..............berpendarlah dengan cahaya yang berkilau laksana kunang-kunang di malam yang gelap....... tak perlu ragu karena dari mana asalmu, karena kilau emas sekalipun berasal dari kubangan lumpur juga......................

Selasa, 24 Mei 2011

Shin Suikoden 1



Sudah sejak dulu saya ingin sekali membaca buku karya Eiji Yoshikawa, seperti Taiko atau Musashi, tapi mungkin karena belum berjodoh angan-angan itu serasa hampir begitu saja menguap, sampai sekitar sebulan yang lalu saat saya nyasar di Toko Buku Gramedia. Di depan langsung disambut oleh jajaran buku-buku yang bercover warna biru. Setelah saya mendekati, saya langsung tertarik dengan desain covernya, yang lebih membuat saya tertarik adalah nama pengarang yang tertulis, yaitu Eiji Yoshikawa yang begitu melegenda. Buku tersebut berjudul SHIN SUIKODEN (kisah klasik batas air) dan tanpa pikir panjang langsung saya bawa buku tersebut ke kasir.

Hampir sebulan buku tersebut terlantar di laci lemari saya (karena saya masih sibuk dengan urusan lain), hingga beberapa hari yang lalu buku tersebut baru bisa saya sentuh. Dan surprise banget baca buku tersebut (walau awalnya masih agak bingung dengan alur ceritanya). Baru kali ini buku setebal 486 halaman bisa saya baca dalam kurun waktu kurang dari satu minggu, atau tepatnya selesai baca selama 4 hari (padahal saya termasuk tukang baca yang lamban).

Buku ini berkisah tentang 108 bintang (108 Bandit Budiman Ryou Zan Paku) yang bersatu hendak menggulingkan pemerintahan Kaisar Ki Sou (Dinasti Sou, Cina) yang dipenuhi oleh pejabat-pejabat yang korup, sedang sang Kaisar seolah tidak peduli dengan penderitaan rakyatnya. Di buku pertamanya yang diterjemahkan langsung dari bahasa Jepang ini kita baru akan diajak mengenal beberapa tokoh yang kelak akan bertemu untuk satu tujuan tertentu. Mereka antara lain Shi Shin, pemuda dengan rajah sembilan naga di tubuhnya, ahli tongkat yang meski mudah emosi, namun sangat menghargai pertalian antarlelaki sejati. Ro Chi Shin si Pendeta Bunga, mantan polisi militer dengan tubuh dan sikap bagaikan raksasa kasar, namun berhati lembut laksana bunga musim semi yang dirajah indah menakjubkan di punggungnya. Cendekiawan Go, guru kuil di desa yang tersohor ketajaman akal dan kepiawaiannya dalam membuat strategi. Kemudian ada tokoh-tokoh lain diantaranya Rin Chu si Kepala Macan Kumbang, yang harus menjadi korban kejahatan para pejabat yang sewenang-wenang. You Shi si Iblis Berwajah Biru, Chou Gai (raja langit pemikul batu momentum), Kou Son Shou, Gen 3 Bersaudara, Ryu Tou dan lain-lain.

Di buku pertama ini awalnya seperti tak memiliki alur cerita yang jelas (saya juga sedikit bingung) karena masing-masing bab menceritakan latar belakang dan sepak terjang tokoh-tokoh utamanya yang masing-masing memiliki kisahnya sendiri. Barulah di bagian-bagian akhir kisahnya akan semakin fokus ke kisah perampokan iring-iringan hadiah ulang tahun dari seorang pejabat yang hendak diberikan kepada ayah mertuanya yang tak lain adalah Menteri Sai, salah satu pejabat yang korup.

Karena banyaknya tokoh dan nama yang diceritakan di buku ini saya kadang bingung sendiri. Mungkin karena saya tidak terbiasa membaca buku bertema seperti ini sehingga terkadang nama dan tokohnya sering tertukar-tukar atau sering lupa bahwa tokoh yang sedang diceritakan di bagian tertentu itu sama dengan yang dikisahkan di bagian sebelumnya.

Pengisahan tokoh-tokohnya memang menarik namun di paruh pertama novel ini karena masih belum jelas mau kemana sebenarnya kisahnya akan bergulir hal ini membuat saya sedikit bosan. Untungnya di bagian-bagian akhir tokoh-tokohnya bertemu satu sama lain dan bekerjasama untuk melakukan sebuah tindakan mulia (perampokan iring-iringan hadiah ulang tahun pejabat), hanya sayangnya ketika sedang seru-serunya kisahnya harus berhenti karena baru bisa dilanjutkan di jilid ke 2 nya.

Sepertinya di jilid-jilid selanjutnya kisah Shin Suikoden ini akan semakin menarik karena selain kisahnya yang telah semakin fokus dan kemahiran penulisnya dalam merangkai cerita yang seru dan memikat, tentunya jalan hidup dari para pendekar dalam kisah ini akan semakin banyak memberikan pesan moral yang baik bagi pembacanya baik itu dalam hal kesetiakawanan, kepahlawanan, dan komitmen serta semangat juang mereka dalam memperbaiki kesejahteraan rakyat yang telah direnggut oleh pemerintahan yang korup untuk memperkaya dirinya.

Satu kesan saya, akan sangat rugi membiarkan buku seperti ini teronggok begitu saja di etalase-etalase toko buku, dan makin penasaran dengan karya-karya Eiji yang lain. ^_^

Senin, 23 Mei 2011

perlukah setetes darah yang sama untuk disebut saudara???



.....dadi wong ojo ijir (terlalu perhitungan).....

Kata-kata itu selalu terngiang dalam kupingku mulai dari aku kecil hingga beranjak dewasa. Itu adalah kata-kata yang sering dilontarkan olah ibuku, entah itu siang, malam bahkan entah hujan maupun badai (kumat lebay-nya ^_^).

Dulu sewaktu saya masih kecil, setiap kali selesai makan kakak-kakakku sering diam-diam tidak mau mencuci sendiri piring yang baru mereka pakai untuk makan. Aku yang selalu terakhir selesai makan dan selalu saja aku yang harus mencuci piring bekas yang dipakai kakak-kakakku. Dan suatu ketika dengan sangat jengkelnya, aku tidak mau mencuci piring yang bekas mereka pakai, aku hanya mencuci piring yang bekas aku pakai saja. Saat ibuku tahu hal itu, maka dia bertanya, "nyapo ora di isahi kabeh?" (kenapa tidak dicuci semua?). Aku hanya diam karena jengkel.

Setelah itu ibuku kembali berkata, "dadi wong ojo ijir, opo maneh karo sedulure dewe." (jadi orang jangan terlalu perhitungan, apalagi terhadap saudara sendiri). Terus kemudian ibuku menyuruhku duduk, dan dia mulai memberikan wejangan yang padahal waktu itu tidak terlalu aku gubris, tapi tanpa sadar hal tersebut telah terpatri dalam hati dan pikiranku juga telah menjadi ciri pribadiku seperti sekarang.

Kita tak pernah tahu dengan siapa kita hidup. Tidak selamanya kita hidup bersama orang tua dan saudara-saudara kandung yang akan selalu memahami kita. Untuk itulah kita harus banyak-banyak bertoleransi (tepo seliro). Bersikap baiklah kepada orang-orang yang hidup di sekelilingmu, karena mereka bisa menjadi saudara-saudara yang sesungguhnya walau tanpa ikatan darah, tergantung caramu memperlakukan mereka seperti apa. Jangan terlalu bersikap perhitungan jika kamu ingin mereka menyayangimu selayaknya saudara. Tidak semua yang ada di dunia ini bisa dihitung seperti hitungan ilmu aljabar (nama ilmu matematika saat ibuku masih kecil), walau kamu boleh selalu bersikap waspada. Tidak apalah kita sedikit merugi jika nantinya kita akan untung mendapatkan saudara yang bisa saling membantu (tuna sathak, bathi sanak). Jangan merasa tidak membutuhkan orang lain, setidaknya saat matipun kita membutuhkan bantuan orang lain untuk mengurus jasad kita.

Jujur, pada saat itu aku tidak begitu paham dengan apa yang dibicarakan ibuku. Tapi seiring berjalannya waktu, aku mulai paham dengan sikap dan contoh dari ibuku. Kadang aku bertanya 'kenapa begitu banyak orang yang menyayangi ibuku? begitu hormat kepada ibuku, bahkan anak-anak kecil di sekitar rumahku sangat menyukai ibuku, walau ibuku sendiri terkesan galak'.

Tak perlu hubungan darah untuk bisa disebut sauradara, mungkin itu prinsip ibuku. Setelah aku mulai besar begitu banyak kenyataan yang sangat membuatku terkejut. Banyak orang yang dari dulu kupanggil nenek, kakek, mbak, mas, bulik, paklik, budhe, pakdhe dan lain-lain ternyata mereka tidaklah ada hubungan darah dengan ibuku. Mereka adalah orang-orang yang sudah dianggap saudara oleh ibuku sendiri, bahkan sampai sekarang hubungan tersebut juga masih terjaga dengan sangat baiknya.

