..............berpendarlah dengan cahaya yang berkilau laksana kunang-kunang di malam yang gelap....... tak perlu ragu karena dari mana asalmu, karena kilau emas sekalipun berasal dari kubangan lumpur juga......................

Minggu, 08 Mei 2011

The Sword With No Name



......Dia adalah bayangan yang selalu bersamamu, dialah cinta yang selalu mengasihimu, dia adalah sosok yang rela mati untuk melindungimu......

Film korea selalu menyentuh hati..... dan jaminan mutu (menurut subjektifitasku sendiri sebelum aku menonton film ini).... walau gak ada teman yang mau nemenin, aku nekat nonton film ini sendiri, dan hasilnya aku tak menyesal nonton film ini (sering sekali aku merasa menyesal menonton film buatan negeri sendiri)


Bersetting di masa Dinasti Joseon pada akhir abad ke-19 Korea Selatan, dengan tokoh nyata yaitu Empress Myeong-seong, perempuan yang dianggap pintar dan berani di jamannya (sangat populer di kalangan masyarakat Korea karena tindakannya yang sangat berani dalam melawan agresi tentara Jepang, dan terlibat dalam perebutan kekuasaan dengan Rusia dan Jepang yang berusaha menjajah Korea)




Bukan film Korea jika tidak menyajikan pemandangan alam yang begitu indah yang membuat cerita mengalir dengan semakin lembut. Didukung dengan kostum yang indah yang dipakai aktor dan aktrisnya, membuat aku makin serius nonton film ini.

Walau plotnya kurang fokus karena terlalu banyak intrik, tapi kali ini aku hanya akan fokus tentang cerita cintanya. Cinta Moo-Myeong (Cho Seung-Woo) yang begitu tulus kepada sang ratu Myeong-seong/Ja Yeong (Soo-ae) hingga membuat dadaku serasa tertekan.





Moo-Myeong/Johannes adalah keturunan dinasti Joseon yang bertemu dan jatuh cinta dengan seorang wanita Min Ja Yeong yang akan menjadi Ratu Myseong-seong. Beberapa tahun kemudian, Ja Yeong memasuki istana kerajaan untuk menikahi Gojong. Ja Yeong menyadari bahwa kehadirannya, dengan seluruh kecerdasan dan keberanian yang ia miliki, dianggap sebagai ancaman bagi beberapa orang, khususnya dari sang ayah mertua, Dae Won Kun (Cheon Ho-Jin). Dalam hal ini Dae Won Kun secara nyata lebih berkuasa daripada putranya sendiri yaitu Raja Gojong, dialah yang memegang kekuasaan sesungguhnya di Joseon.



Moo Myeong masih memiliki perasaan untuk Ja Yeong dan dalam upaya untuk lebih dekat dengan Ja Yeong, dia akhirnya memilih menjadi penjaga pribadi.

Karena kecerdasan dan keberanian Ja Yeong/Ratu Myseong-seong, membuatnya berada didalam masalah, apalagi saat itu adalah masa awal-awal modernisasi di Korea. Akhirnya Sang Ratu terlibat dalam perebutan kekuasaan dengan Rusia dan Jepang yang berusaha menjajah Korea. Selanjutnya sang ayah mertua, Dae Won Kun (Cheon Ho-Jin) yang memegang kekuasaan sesungguhnya di Joseon, bekerjasama dengan negara asing yang menyebabkan Ja Yeong harus tunduk kepadanya dan para diplomat asing. Ayah sang Raja kemudian memberikan persetujuan kepada Jepang untuk membunuh Ratu Je Yeong. Moo-Myeong sekarang harus menggagalkan ancaman tersebut untuk melindungi wanita yang dicintainya.









Kisah cinta di film ini yang membuatku begitu tertegun. Cinta Moo-Myeong yang begitu tulus walau dia sadar tak mungkin untuk memiliki Sang Ratu, tapi yang terpenting baginya adalah selalu setia melindungi wanita yang sangat dia cintai.

Pertemuan yang tanpa sengaja telah merubah takdir cinta Ja Yeong, seandainya dia tidak memohon kepada ibunya agar diijinkan pergi ke pantai sendirian sebelum dia menikah dengan Raja Gojong mungkin dia tak akan pernah mengenal bahkan mencintai Moo-Myeong, dan disanalah cinta keduanya bersemi dengan bebasnya sebebas deburan ombak di laut lepas.

Sang Ratu Myseong-seong, digambarkan sebagai seorang wanita yang tegar. Bahkan harus bisa tampil dengan kepala mendongak di depan para musuh-musuhnya yang notabene telah membunuh seluruh keluarganya, termasuk ibunya. Dan Soo-ae sebagai aktris sungguh hebat memerankan tokoh ratu Myseong-seong.









