :D
    oya, blogmu udah ku folbek :)

    BalasHapus
  6. Gubrraaaakkk!!! hahhahaha.. mesti baca tuw sob. sma yg the heike story juga. keren2, sya plg suka taiko tp. musashi sy juga belum, cuma view resensinya dan berani blg, taiko belum tertandingi. :D

    BalasHapus
  7. @Susie Ncuss: makasih udah di fooback.... dan makasih juga atas kunjungannya...

    @Accilong: waaahhhh..... makin penasaran aja nich aq.... segera berburu karya Eiji yang lain ahhhh.... ^_^

    BalasHapus