Ibuku (lahir di jember, jawa timur) dari kecil sudah tidak tinggal bersama orang tua kandungnya, dia dijadikan anak angkat oleh sepasang suami istri (salah satu kakek dan nenekku yang sekarang tinggal di blitar). Setelah menikah dengan bapakku (lahir di lumajang, jawa timur), orang tuaku tinggal di tulungagung (jawa timur), padahal disana tak ada sedikitpun sanak keluarga. Disanalah aku lahir dan disanalah ibuku menemukan saudara-saudaranya. Bahkan karena saking eratnya hubungan tersebut, sesaat setelah bapakku meninggal, ibuku tidak pernah berniat meninggalkan tulungagung walau tak ada sedikitpun saudara disana. Walaupun banyak saudara yang menyarankan untuk kembali ke jember. Kini aku sadar bahwa itulah kehebatan ibuku, dia bisa membuat orang-orang yang disekitarnya begitu menyayangi dan menghormatinya dengan selalu berbuat baik kepada orang lain, tapi tanpa harus menjadi pribadi yang penuh kepura-puraan.

Dan kini aku selalu berusaha untuk mencontohnya, (walau pernah gagal). Aku selalu berusaha menjadi saudara yang baik bagi sahabat-sahabatku, karena merekalah yang begitu mengerti tentangku, merekalah saudara-saudaraku. Aku selalu merindukan kebersamaan kita, walau sekarang terpisah sebisa mungkin jalinan silahturahmi tetap terjaga.

Walau pernah ada marah, pernah ada dusta, pernah ada benci, pernah ada air mata, pernah ada intrik, tapi aku selalu berharap selalu tersimpan senyum di hati kalian para sahabatku, sekaligus saudaraku. ^_^

Selasa, 17 Mei 2011

Saya dan Batik



Bagi siapapun yang pernah membaca cerpen saya berjudul "Truntum" pasti akan mengira bahwa saya adalah pecinta Batik. Mungkin tidak salah jika dibilang begitu, karena dari kecil sampai sekarang saya tak pernah lepas dari batik walaupun secara nyata saya bukan kolektor batik.

Saya mencintai batik bukan hanya semata-mata karena itu adalah warisan budaya atau terlebih karena kontroversinya yang sempat membuat dunia sedikit geger, tapi saya melihatnya sebagai suatu nilai seni yang mengagumkan.

Saya terlahir dari seorang ayah yang mana beliau adalah salah satu pegawai pegadaian. Saat masih TK, saya sering bermain di kantor ayah saya karena sekolah saya bersebelahan dengan kantor ayah saya. Setiap pulang sekolah saya sering melihat begitu banyak orang di kantor ayah saya. Yang menjadi perhatian saya adalah banyak wanita-wanita yang membawa gulungan kain. Setelah aku tanya ke teman ayahku, untuk apa gulungan kain itu? ternyata gulungan kain itu untuk digadaikan (dijadikan jaminan untuk pinjaman uang tunai). dan gulungan kain itulah yang di sebut orang dengan nama BATIK.



Dari situlah saya mengenal batik, yang sewaktu saya masih kecil kain batik selain sebagai pakaian juga sebagai bentuk investasi bagi perempuan di desa saya. Karena ketertarikan saya, maka saya pun sering pulang sekolah mampir dulu ke kantor ayahku, saya begitu takjub ketika diajak oleh teman ayah saya ke gudang penyimpanan kain batik yang dijaminkan di pegadaian tempat ayahku bekerja.



Aku juga sering mengamati ayahku yang menaksir harga batik tersebut, mulai dari teknik pembuatannya (tulis, cap dan tulis, atau cap saja) selain itu ditaksir juga dari motifnya.

Menurutku batik itu indah, indah menurut motifnya, indah menurut pembuatannya yang butuh keuletan, ketrampilan dan kesabaran yang luar biasa, dan indah karena dinilai dari hati.



Sewaktu saya kelas 2 SMP, saya iseng ikut tetangga saya yang berprofesi sebagai 'tukang batik' (pembuat batik), namanya mbokde Muji. Dari situlah saya makin mencintai batik, saya benar-benar belajar membatik, menuangkan malam (sejenis lilin) ke dalam selembar kain mori dengan alat yang di sebut canting. Seperti mimpi rasanya.



Rasanya seperti ada kenikmatan tersendiri dalam membatik, kita diberikan kebebasan berkreasi sebebas-bebasnya namun harus tetap pada jalur atau pakemnya. Padahal saya kira dulu motif batik adalah pakem yang tak boleh diganggu gugat, tapi ternyata tidak. Hanya motif dasarnya saja yang memang senada tapi ornamen-ornamen tiap detailnya boleh kita kreasikan sesuai dengan imajinasi kita.



Semula batik dibuat di atas bahan dengan warna putih yang terbuat dari kapas yang dinamakan kain mori. Dewasa ini batik juga dibuat di atas bahan lain seperti sutera, poliester, rayon dan bahan sintetis lainnya. Motif batik dibentuk dengan cairan lilin yang lebih sering disebut malam mungkin karena warnanya yang gelap, dengan menggunakan alat yang dinamakan canting (memiliki berbagai ukuran yang berbeda) untuk motif halus, atau kuas untuk motif berukuran besar, sehingga cairan lilin meresap ke dalam serat kain. Kain yang telah dilukis dengan lilin kemudian dicelup dengan warna yang diinginkan, biasanya dimulai dari warna-warna muda. Pencelupan kemudian dilakukan untuk motif lain dengan warna lebih tua atau gelap. Setelah beberapa kali proses pewarnaan, kain yang telah dibatik dicelupkan ke dalam bahan kimia untuk melarutkan lilin. Untuk warnanya sendiri sebenarnya juga dipakai sistem pewarnaan yang tumpang tindih.



Ragam corak dan warna Batik dipengaruhi oleh berbagai pengaruh asing. Awalnya, batik memiliki ragam corak dan warna yang terbatas, dan beberapa corak hanya boleh dipakai oleh kalangan tertentu (seperti motif parang dan kawung). Namun batik pesisir (contohnya batik madura dan cirebon)menyerap berbagai pengaruh luar, seperti para pedagang asing dan juga pada akhirnya, para penjajah. Warna-warna cerah seperti merah dipopulerkan oleh Tionghoa, yang juga memopulerkan corak phoenix. Bangsa penjajah Eropa juga mengambil minat kepada batik, dan hasilnya adalah corak bebungaan yang sebelumnya tidak dikenal (seperti bunga tulip) dan juga benda-benda yang dibawa oleh penjajah (gedung atau kereta kuda), termasuk juga warna-warna kesukaan mereka seperti warna biru. Batik tradisonal tetap mempertahankan coraknya, dan masih dipakai dalam upacara-upacara adat, karena biasanya masing-masing corak memiliki perlambangan masing-masing.



Batik adalah kerajinan yang memiliki nilai seni tinggi dan telah menjadi bagian dari budaya Indonesia (khususnya Jawa dan Bali) sejak lama. Perempuan-perempuan Jawa di masa lampau menjadikan keterampilan mereka dalam membatik sebagai mata pencaharian, sehingga di masa lalu pekerjaan membatik adalah pekerjaan eksklusif perempuan, tapi menurut saya membatik bukan hanya bisa dilakukan oleh perempuan. Saya tertarik dengan membatik karena mengajarkan saya sebuah kesabaran, begitu tenang dan damai, batik tak mungkin indah jika dikerjakan dengan asal-asalan dan terburu-buru. Batik adalah ekspresi diri (seperti kisah pembuatan batik motif truntum), maka untuk itulah kenapa batik tulis terkenal paling mahal, karena tiap lembarnya adalah ekspresi diri dan tak ada yang mampu menduplikasikannya dengan sempurna dan sama persis.



Tradisi membatik pada mulanya merupakan tradisi yang turun temurun, sehingga kadang kala suatu motif dapat dikenali berasal dari batik keluarga tertentu. Beberapa motif batik dapat menunjukkan status seseorang. Bahkan sampai saat ini, beberapa motif batik tadisional hanya dipakai oleh keluarga keraton Yogyakarta dan Surakarta. Selain itu membatik bisa menunjukkan karakter tiap-tiap orang, jika dua orang dengan karakter yang berbeda membatik dengan motif yang sama persis, maka bisa dipastikan hasilnya beda, pasti ada guratan-guratan yang menjadi ciri dari tiap-tiap orang.



Untuk motif batik secara umum saya sendiri kurang begitu faham, hanya beberapa motif yang saya tahu seperti parang rusak, lereng, kawung, mega mendung, sida mukti, truntum dan sekar jagad. Sedang untuk ciri khas motif batik dari daerah-daerah tertentu saya juga kurang tahu, hanya batik mega mendung yang saya tahu benar-benar khas dari Cirebon, sedang untuk batik madura yang saya tahu adalah penggunaan warna-warna yang tegas (merah, biru, hijau dan kuning) serta banyaknya tarikan garis dalam satu motif batik. Untuk warna utama dari batik adalah sogan (coklat), biru, dan hitam. Warna sogan berasal dari hasil rebusan kulit batang pohon mahoni, warna biru dihasilkan dari tanaman indigo atau dikenal sebagai daun tom/tarum. Sedang warna hitam adalah perpaduan warna sogan dan biru. Efek terang dan gelapnya pada kain Batik dihasilkan melalui lamanya perendaman kain sendiri. Selain itu ada juga warna-warna alami lain untuk warna merah (buah pinang), hijau muda (Daun mangga), bahkan, kotoran sapi sekalipun bisa dia manfaatkan untuk mendapat warna kuning emas. Tapi sekarang sangatlah sulit mendapatkan kain batik dengan pewarna alami, jika adapun mungkin sangatlah mahal harganya. Dan biasanya kain batik dengan pewarna alami malah terkesan kusam namun lembut.