Tapi yang paling membuatku bergetar adalah tokoh Moo-Myeong yang dengan apik diperankan aktor Cho Seung-Woo. Bagaimana tidak, demi cintanya yang jelas-jelas tak mungkin dia miliki dia tetap setia dengan menjadi penjaga pribadi Sang Ratu, walau dengan begitu dia harus melawan orang-orang yang ingin melawan Ratu Myseong-seong. Bahkan dia tak mau pergi, bahkan ketika Sang Ratu menawarkan padanya keselamatan bagi Moo-Myeong sendiri dengan cara mengasingkan Moo-Myeong ke tempat yang tak mungkin ditemukan musuh-musuh sang Ratu. Baginya lebih baik mati melawan musuh-musuh Sang Ratu agar tetap berada di dekat Sang Ratu daripada hidup tanpa arti, hidup dimana orang yang dia cintai dan mencintainya tak mungkin lagi bisa menemukan dirinya. Dan dia dengan gagah berani melawan sendirian pasukan Dae Won Kun.

Satu lagi yang benar-benar membuatku tercekat, adalah adegan dimana Sang Raja Gojong ingin bercinta dengan Sang Ratu, sedang Moo-Myeong harus menjadi penjaga di depan pintu. Kalau saja tidak di bioskop aku bisa bercucuran air mata karena ikut tenggelam dam kecemburuan Moo-Myeong yang tak mungkin bisa dia lampiaskan.

Bagian terakhir dimana Moo-Myeong tetap berdiri tegak melindungi Sang Ratu sampai titik terakhir nyawanya membuatku harus menutup mulut rapat-rapat. Moo-Myeong menusuk kakinya dengan pedang agar dia tetap berdiri tegak menjadi tameng untuk melindungi wanita yang paling dicintainya, dan menerima begitu banyak peluru yang menghujam seluruh tubuhnya.









Mengapa aku begitu suka cerita tragis yang berakhir sad ending????? aku juga kurang begitu paham. Walau banyak orang mencibir cerita sad ending, tapi justru itulah yang membuat cerita-cerita sad ending selalu diingat sepanjang masa. Dan demikian dengan film The Sword With No Name yang berakhir dengan tragis, dimana Sang Ratu juga tewas karena hunusan pedang dari musuh-musuhnya, Sang Ratu meninggal dalam pelukan Moo-Myeong, laki-laki yang sangat dicintainya. Keduanya tewas bersama, tapi cinta mereka akhirnya dapat bersatu. (Lebay dikit ahhhh)



Adegan paling erotis dalam film ini menurutku bukan saat adegan Sang Ratu bercinta dengan paksa dengan Sang Raja (karena dalam benak ratu dia membayangkan dia bercinta dengan Moo-Myeong), tapi ada 3 adegan paling erotis dalam film ini:

1. Adegan dimana Ratu kedinginan dan Moo-Myeong memeluknya sampai pagi.





2. Adegan dimana Ratu digendong Moo-Myeong dan kemudian Ratu menyeka keringat yang membasahi wajah Moo-Myeong.



3. Adegan diakhir cerita saat Sang Ratu sebelum meninggal, dimana dia membayangkan kenangan saat bersama Moo-Myeong. Dimana Ja Yeong kelilipan matanya, dan kemudian Moo-Myeong menolongnya, bukan dengan meniup mata Ja Yeong tapi Moo-Myeong mengusap (lebih tepanya menjilat) mata Ja Yeong dengan lidahnya. (benar-benar erotis)





Ada juga adegan duel/bertarung (walau tak terlalu fokus) menurutku paling bagus waktu duel di tengah danau, cuma yang membuatku terganggu adalah duel saat pesta lampu di depan banyak tamu undangan kerajaan, padahal aku berharap duel yang ini lebih nyata, bukan karena visual efek yang malah terkesan berlebihan. Tapi tak mengurangi kesukaanku terhadap fim ini.









Salah satu adegan yang juga membuatku hampir tersedak (waktu nonton sambil minum) adalah saat Ratu menangis di kamar atas kematian ibunya dan keluarganya, tapi Moo-Myeng hanya mampu terpaku di luar tanpa mampu berbuat apa-apa, walau dalam hati seolah dia ingin mendekap wanita yang dicintainya. (kalau ini sok tau banget)

Ada beberapa kalimat (walau tidak 100% sama) yang tersimpan di otakku, pertama adalah saat Ja Yeong yang baru menjadi Ratu berkata kepada ayah mertuanya "Bagaimana anda bisa disebut orang yang bijaksana jika anda sebenarnya tidak bisa bersikap bijaksana". Menurutku kalimat yang bisa menohok telak siapa saja yang bertinkah pongah.





Selain itu kata-kata Moo-Myeong "Untuk apa aku hidup jika kamu (orang yang dicintai dan mencintainya) tak mungkin dapat lagi menemukan keberadaanku lagi" atau saat detik-detik terakhir. "Jika anda (kepada Sang Ratu) tidak mau pergi menyelamatkan diri bersamaku, biarkan aku tetap disini menemanimu sampai aku mati"


Dan adegan yang menurutku terlalu mengganggu di hati. Membuatku ikut larut dalam rasa cemburu Moo-Myeong........

Tidak ada komentar:

Posting Komentar