..............berpendarlah dengan cahaya yang berkilau laksana kunang-kunang di malam yang gelap....... tak perlu ragu karena dari mana asalmu, karena kilau emas sekalipun berasal dari kubangan lumpur juga......................

Selasa, 05 Juli 2011

Utukki : Sayap Para Dewa


I am one wing and you are equally the other

Suatu rekor tersendiri bisa baca buku setebal 408 halaman dalam waktu seminggu padahal aku tipikal orang yang lambat dalam membaca.

Hal-hal yang berbau mitos dari dulu sangat aku sukai, maka saat membaca sinopsis buku Utukki : Sayap Para Dewa, bayanganku tentang negeri para dewa-dewi sudah lebih dahulu melanglang buana. Tapi yang menjadi menarik dari buka karya Clara Ng ini bukan mengangkat mitos dewa-dewi Yunani atau Romawi yang sudah sering kita temui, tapi ini tentang dewa-dewi dalam kehidupan masyarakat Mesopotamia Kuno yang hidup 5.000 tahun sebelum Masehi.

Yang perlu ditekankan sebelum membaca buku ini adalah buku ini bukan bertema tentang sejarah atau mitos, bukan juga bertema religi, buku ini hanya bertemakan cinta.... dan hanya cinta dengan mitos sebagai latar belakangnya.

Kisah bermula 5.000 tahun sebelum masehi di tanah Mesopotamia yang subur. Cinta terlarang muncul dari seorang Enka, pendeta muda yang saling jatuh cinta dengan Nannia, utukki ke delapan yang wujudnya tidak seperti monster-monster utukki yang lain. Nannia sendiri adalah putri bungsu dari Dewa Anu (Dewa langit) dan Dewi Antu (Dewi Bumi). Tapi kisah cinta mereka menjadi lebih sulit ketika Dewi Ishtar (Dewi cinta dan perang) ternyata juga mencintai Enka dan dia rela menjadi manusia untuk mendapatkan cinta Enka, tapi cinta Enka hanya untuk Nannia.

Dewa Anu dan Dewi Antu pun marah dengan adanya kisah percintaan seperti ini. Dan perjanjian-perjanjian takdir tak dapat terelakkan, Dewa Anu menuliskan takdir untuk Enka, Nannia dan Dewi Ishtar. Jika Cinta antara Enka dan Nannia terus abadi bahkan sampai 7.000 tahun sesudahnya maka mereka akan mengakui kisah cinta mereka, namun jika tidak maka Dewi Ishtar yang akan memiliki jiwa Enka

Setelah 7.000 tahun berlalu, Thomas dan Celia sebagai titisan Nannia dan Enka harus menggenapi takdir kisah cinta mereka. Apakah cinta mereka akan terus abadi??? Di tengah kesulitan-kesulitan yang menghadang mereka (dari Dewi Ishtar, Dewi Antu dan ke-7 monster Utukki yang lain), Apakah cinta mereka layak untuk mendapatkan pengorbanan bahkan dengan mengorbankan nyawa sekalipun???

Kisah ini sebenarnya ingin mengajarkan kepada kita memahami apa arti sejatinya cinta, cinta bukanlah membelenggu tapi cinta sejati adalah membebaskan. Bahwa cinta mampu membuat hati yang keras menjadi lumer, membuat jiwa yang lemah menjadi kuat dan membuat siapapun rela berkorban.

Selain itu, manusia memang tak mungkin bisa merubah masa lalu untuk merubah suratan takdir yang telah digariskan, tapi setidaknya manusia bisa meraih akhir yang berbeda yang lebih indah karena kekuatan cinta.

Buku ini cukup lumayan unik, dengan plot yang seperti puing-puing berserakan yang seakan memaksa kita untuk terus membaca untuk mengetahui jawaban akan pertanyaan-pertanyaan yang muncul dibenak pembaca saat membaca penggalan-penggalan cerita sebelumnya. Seperti pertanyaan yang muncul di awal cerita kenapa bisa Dewi Ishtar bisa mencintai Celia??? Apakah Dewi ini lesbian, tapi setelah beberapa waktu baru kita menyadari bahwa Celia adalah titisan Enka bukan titisan Nannia, sedang Thomas adalah titisan Nannia. Walau plot ceritanya maju mundur bagiku tidak menjadi soal karena penulis mampu membuat loncatan-loncatan yang halus dan wajar saat harus berpindah-pindah dari plot satu ke plot yang lain.

Selain itu gaya bahasanya juga tidak terlalu kaku, apalagi saat kemunculan Dewa Marduk yang sedikit slengekan tapi terkesan gokil. Untuk ukuran karya penulis lokal, aku acungin jempol untuk Clara Ng karena punya imajinasi yang begitu kuat. ^_^

............Cinta adalah kekuatan manusia dan indera kedelapan manusia adalah Cinta.........

Tidak ada komentar:

Posting Komentar