Selain itu dalam membatik juga dikenal beberapa hiasan ornamen yang mengisi keseluruhan motif batik, seperti padas gempal, beras wutah, kembang jeruk dan lain-lain.

Jika dulu motif-motif tertentu hanya boleh digunakan oleh keluraga keraton (parang dan kawung) maka sekarang sudah tidak berlaku lagi, tapi penggunaan batik motif-motif tertentu untuk acara-acara tertentu masih banyak dianut di masyarakat, seperti larangan pasangan pengantin menggunakan motif parang rusak untuk prosesi pernikahan.



Untuk itu saya merasa bangga sekali menyadari bahwa saya pernah belajar membuat kain batik. Bahkan saya bangga dengan sosok seperti OBIN (Josephin Komara) sang Tukang Kain (memang dia tidak mau disebut sebagai designer), yang mana adalah pecinta kain-kain tradisional indonesia, terutama batik. Batik buatannya bisa seharga 8 digit nominal rupiah, tapi beliau selalu tampil sederhana dengan balutan batik dimanapun dia berada. Batik mengajarkan begitu banyak makna salah satunya kesederhanaan.

Marilah kita cintai batik bukan hanya karena warisan budaya tapi kita jadikan sebagai identitas kita. Identitas bangsa kita. Jika bukan kita siapa lagi?

Senin, 16 Mei 2011

Memoirs of a Geisha




“Aku tak bisa mengatakan kepadamu apa yang memandu kita dalam hidup ini; tetapi bagiku, aku jatuh kepada Ketua sama seperti batu yang jatuh ke tanah. Ketika bibirku luka dan aku bertemu Tuan Tanaka, ketika ibuku meninggal dan aku dengan kejam dijual, itu sama seperti aliran air yang jatuh di atas karang-karang tajam sebelum air itu bisa mencapai samudera. Bahkan setelah dia pergi, aku masih memilikinya, dalam kenanganku yang indah.”

Dulu aku sempat mengira bahwa geisha adalah tidak lebih dari ajang sebuah prostitusi, tapi pikiranku berubah setelah membaca buku "Memoirs of a Geisha" karya Arthur Golden. Buku ini dulu aku beli tidak sengaja, waktu itu sekitar tahun 2004, saat itu aku pergi ke Malang (ke rumah paman) dan aku sempatkan mampir ke Toko Buku Gramedia di sekitar alun-alun kota Malang. Karena waktu udah malam, maka aku tak punya banyak waktu untuk memilih, dan entah kenapa aku mengambil buku ini.

Setelah aku membacanya, aku merasa tak menyesal membeli buku ini. Buku yang begitu indah. Buku yang di tulis oleh orang yang bukan asli dari Jepang tapi sangat mendetail menggambarkan seluk beluk kehidupan Geisha. Selain ceritanya yang memang bagus, latar belakang kehidupan Geisha di Jepang sangatlah membuatku kagum. Membuka mataku, bahwa mereka ternyata adalah para seniman yang hebat. Mereka adalah sosok wanita-wanita anggun dan terhormat dengan cara mereka sendiri.

Bercerita tentang seorang Geisha yang terkenal saat itu. Orang-orang hanya tahu dia adalah “Nitta Sayuri”, seorang geisha muda cerdas dari gistrik Gion yang terkenal. Dengan tutur katanya ia menghibur para lelaki. Dengan lentur tarian dan suara merdunya ia menarik perhatian semua orang. Menjadi geisha memang bukan keinginannya. Tapi setelah bertemu ketua di tepian Sungai Shirakawa, ia pun menemukan jalan hidupnya.



Sayuri bernama asli Sakamoto Chiyo, saat berumur 9 tahun anak nelayan miskin yang tinggal di gubuk reot di Yoroido ini harus 'dijual' oleh orang tuanya sendiri ke sebuah rumah Geisha (okiya) bersama kakak perempuannya, Satsu. Mereka di jual ke sebuah okiya yang terkenal bernama okiya Nitta di Gion. Sayang, Satsu tidak memenuhi syarat sebagai seorang geisha sehingga malah dipekerjakan di sebuah tempat pelacuran. Chiyo cukup menderita dalam menjalani kehidupan di okiya karena seorang geisha lain yang lebih senior yang bernama Hatsumomo yang iri dengan kecantikannya (Chiyo terkenal memiliki mata yg indah bagai air). Hatsumomo melakukan berbagai cara agar Chiyo hanya dijadikan sebagai pelayan seumur hidup. Ia pun memaksa Chiyo untuk mencorat-coret kimono milik Mameha, seorang Geisha terkenal yang menjadi saingan Hatsumomo.

Chiyo dan kakaknya. merencakan sebuah pelarian yang tak berujung mulus. Sang kakak berhasil kabur. Tapi Chiyo kecil harus jatuh dari atas atap dan mengalami patah tangan. Hancur sudah masa depannya. Nyonya Nitta, sang pemilik rumah geisha, tentu tak ingin menginvestasikan pendidikan pada Chiyo. Sementara itu, Chiyo takkan pernah bisa pulang. Tak ada siapa pun tersisa di sana. Hanya bau laut Yoroido dan papan arwah orang tuanya yang tersisa dari masa lalu.








Di saat dunianya hancur, Chiyo hanya bisa duduk dan menangis di tepian sungai Shirakawa. Tapi keajaiban datang saat tanpa sengaja, Chiyo bertemu dengan Ketua Ken Iwamura, seorang laki-laki pengusaha yang sangat baik, yang kebetulan lewat dan berhenti untuk bicara padanya. Benar-benar bicara dan mengusap air matanya. Ketika itulah, Chiyo kecil jatuh cinta. Untuk pertama dan terakhir kalinya. Sejak saat itu Chiyo bertekad menjadi seorang Geisha yang hebat agar bisa bertemu Ketua lagi. Tekad Chiyo makin bangkit saat Mameha yang terkenal meminta kepada pemimpin okiya Nitta agar Chiyo menjadi adik angkatnya sekaligus anak didiknya dengan berbagai pertaruhan.

Dibawah didikan Mameha, Chiyo berubah menjadi seorang calon Geisha (maiko) yang hebat bahkan lebih hebat daripada Hatsumomo, dan nama Chiyo diubah menjadi Sayuri setelah debutnya sebagai Geisha. Tapi tak cukup sampai di situ tekad Chiyo/Sayuri untuk bisa bersama Ketua yang begitu dia cintai harus menuai berbagai konflik. Konflik muncul dari Hatsumomo dan Labu (teman masa kecil Chiyo di okiya), selain itu ada Nobu, sahabat karib ketua yang sangat menyukai Sayuri, juga Baron, Dana (sebutan 'suami' bagi Geisha) dari Mameha, juga ada dokter 'Kepiting' yang bisa di sebut sebagai koletor Mizuage(ritual hilangnya keperawanan maiko/calon Geisha).





Semua diceritakan oleh sang penulis dengan begitu liar (di atas lancar.... hehehe), menggambarkan semua yang ada di buku ini dengan detail, bagaimana seorang Maiko (calon Geisha) harus belajar sungguh-sungguh menjadi Geisha. Mulai dari menari tarian tradisional (tachikata), bernyanyi (jikata), memainkan shamisen (kecapi khas jepang), mengenakan kimono dan menggunakan make up yang begitu 'menyiksa', mengerti tata cara seremonial minum teh secara formal, bahkan cara menuang teh sesensual mungkin.

Sebagaimana juga penulis menggambarkan keidahan-kendahan kimono dengan begitu detail, penulis juga menggambarkan kecantikan mata Chiyo dengan begitu mendalam, bagaimana perbedaan make-up maiko dengan Geisha, bagaimana cara tampil sensual tampa harus vulgar, bahkan penulis menggambarkan prosesi Mizuage dengan begitu detail.

Saat membaca buku ini seolah saya ikut larut ke dalam cerita, seolah mereka begitu hidup di sekitar saya. Buku yang tidak hanya berkutat dengan cerita cinta, tapi merupakan perpaduan cerita cinta, seni, budaya, tradisi, harapan, tekad, cita-cita, persaingan, sensualitas, kecantikan dan materi.

Dan sangat pantas jika akhirnya buku ini di angkat ke layar lebar yang diproduksi oleh Amblin Entertainment milik Steven Spielberg dan disutradarai oleh Rob Marshall. Film ini juga telah memenangkan 3 dari 6 nominasi dalam ajang Academy Awards.




Saat melihat film ini aku begitu tercengang, begitu menajubkan, hampir sempurna menurutku, sempurna sesuai dengan bayanganku. Sang sutradara sangat bijak memilih adegan mana-mana saja yang memang layak di tonjolkan dan mana yang hanya dapat porsi sedikit atau bahkan dihilangkan sama sekali. Bahkan tidak meninggalkan detail yang digambarkan di bukunya, lihat saja motif kimono milik Mameha yang dirusak oleh Chiyo atas suruhan Hatsumomo, sama seperti gambaran di buku yang berupa motif sulur-sulur pohon bambu. Begitu juga gambaran gubuk reot di tepi pantai tempat Chiyo tinggal semasa kecil. Bagaimana juga detail cara make-up maiko yang lebih mencolok dibandingkan para Geisha senior. Juga prosesi menyakitkan saat rambut seorang maiko harus di bentuk menggunakan bahan sejenis lilin. Begitu juga saat Sayuri harus mencelupkan tangannya kedalam es sebelum belajar memainkan shamisen. Bahkan poster film-nya begitu menonjolkan keindahan mata Sayuri. Selain itu semua, adegan yang paling aku suka adalah ketika Sayuri mempraktekkan teknik 'senyuman dan lirikan maut' ala Mameha yang mampu membuat laki-laki terpesona sampai tersungkur. Selain itu pemerannya sungguh pilihan yang tepat, Zhang Ziyi begitu hebat menggambarkan sosok Sayuri, Gong Li sangat lihai menggambarkan sosok Hatsumomo yang cantik sekaligus berbahaya (jahat), Mameha yang anggun dan berwibawa sangat ciamik dibawakan oleh aktris sekaliber Michelle Yeoh, dan Ken Watanabe yang begitu mempesona sebagai sosok ketua, dan tak lupa adalah sosok Suzuka Ohgo yang begitu pandai memerankan tokoh Sayuri kecil/Chiyo.

Dan tak salah jika film ini memenangkan penghargaan dalam ajang Academy Awards, antara lain, Cinematography : Dion Beebe, Art Direction : John Myhre (Art Direction); Gretchen Rau (Set Decoration) dan Costume Design : Colleen Atwood. Selain itu mendapatkan penghargaan dari saya sendiri, dengan menontonnya lebih dari 3 kali...... ^_^


Minggu, 15 Mei 2011

AYAH (sebuah cerpen)



Andy

Dua bulan setelah kepergian istriku untuk selama-lamanya, aku harus dihadapkan dalam situasi yang serba sulit. Mantan suami istriku meminta hak asuh atas putra mereka. Sebenarnya dalam hati aku ingin sekali menolaknya. Aku telah merawat anak ini selama hampir tujuh tahun terakhir. Bahkan dalam benakku saja tak pernah terbersit sedikitpun untuk membedakannya hanya karena dia bukan anak kandungku, dia telah mengisi begitu banyak rasa dalam hidupku. Ingin sekali kukatakan kepada mantan suami istriku ‘dia putraku dan kamu tidak berhak mengambilnya dariku,’ tapi apa daya ikatan darah mungkin dianggap lebih kental daripada ikatan rasa, hingga membuat kata-kata itu hanya terngiang dan berputar-putar dalam pikiranku saja.

Lebih sulit lagi ketika aku harus memberikan pengertian kepada Dika, putraku. Dia tampak cemberut dan marah. Mungkin dia merasakan hal yang sama denganku. Tiba-tiba dimatanya aku seolah menjadi sesosok ayah yang jahat terhadap anaknya sendiri.

Begitu menyakitkan ketika tuduhan itu tertancap di hatiku. Bahkan tatapan matanya menuduhku seolah aku ingin membuangnya dari kehidupanku. Aku begitu mencintai istriku, sekaligus aku mencintai putra dari istriku. Walau dia bukan putra kandungku tapi kasih sayangku tak pernah kurang selayaknya kasih sayangku kepada putra kandungku sendiri.

“Apakah ayah membenciku?” tanya dia saat aku membantu mengemasi barang-barangnya. Hatiku begitu miris mendengar pertanyaan tersebut.

“Bagaimana mungkin kamu bisa mengira kalau ayah membencimu?” tanyaku perlahan.

“Tapi kenapa ayah menyuruhku tinggal dengan orang yang tidak pernah aku kenal?” tanyanya dengan lugu, sekilas kulihat matanya berkaca-kaca dan aku tak mau menatap mata itu karena aku takut benteng pertahanku akan hancur seketika.

“Dia ayah kandungmu,” jelasku dengan intonasi yang kubuat selembut yang aku bisa.

Sekejap hening dan kulirik dia sedang mengusap matanya yang sembab dengan kedua belah telapak tangannya. Kemudian kami diam melanjutkan kesibukan kami mengemasi barang-barang miliknya.

“Seandainya ibu masih ada atau mungkin seandainya bisa, aku akan memilih untuk ikut ibu,” gumamnya lirih dengan suara sedikit serak.

&&&&&

Dika

Aku tumbuh seperti layaknya anak-anak lain sebayaku, tapi aku merasakan ada yang beda dengan diriku. Orang yang lebih dewasa disekitarku menganggap diriku punya pikiran lebih dewasa dari umurku. Selain itu, aku masih ingat bahwa sampai umurku belum genap empat tahun, aku tak pernah mengenal kata ‘ayah’ apalagi untuk memanggil seseorang dengan sebutan itu. Aku iri saat teman-temanku berbicara tentang ayahnya yang hebat, acara liburan dengan ayahnya yang menyenangkan, sedang aku tak pernah merasakannya. Aku sering bertanya kepada ibuku tapi dia selalu menjawab, “nanti kalau kamu sudah besar kamu akan tahu.” Untuk itulah aku sering mencoba memahami pola pikir orang dewasa, mendengarkan dengan cermat apa saja yang mereka bicarakan dan mereka lakukan, aku hanya ingin cepat besar dan aku ingin tahu kenapa aku tak bisa memanggil seseorang dengan sebutan ‘ayah’.

Saat ulang tahunku ke-4, ada seseorang yang tak aku kenal datang dengan senyuman hangat. Memberikan sebuah kado dengan wajah tersenyum kepadaku. Entah kenapa aku mengira aku bisa memanggilnya dengan sebutan ‘ayah’, tapi ternyata tak seperti yang kubayangkan karena ibu menyuruhku memanggilnya dengan sebutan ‘om’.

Sejak saat itu, om Andy sering sekali datang ke rumah. Dia sering menemui ibuku, tapi tak jarang dia malah menemaniku bermain play station hadiah darinya waktu ulang tahunku kemarin. Aku menyukainya karena dia baik. Aku sering bercerita kepada temanku, tapi tetap saja menurut mereka beda, hanya karena aku tidak memanggilnya ‘ayah’.

Aku masih ingat waktu itu, aku, om Andy dan ibuku sedang berada di ruang tengah bersama saat tiba-tiba om Andy berkata padaku. “Mulai sekarang, apakah Dika mau panggil om dengan sebutan ‘ayah’, tidak lagi memanggil om?” tanyanya lembut sambil mengusap sebagian rambutku yang jatuh tergerai di keningku.

Aku memandangnya sekilas dengan bingung, “apakah itu boleh?” aku balik bertanya dengan polosnya. Kemudian aku menatap kearah ibuku, mencari jawaban atas pertanyaanku. Aku tak ingin ibu marah, tapi ibu malah menggangguk dengan tersenyum seolah menyetujui. Aku pun menggangguk kepada om Andy dan dia memelukku dengan rasa hangat yang menyenangkan.

Sejak saat itu aku dengan bangganya sering bercerita kepada teman-temanku, bahwa aku sekarang punya ayah. Orang yang sangat hebat, orang yang selalu menemaniku belajar, mengantarkanku pergi ke sekolah dan juga sering mengajakku jalan-jalan, bahkan tiap malam aku selalu tertidur di gendongannya sebelum aku ditidurkan di kamarku sendiri.

Saat ibuku punya bayi kecil, aku kadang merasa ibu selalu saja hanya perduli dengan bayinya. Aku sering merajuk dan merengek hanya karena ingin diperhatikan apa keinginanku. Pernah aku sampai menangis karena ibu tak peduli dengan permintaanku karena dia sibuk dengan bayinya yang sering nangis, saat itu ayah datang.

“Kenapa kakak menangis?” tanya ayahku lembut seperti biasanya.

Aku tak menjawab dan terus saja menangis sampai suaraku serak.

“Mau ikut ayah?” ajak ayahku sambil mengulurkan kedua tangannya, dan aku menyambutnya, sedetik kemudian aku sudah berada di gendongannya.

Ayah mengajakku ke sebuah mini market yang tak jauh dari rumah dan membelikanku sebuah es krim yang lezat.

“Kakak sekarang sudah besar, jadi tidak boleh nangis lagi, malu kan sama adik kecil,” kata ayahku.

“Tapi ibu sudah tidak sayang sama kakak, ibu selalu sama adik kecil,” bantahku.

“Ibu selalu sayang sama kakak, ayah juga sayang sama kakak, tapi sekarang kan adik kecil belum bisa jalan, belum bisa ngomong, belum bisa makan sendiri jadi ibu harus menemani adik kecil terus. Kalau kakak kan sudah besar, kalau ingin sesuatu bisa minta ke ayah.”

Tapi sekarang semua telah berubah, semua cepat sekali berubah sejak ibuku meninggal. Aku mengira aku tak perlu takut karena masih ada ayah yang akan selalu menjagaku dan menyayangiku. Tapi semua menjadi begitu membingungkan saat tiba-tiba datang seseorang yang mengaku sebagai ayahku, aku bingung. Yang aku tahu ayahku hanya satu dan itu adalah ayah Andy.

Saat ayah mengatakan kalau aku akan tinggal dengan ‘ayah yang tak aku kenal’ aku menjadi sangat marah, aku mengira ayah sudah tak sayang denganku lagi. Bagaimana mungkin bila ayah sayang akan membiarkan aku tinggal dengan orang yang tak pernah aku kenal sebelumnya, walau kata ayah, orang itu adalah ayah kandungku.

Aku ingin minta sesuatu, aku ingin tetap bersama ayahku, tapi aku tak mengerti jalan pikiran orang dewasa. Kenapa mereka tidak bisa mengerti pikiran anak kecil? Semakin aku berusah untuk meminta semakin membuatku harus bersama orang asing yang katanya adalah ayah kandungku, Aku tak mau memanggilnya ayah, karena aku hanya memiliki satu orang ayah.

&&&&&

Yudha

Saat pertama kali melihatnya, aku begitu tertegun. Rasa haru tak mungkin dapat aku elakkan lagi. Dua belas tahun lamanya aku meninggalkan darah dagingku sendiri. Aku bercerai dengan istri pertamaku saat anakku masih berumur delapan bulan dalam kandungan. Aku memang bukan orang yang baik, aku ketahuan selingkuh dengan perempuan lain yang sekarang menjadi istri keduaku, istri pertamaku langsung meminta cerai ketika tahu ada perempuan lain dalam hidupku, terlebih perempuan tersebut juga mengandung anakku.

Setelah cerai, istri pertamaku seolah menghilang begitu saja dan tak membiarkanku untuk sekedar melihat darah dagingku sendiri. Sampai sekitar dua bulan yang lalu aku mendapat kabar dari seorang teman lama, kalau mantan istriku telah meninggal dunia. Dan saat itu yang mengganggu pikiranku adalah bagaimana keadaan anakku.

Aku berusaha mencari tahu keberadaan anakku. Akhirnya setelah genap satu bulan aku mencari, aku mendapatkan titik terang keberadaan anakku. Dalam bayanganku saat itu, dia akan mengenaliku sebagai ayahnya, tapi ternyata tidak. Dia begitu asing melihatku, dia bersembunyi di balik sosok tubuh yang dia panggil dengan sebutan ‘ayah’, sebutan yang seharusnya untukku tapi sekarang telah direbut oleh orang lain.

Aku ingin menebus semua kesalahanku, menebus waktu yang telah terlewatkan. Aku menyesal telah melewatkan masa-masa indah bersama putraku selama kurang lebih dua belas tahun. Aku tak ada saat dia lahir, aku tak ada saat ulang tahun pertama sampai ulang tahun yang ke sebelas, aku tak melihatnya saat pertama kali dia bisa berjalan, aku tak berada di sampingnya saat dia mulai bicara, aku tak menggendongnya saat dia sakit, aku mendukungnya saat dia pertama kali bersekolah. Dalam hati aku berteriak, ‘ayah macam apa diriku ini?’

Entah kenapa aku merasa begitu iri terhadap sosok pria yang dipanggil oleh putraku dengan sebutan ‘ayah’. Dia suami baru mantan istriku, tapi bukan itu yang membuatku iri, tapi dia bisa merebut hati putra kandungku yang sebenarnya tak pernah kumiliki sebelumnya. Entah kenapa aku melihat kemiripan antara putraku dengan dia.

Dia orang yang baik, juga ayah yang baik bagi putraku, tapi rasa egoku yang besar tak mau mengakuinya. Saat kuutarakan niatku untuk membawa putra kandungku tinggal bersamaku, kulihat dia sebenarnya berusaha mencegah dan menolak niatku tapi dengan cara yang sangat sopan. Dia selalu menegaskan bahwa setiap sesuatu yang kita putuskan harus benar-benar terbaik bagi putraku sekaligus putranya. Tapi menurutku anak kecil akan secepatnya beradaptasi dengan lingkungan baru dan aku juga yakin aku cukup tahu untuk menjadi seorang ayah yang baik, tanpa perlu diajarin olehnya. Tarik ulur yang lumayan alot hingga saat aku mengutarakan niatku akan mengajukan masalah ini ke pengadilan yang bisa membuat pertahanannya mengendur. Aku kira dia menyadari bahwa posisinya tidaklah kuat, tapi bukan itu menurutnya.

“Aku hanya memikirkan apa yang terbaik buat Dika, aku rasa membawa kasus ini ke pengadilan akan membuat trauma di hidupnya, dan itu tidak bagus bagi mental yang belum stabil. Dia seorang anak yang memiliki hati, dia bukan barang yang bisa dipertaruhkan di meja judi,” katanya tegas. “Aku yang akan berbicara dengan Dika, aku rasa dia bisa memahami pengertian dariku,” lanjutnya.

Akhirnya aku bisa membawa putra kandungku untuk tinggal dengan keluargaku. Walau dengan berbagai syarat yang harus aku penuhi, tapi satu syarat yang membuatku sedikit marah saat putraku sendiri tak mau memanggilku ayah, dan orang yang dia panggil sebagai ‘ayah’ hanya mampu membujuk putraku untuk memanggilku papa.

&&&&&



Dika

Aku menangis saat harus meninggalkan rumah untuk ikut dengan orang yang aku panggil dengan sebutan ‘papa’, aku tak mau menyebutnya ‘ayah’ karena selama ini hanya ayah Andy yang kukenal sebagai ayahku.

Rumah itu begitu besar, luas dan mewah, sangat berbeda dengan rumahku. Tapi aku merasa kesepian disana. Selama dua bulan aku hanya ditemani beberapa pembantu. Berangkat sekolah diantar sopir, semua keperluanku diurus oleh pembantu. Istri papaku terlalu sibuk untuk mengurusi anak sepertiku, dia bahkan tidak mau dipanggil mama, dia menyuruhku memanggilnya ‘tante’, dia tidak jahat terhadapku tapi dia seolah enggan bersamaku. ada juga gadis kecil yang bernama Tiara, kata papa aku harus memanggilnya adik, tapi dia seperti mamanya, tak mau bermain bersamaku. Dia lebih suka bermain sendiri dengan boneka-boneka koleksinya. Sedang papa sendiri aku jarang bertemu dengannya. Dia selalu pulang kerja malam hari dan berangkat sangat pagi sekali. Aku merindukan ayah, aku merindukan bermain dengan Raka, adikku, aku ingin digendong ayah, aku ingin dipeluk dan dicium sebelum tidur oleh ayah, aku ingin mendengar suara ayah saat membacakan cerita untukku dan Raka, sebelum kami tidur. Aku ingin belajar ditemani ayah. Aku ingin sekolah diantar ayah. Aku ingin seperti dulu bersama dengan ibu, ayah dan Raka. Aku tak ingin apa-apa lagi selain itu.

Aku sakit sejak pulang sekolah, tiba-tiba demam dan seluruh tubuhku terasa panas. Hanya bi’ Marni yang mengurusiku, papaku tak ada di rumah, tante juga tak tahu kemana. Aku menangis, aku jadi sangat merindukan ayah, karena biasanya dia yang selalu mengurusiku.

Karena bi’ Marni tak tega melihat keadaanku, dia memberanikan diri menelpon papaku.

“Tuan! Den Dika sakit badannya panas.”

“Kamu saja yang ngurusin, aku sedang sibuk.”

Karena tidak ada tanggapan yang menyenangkan, bi’ Marni mencoba menelpon istri papaku.

“Nyonya! Den Dika sakit.”

“Anak kecil sudah biasa sakit, nanti juga sembuh sendiri. Kasih makan dan obat terus bawa dia tidur,” jawabnya dari seberang sana.

“Bi’ Marni! Bolehkah aku pinjam handphonenya?”

“Buat apa den?”

“Aku mau sms ayah,” kemudian aku mengambil no hp ayahku yang aku simpan di laci meja belajarku.

Kakak kangen sama ayah, sekarang kakak sakit, apa ayah bisa kesini?

&&&&&

Andy

Aku terkejut saat mendapatkan sms dari putraku, Dika. Rasa khawatir begitu membuncah di dadaku, tapi aku coba tahan, karena aku harus mencoba menjaga perasaan Yudha sebagai orang tua kandungnya. Dengan hati-hati aku mencoba menghubungi Yudha, seolah hanya ingin menanyakan keadaan Dika. Tidak lebih.

“Dika, baik-baik saja,” jawab Yudha sesaat sebelum mematikan hubungan telpon mereka.

Tapi kata-kata Yudha tak mampu mengurangi rasa cemasku. Sampai sore menjelangpun perasaan khawatir terus menghantuiku. Dalam hati aku juga merindukan putraku. Tapi aku tak mau karena kekhawatiran yang kurang beralasan membuat situasi jadi runyam.

Hampir menjelang malam, saat aku mendapat telpon dari no handphone yang tadi digunakan Dika untuk mengirim sms padaku. Ada suara wanita disana yang tampak cemas. Ternyata wanita tersebut diminta Dika untuk menghubungiku. Aku begitu kalut saat mendengar bahwa Dika sakit, dan karena panas tubuhnya yang tak kunjung turun membuat Dika pingsan, maka wanita tersebut membawa Dika ke rumah sakit.

Aku begitu cemas, dengan segala kecemasan aku segera mengambil sepeda motorku untuk segera pergi ke rumah sakit dimana Dika dirawat, setelah sebelumnya kutitipkan Raka kepada adik perempuanku.

“Ayah mau menjemput kak Dika, Raka di rumah sama tante ya?” bujukku dan untungnya dia mengerti.

Dalam perjalanan ke rumah sakit aku berusaha untuk tenang, walau hatiku berkecamuk. Aku marah, kenapa saat seperti ini Yudha malah bilang kalau Dika baik-baik saja. Aku juga marah pada diriku sendiri yang tidak bisa menjadi ayah yang baik untuk Dika, aku menyesal menyerahkan Dika kepada Yudha. Aku merasa telah membuat istriku kecewa di atas sana.

Kemarahanku makin membuncah kepada Yudha saat aku sampai di rumah sakit tak kudapati batang hidungnya disana. Dika hanya ditemani seorang wanita yang tadi menghubungiku, wanita yang ternyata pembantu di rumah Yudha.

Kulihat tubuh putraku tergeletak tak sadarkan diri. Tubuhnya kurus sekali. Menurut dokter ada kemungkinan Dika terkena gejala demam berdarah, tapi itu juga belum bisa dipastikan karena harus menunggu hasil tes darah. Aku begitu sedih saat aku tahu dari wanita yang mendampingi Dika, jika selama ini Dika sangat sulit makan, dia sering murung dan selalu bilang kangen dengan ayahnya, kangen denganku. Dalam hati aku mengumpat kepada diriku sendiri, ‘ayah macam apa aku ini?’

Aku bersimpuh di samping tempat tidur dimana tubuh Dika tergeletak tanpa daya. Bulir air mata membasahi wajahku. Jika istriku melihat semua ini pasti dia sangat sedih dan kecewa. Kenapa aku dulu begitu lemah untuk mempertahankan agar Dika tetap di sampingku. Aku begitu bodoh dan seperti seorang pecundang.

Tiba-tiba kudengar langkah berat berjalan mendekat kearahku, aku berbalik dan kudapati Yudha di sana. Saat dia hendak menyentuh tubuh Dika, kudorong tubuhnya keras-keras untuk menjauhi putraku. Rasa marahku begitu sulit untuk aku tahan. Kudorong tubuh Yudha sampai tubuhnya menempel ke tembok, kutekan dadanya dengan menggunakan lengan kiriku dan kepalan tangan kananku siap-siap mendarat di wajahnya, tapi saat hendak kulayangkan pukulan itu, kulihat ada tetesan bening di matanya, dia seolah pasrah, dia seolah memahami kesalahannya. Dan pukulan itu hanya bisa aku daratkan di tembok sebelah kanan wajah Yudha. Dan saat itulah kudengar suara putraku.

“Ayah!” suara lirih itu membuyarkan semuanya, ku abaikan tubuh Yudha yang masih menempel di tembok tanpa daya.

Aku berlari mendekati tubuh putraku. Kuhamburkan tubuhku untuk memeluk tubuhnya yang lemah, kucium wajahnya. Hanya ingin menyatakan bahwa aku berada di sisinya bukan lagi di mimpinya.

Dika membuka matanya perlahan, mungkin merasakan keberadaanku disana.

“Ini ayah, Dika!” rancauku dengan suara serak menahan tangis.

“Ayah, aku mimpi bertemu ibu,” ucapnya lirih, tapi mampu membuatku begitu ketakutan. Saat itu pula kudengar sesuatu terjatuh, dan aku lihat tubuh Yudha melorot tanpa daya ke lantai, tubuhnya masih di tempat yang sama seperti saat kutinggalkan, masih bersandar di salah satu tembok kamar itu.

“Kata ibu, ayah akan menjemputku disini,” ucap Dika perlahan kemudian.

Aku mengangguk perlahan kemudian kucium keningnya, “ayah datang menjemputmu.”

“Maukah ayah menggendongku? Aku ingin tidur di gendongan ayah,” pintanya dengan lemah dan aku mengangguk menyetujuinya.

Aku mencoba mengangkat tubuh Dika yang lemah, tapi aku sedikit kesulitan, selain karena tubuhnya sangat rapuh juga ada selang infus yang tertancap di lengan kecilnya. Saat itulah Yudha datang membantuku. Kini Tubuh lemah itu telah berada di gendonganku.

“Bolehkah aku meminta sesuatu ayah?” tiba-tiba Dika kembali berbicara.

“Apapun akan ayah lakukan untuk Dika.”

“Bolehkah aku ikut ayah lagi?”

&&&&&

Yudha

Aku menyadari kekalahanku sebagai seorang ayah, sebagai seorang manusia juga sebagai seorang laki-laki. Sekali lagi karena keegoanku sendiri aku hampir kehilangan orang yang aku sayangi untuk kesekian kalinya.

Ternyata salah jika aku ingin menebus kesalahanku selama ini terhadap putraku dengan membawanya tinggal bersamaku, hanya memberikan kecukupan materi tapi bukan pelukan kasih sayang. Aku seperti orang bodoh yang tak bisa berpikir bahwa anak bukanlah barang yang bisa dipindah tangankan dengan mudah, mereka juga punya hati, mungkin aku bisa merebut jasadnya tapi aku tak mampu merebut hati putraku sendiri, aku malah merampas senyum yang sebenarnya ingin sekali aku lihat.

Pagi itu, kepada Andy aku mengakui kekalahanku sebagai seorang ayah, menelanjangi seluruh keegoisanku sebagai seorang laki-laki dan mencoba meluruhkan kesombonganku sebagai manusia. Begitu menyakitkan saat menyadari putra kandungku sendiri belum bisa menerima kehadiranku, tapi terasa lebih menyakitkan lagi melihat rasa sakit yang dipendam putraku sendiri karena keegoisanku.

“Maukah kau merawat Dika? Mungkin dia akan lebih bahagia jika tetap bersamamu,” ucapku kepada Andy dengan lidah yang terasa kelu.

Dia mengangguk dan kemudian memelukku, seolah ingin memberikan kekuatan padaku.

“Tapi ijinkan aku setiap saat untuk menemuinya,” pintaku dan dia hanya menepuk punggunggu sebagai tanda setuju.

Dan kemudian aku melangkah pergi, meninggalkan semua kesombongan dan keangkuhanku.

COMING SOON (Thailand Movie)



Siapa nih pecinta film horor???? Silahkan angkat tangan. Jangan ngaku sebagai pecinta film horor kalau hanya cuma nonton film-film seperti "Suster Creambath dan Rebonding (1,2,3,4,5,6 dst *emang sinetron*)", "Pocong Dugem", "Setan Facebook-an, Twitter-an dan kaskus-an (awas nanti di add a friend)", "Arwah Goyang Dombret", "Pocong Luluran Goyang Perut", "Kuntilini Kesurupan (makanya jangan ngelamun wae)". Bagi pecinta film horor sejati pasti tahu dengan film thailand yang berjudul "Coming Soon". Sebenarnya aku bukan pecinta sejati film horor, tapi film ini benar-benar T-O-P B-G-T. Apalagi nontonnya tengah malam dan lampu dimatiin, udah gitu nonton sendirian pula, bakal tambah seru sejadi-jadinya. ^_^

Kenapa film ini berjudul 'Coming Soon'???? Karena sebenarnya ini film menceritakan sebuah film Revengful Spirit yang masuk daftar coming soon atau bakal diputer di bioskop (film dalam film gitu dech), Revengful Spirit sendiri adalah film yang mengangkat kisah nyata puluhan tahun yang lalu di Thailand. Dulu di sebuah desa di Thailand ada seorang wanita yang bernama Chaba. Wanita ini sering menculik anak-anak disekitar desanya karena mengira itu adalah anaknya. Chaba yang kondisi fisiknya mengerikan dan baru aja kehilangan anaknya akibat kebakaran jadi gila dan mencongkel mata anak-anak yang diculiknya agar mereka tidak takut melihatnya. Akhirnya Chaba ketahuan warga dan dihakimi, digantung di atap rumahnya sendiri.

Bahkan sebelum film Revengful Spirit ini di release, film ini sudah menjadi bahan perbincangan berbagai pihak dan bisa dipastikan bakal jadi film yang laris dan booming. Tersebutlah Shane, seorang proyektoris sebuah Cineplex di Thailand yang bekerja sama dengan Yod untuk membajak film Revengeful Spirit itu. Tapi secara misterius Yod hilang. Shane yang curiga dan kerap mengalami hal-hal mengerikan baik di tempat kerja dan tempat tinggalnya, sehingga kemudian dia berusaha untuk melacak terror Chaba yang sampai padanya.



Teror terus berdatangan, satu per satu orang-orang yang terlibat dengan film Revengful Spirit juga mendapatkan teror. Apakah arwah Chaba ingin menuntut balas dengan apa yang terjadi, tapi kenapa baru sekarang setelah kisah Chaba di angkat ke film???? Dan makin membingungkan saat diketahui dari hasil investigasi bahwa Chaba yang asli tidaklah meninggal saat di gantung oleh warga yang marah. Terus diketahui orang-orang yang selama ini hilang secara misterius ternyata masuk menjadi salah satu peran dalam film Revengful Spirit dengan cara yang tak lazim, semua orang yang hilang di congkel matanya oleh hantu Chaba yang ada di film itu. Siapapun yang sengaja menonton film Revengful Spirit akan menjadi korban yang mengerikan. Sebenarnya hantu siapakah yang melakukan teror tersebut??? Jawabannya adalah dari kisah tragis saat pembuatan film itu sendiri, tragedi yang ingin dirahasiakan oleh seluruh kru pembuat film.

Ini baru namanya film horor yang cerdas, membuat penasaran, ceritanya berbobot, membuat jantung dag dig dug deeeaaarrr, membuat kita tak beranjak bahkan sampai menahan pipis. *_*

Sabtu, 14 Mei 2011

Superstar (Super Hab Sab Sabad)



Mereka ibarat “Sandal Jepit” yang hanya bisa digunakan sepasang dan tidak bisa dipisahkan.

Apa arti persahabatan menurut kita???? Pasti banyak sekali perumpamaan yang bisa menggambarkan sebuah persahabatan yang indah dan penuh lika-liku. Tapi ada satu perumpamaan dari sebuah film yang selalu aku ingat "Sahabat sejati seperti sepasang sandal.... ketika salah satunya hilang maka tak pernah ada arti lagi bagi yang ditinggalkan"

Itulah makna yang bisa aku ambil dari film Superstar atau dalam bahasa Thailand berjudul Super Hab Sab Sabad yang di sutradarai oleh Pisut Praesaeng-Iam yang bisa dibilang bergenre drama komedi. Pertama kali aku kira ini adalah film korea, tapi ternyata ini adalah film Thailand, dan kualitas ceritanya tak kalah dengan film-film korea.

Bercerita tentang dua sahabat laki-laki yang masing-masing menyadari kekurangan dan kelebihan yang mereka miliki. Adalah Tom (rattapoom tokongsub), cowok ganteng, super keren, pinter dance dan segala keindahan fisik lain yang dia miliki tapi memiliki satu kekurangan yaitu suaranya parau kaya' bebek (jadi ingat suaraku sendiri) bersahabat sejak kecil dengan Teung (Kerttisak Udomnak), cowok gendut, pendek, berkulit hitam tapi memiliki suara emas dan pandai membuat lagu.

Dari kecil mereka sering bernyanyi bersama dengan cara lip sync, Teung yang bernyanyi dengan suara emasnya dan Tom yang menari dan menggerakkan bibir, bahkan saat berbicarapun mereka sering melakukannya dengan lip sync.

Suatu hari Teung membuat lagu yang sangat indah yang berjudul Touch My heart (memang bener-bener enak buat didengerin), kemudian Tom membuat video lip sync-nya. Saat lagu di upload sebuah media di internet lagu itu mendapat respon yang baik dan disukai banyak orang.

Akhirnya mereka dapat tawaran kontrak dari perusahaan rekaman yang hampir bangkrut. Sang produser sebenarnya menyadari bahwa Tom hanyalah lip sync, tapi produser tetap nekat melambungkan Tom dengan nama Tong Lee Hai.





Lagu Touch My Heart booming, Tom terkenal dan jadi idola remaja. Dan di saat itulah persahabatan antara Tom dan Teung mulai retak. Teung menjadi merasa tersisihkan karena hanya berperan sebagai orang dibelakang layar, apalagi saat Tom mengakui di depan publik bahwa dia sendirilah yang menciptakan lagu Touch My Heart. Teung marah dan pergi.

Tom merasa bersalah dan kebingungan saat harus mempertahankan kebohongan mereka selama ini di depan publik. Satu keajaiban datang pada Tom, saat dia terserang flu (setelah hujan-hujanan dengan pacarnya) suaranya bisa normal dan dia bisa melakukan konser sendiri tanpa bantuan Teung, tapi itu hanyalah bersifat sementara. Saat dia sembuh dari flu, maka suaranya akan kembali seperti semula, parau seperti bebek yang ke injek sepeda.

Sahabat sejati adalah orang yang paling memahami kita, begitupun dengan Teung. Disaat yang kritis akhirnya Teung kembali membantu Tom, sahabatnya. Bagi Teung sahabat lebih berati dari apapun, dan dia juga sadar bahwa menyanyi baginya bukan semata-mata untuk materi dan popularitas, dia menikmati walau hanya sebagai penyanyi di belakang panggung.

Film ini selain bikin terharu juga sering bikin tertawa. Apalagi saat adegan Tom Dan Teung berkenalan dengan cewek, Teung yang berbicara di belakang tubuh Tom, sedang Tom sebagai lip sycn-nya. Ada juga saat mereka bicara dengan produser rekaman, mereka membuat sang produser kebingungan bahkan sempat shock mendengar suara asli Tom.



Selain itu lagu Ost. yang berjudul Touch My Heart sangat enak untuk didengerin walau aku tidak tahu artinya. Tapi setelah muter-muter akhirnya nemuin juga translate lagu tersebut. Easy listening banget dech.....

Pernah kau begitu merasa kesepian?
Karena merindukan seseorang
Pernahkah kau jatuh cinta kepada seseorang
Tapi yang bisa kau lakukan hanya menyimpannya dalam hati

Tapi ada satu hal
yang kuingin kau lakukan
Sentuh hatiku, sentuh hatiku
Akankah kau rasakan

Sentuh hatiku, sentuh hatiku
Akankah kau tahu
Bahwa aku mencintaimu lebih dari apapun

Kamis, 12 Mei 2011

My Sister Keeper



Jika kau menggunakan cara yang salah secara moral untuk menyelamatkan hidup anakmu, apakah itu menjadikanmu ibu yang buruk?


Apakah anda pernah membaca novel karya Jodi Picoult yang berjudul My Sister Keeper??? Novel ini harus saya acungin jempol karena sangat berbeda dengan novel-novel yang pernah saya baca sebelumnya. Novel yang membuat saya banjir air mata sampai dua kali lipat dari biasanya, selain karena ceritanya yang mencengkeram, hati satu lagi yang bikin saya menangis adalah saya harus kehilangan buku yang pernah saya beli ini karena entah dibawa kabur sama siapa. (lupa ada yang pinjam dan tidak pernah kembali)

Apa jadinya jika anak gadis berumur 13 tahun mengajukan gugatan hukum terhadap orang tua kandungnya sendiri????

Anna Fitzgerald, gadis berusia 13 tahun, mengajukan gugatan hukum terhadap orang tuanya (Sara dan Brian) menuntut kebebasan medis atas dirinya sendiri. Sejak lahir, Anna sudah menyumbangkan sel darah tali pusatnya untuk kakaknya (Kate) yang menderita leukemia. Tidak ada donor yang cocok untuk Kate, entah itu orang tuanya sendiri atau kakak laki-lakinya, Jesse.

Memang, untuk tujuan menyelamatkan hidup Kate-lah, Anna dilahirkan. Anna adalah anak yang lahir dari proses bayi tabung dimana telah diatur secara medis agar memiliki kesamaan gen dengan Kate, kakaknya. Beberapa jam setelah Anna lahir, ia sudah menyumbangkan sel darah tali pusat untuk kakaknya. Setelah itu Anna menjalani puluhan operasi, transfusi darah, dan suntikan agar Kate bisa melawan leukemia yang sudah dideritanya sejak kanak-kanak.

Dan saat ibunya meminta Anna menyumbangkan ginjalnya untuk Kate yang nyaris sekarat. Saat itulah hati Anna mulai berontak. “Bagaimana jika aku mengalami gagal ginjal saat umurku misalnya, tujuh puluh tahun? Di mana aku mendapat ginjal cadanganku?” Anna kini mulai berani mempertanyakan tujuan hidupnya. Sampai kapan dia harus terus menjadi penyuplai kebutuhan kakaknya? Hingga akhirnya dia mengambil keputusan untuk menggugat orangtuanya agar memperoleh hak atas tubuhnya sendiri. Keputusan yang membuat keluarganya terpecah dan mungkin berakibat fatal untuk kakak yang teramat disayanginya.

Kasus hukum yang diajukan Anna menjadi lebih rumit ketika perasaan dari masing-masing anggota keluarga mencuat satu persatu, ditambah kehadiran Campbell Alexander sebagai pengacara Anna yang secara tidak sengaja karena kasus ini membuatnya sedikit lebih populer.

Yang membuat novel ini lebih unik adalah gaya penyajian yang disuguhkan oleh sang penulis yang sangat unik (baru pertama kali baca yang seperti ini), penulis menggunakan sudut pandang dari masing-masing karakter dalam tiap bab. Jadi bukan hanya satu sudut pandang tapi lebih, seolah novel ini adalah kumpulan curahan hati dan pikiran tiap-tiap karakter yang mengisi cerita ini.

Jalan ceritanya cukup membuat saya penasaran sejak awal, apakah Kate akan meninggal atau Anna yang akan nyerah. Dan akhirnya ending yang membuat saya benar-benar mengucurkan air mata lebih dari satu ember. (lebay dikit ya!!!!)



Dan novel ini pernah diangkat ke dalam film di tahun 2009 yang diperankan oleh Abigail Breslin – Anna Fitzgerald, Sofia Vassilieva – Kate Fitzgerald, Cameron Diaz – Sara Fitzgerald, Jason Patric – Brian Fitzgerald, Evan Ellingson – Jesse Fitzgerald dan Alec Baldwin – Campbell Alexander dengan sutradara Nick Cassavetes, tapi jujur saya sedikit kecewa dengan film ini, karena sangat jauh dari apa yang saya bayangkan sebelumnya, terutama ending yang sangat berbeda dari versi novelnya (kalau saya jadi Jodi Picoult sudah pasti saya akan protes dan mecak-mencak..... maaf kumat lebaynya).

Bahkan ada juga sinetron/FTV Indonesia yang juga mengadaptasi cerita dari novel ini (tapi saya lupa judulnya).

Selasa, 10 Mei 2011

DEVDAS (2002)



Apakah anda salah satu penggemar film Bollywood?? Jika iya, pasti anda tahu film Devdas (2002) karya sutradara Sanjay Leela Bhansali. Film yang diangkat dari Novel karya Sharat Chandra Chattopadhyay (1917), yang mana telah beberapa kali di visualisasikan. Film yang dibintangi oleh Shahrukh Khan, Aishwarya Rai dan Madhuri Dixit ini adalah satu-satunya film Bollywood yang mampu bertahan dalam benak saya selama 9 tahun terakhir. Bukan berarti saya tidak memiliki film-film Bollywood favorit lainnya, tapi menurut saya Devdas sangatlah berbeda dari film-film Bollywood yang lainnya.

Pada saat rilis, Devdas adalah film Bollywood yang paling mahal yang pernah diproduksi. Film ini dirilis dalam enam versi bahasa alternatif: Inggris, Perancis, Jerman, Mandarin, Thai, dan Punjabi.

Film ini bercerita tentang percintaan yang tragis karena perbedaan kasta antara Devdas Mukherjee (Shahrukh Khan) dengan Parvati "Paro" Chakraborty (Aishwarya Rai) dengan latar belakang kehidupan sosial masyarakat India pada dekade 1920-an.



Devdas dilahirkan dalam kemewahan lantaran ayahnya, Zamindar Narayan Mukherjee (Vijay Crishna) adalah pengacara sukses yang kaya raya dan juga berasal dari kasta yang tinggi, sedang Paro (panggilan Parvati) berasal dari keluarga kebanyakan yang berkasta lebih rendah daripada keluarga Devdas.

Devdas dan Paro tumbuh di sebuah desa indah Taj Sonapur dan melewatkan masa kanak-kanaknya bersama. Tanpa memikirkan latar belakang keluarga mereka yang berbeda, tumbuh sebuah ikatan spesial yang kuat antara mereka berdua. Paro sangat sedih ketika Devdas dikirim ayahnya untuk belajar ke Inggris, namun ia tetap setia menunggu kepulangan Devdas, dengan terus menyalakan lentera kecil untuk sang pujaan hatinya.

Ketika akhirnya Devdas kembali, dunia Paro bagaikan bernyanyi dengan nada-nada bahagia. Jalinan cinta Paro dan Devdas didukung penuh oleh ibu Paro, Sumitra (Kiron Kher). Sayangnya cinta mereka harus menghadapi ujian berat. Semuanya bermula gara-gara campur tangan salah satu anggota keluarga mereka yaitu Kumud Mukherjee (Ananya Khare) yang tak lain adalah kakak ipar Devdas, sehingga lamaran yang diajukan Sumitra untuk mengikat Paro dan Devdas dalam ikatan perkawinan ditolak mentah-mentah oleh ayah Devdas dan juga ibu Devdas, Kaushalya (Smita Jaykar).





Mereka sama sekali tidak sudi menerima Paro sebagai menantu karena merasa kelas mereka lebih tinggi dari keluarga Paro. Tentu saja Sumitra sangat sakit hati menerima perlakuan seperti itu sehingga langsung merencanakan pernikahan Paro dengan Zamindar Bhuvan Choudhry (Vijayendra Ghate), seorang duda kaya yang statusnya tidak kalah dengan Narayan Mukherjee. Devdas berusaha mengubah keputusan orang tuanya namun gagal sehingga dengan putus asa menulis surat kepada Paro untuk melupakan dirinya.

Paro terluka hatinya saat membaca surat Devdas sehingga memutuskan menikah dengan Bhuvan walau tanpa cinta. Sementara itu, berkat sahabat yang brengsek, Chunni Baba (Jackie Shroff), Devdas pun diperkenalkan pada alkohol dan pelacuran. Tidak heran kerja Devdas setiap hari hanya bermabuk-mabukan saja. Devdas pun mengenal seorang wanita penghibur cantik, bernama Chandramukhi (Madhuri Dixit) yang jatuh cinta kepada Devdas.



Chandramukhi berusaha menolong Devdas yang dicintainya, dia selalu berusaha menghibur Devdas, tapi rasa sakit karena kehilangan cinta yang dirasakan Devdas terlalu besar, hingga dia tak mampu mengalihkan kesedihan Devdas.



Devdas pun makin larut dengan minum-minuman keras hingga tubuhnya tak mampu lagi dapat menahan kerasnya pengaruh alkohol, dia makin terpuruk dalam kesedihan dan kesakitan.







Sedang Paro menjadi wanita terhormat keluarga Choudhry walau sebenarnya dalam hati dia tak henti-hentinya menangis menahan kerinduan akan kekasihnya. Hingga akhirnya dia mengenal Chandramukhi dan merekapun bersahabat, semua itu dia lakukan karena dia masih sangat mencintai Devdas.





Tapi akhirnya cinta antara Devdas dan Paro harus berakhir tragis. Devdas meninggal karena terlalu banyak minum-minuman keras, tapi sebelum meninggal, Devdas menepati janjinya untuk menemui Paro. Devdas meninggal di depan gerbang istana yang telah mengurung cinta Paro terhadap Devdas. Dan lentera kecil itu padam, tapi cinta mereka tak pernah bisa padam.



Kenapa saya suka film Devdas (2002)?? Tentunya akhir yang tragis selalu membuat saya menyukai cerita-cerita romansa cinta. Ada beberapa teman dan keluarga saya yang bilang film ini kurang menguras air mata untuk ukuran film drama cinta Bollywood (karena temanku biasanya sedia ember kalau nonton film Bollywood), tapi justru disinilah letak keunikannya, semua emosi divisualisasikan tanpa mengumbar banyak kata, dan emosi dibuat serasa menggantung, dan hanya aktor sekaliber Shahrukh Khan yang mampu menggambarkan kepedihan hati tanpa banyak kata yang terbuang percuma, begitu juga peran Paro yang dengan cerdas di perankan oleh Aishwarya Rai yang mana bisa menggambarkan kegalauan hati seorang kekasih hanya dengan sorot mata yang penuh kekosongan. Ditambah sosok Madhuri Dixit yang memerankan karakter Chandramukhi ( seorang wanita penghibur tapi sangat berkharisma) dengan sangat apik.









Selain itu setting dari film ini yang membuat saya selalu terkagum-kagum (sangat berharap insan-insan film tanah air mampu membuat film dengan setting yang spektakuler dan bisa menghidupkan cerita dengan sangat apik), lampu-lampu kristal yang bertebaran diseluruh film, temaram nyala lilin yang seakan nyata menerangi seluruh pencahayaan film, bangunan-bangunan dengan gaya klasik sangat menghidupkan suasana (coba saja lihat saat Paro berlari di istana suaminya yang megah). Begitu juga kostum yang dipakai begitu indah dan elegan (membuat Madhuri Dixit tampil lebih muda dari umurnya) dan tak kalah penting adalah koreografinya yang sangat briliant (paling suka koreo untuk lagu "dola re dola", "maar dala" dan "Silsila Ye Chaahat Ka"). Bukan film Bollywood jika tidak dihiasi dengan lagu-lagu indah, begitupun lagu-lagu di film ini yang terdengar sangat klasik seolah mengajak kita untuk menikmati cinta yang terus terkenang dari masa ke masa.



Dan tidaklah berlebihan jika film ini banyak menuai pujian dan penghargaan. Termasuk dari saya..... ^_^