..............berpendarlah dengan cahaya yang berkilau laksana kunang-kunang di malam yang gelap....... tak perlu ragu karena dari mana asalmu, karena kilau emas sekalipun berasal dari kubangan lumpur juga......................

Senin, 14 November 2011

SANG PENARI (Ronggeng Dukuh Paruk)

SANG PENARI adalah film yang terinsipirasi dari novel trilogi karya pengarang besar AHMAD TOHARI, film ini resmi diputar dibioskop tanggal 10 Nopember 2011. Film ini disutradarai oleh Ifa Isfansyah dengan bintang utama Prisia Nasution sebagai Srintil dan Oka Antara sebagai Rasus.



Sebuah cerita cinta yang terjadi di sebuah desa miskin Indonesia pada pertengahan 1960-an. Rasus (Nyoman Oka Antara), seorang tentara muda menyusuri kampung halamannya, mencari Srintil (Prisia Nasution), cintanya yang hilang diantara hiruk pikuk dan kehancuran paska tragedi Gerakan 30 September..






Cerita berawal ketika keduanya masih sangat muda dan saling jatuh cinta di kampung mereka yang kecil dan miskin, Dukuh Paruk. Rasus yang anak miskin yang hanya tinggal besama dengan nenek semata wayangnya dan Srintil yang hidup dibayangi tragedi tempe bongkrek beracun buatan orang tuanya yang telah merenggut nyawa warga dusun kecil mereka termasuk kedua orang tua Srintil, dan juga seorang ronggeng terakhir di dukuh tersebut. Dukuh Paruk hidup dalam kemiskinan, kebodohan dan kesunyian tanpa adanya suara calung dan gendang karena tak ada lagi ronggeng yang jadi kebanggan dukuh tersebut. Lalu kemudian takdir berbicara, Srintil yang beranjak dewasa menunjukkan bakatnya sebagai seorang ronggeng, karena hal itu membuat para tetua dukuh percaya bahwa Srintil adalah titisan ronggeng. Tapi kemampuan menari Srintil yang magis menghalangi cinta antara dia dengan Rasus. Dan saat Srintil menyiapkan diri untuk tugasnya, ia menyadari bahwa menjadi seorang ronggeng tidak hanya berarti menjadi pilihan dukuhnya di pentas-pentas tari. Srintil akan menjadi milik semua warga Dukuh Paruk. Hal ini menempatkan Rasus pada sebuah dilema. Ia merasa cintanya telah dirampas. Dalam keputusasaan, Rasus meninggalkan dukuhnya untuk menjadi anggota tentara. Dan Srintil tetap pada pendiriannya untuk menjadi ronggeng sebagai wujud pengabdian dirinya terhadap pedukuhannya yang kecil serta untuk memulihkan nama baik orang tuanya, walau dia harus menanggung rasa sakit karena kehilangan cintanya.








Lalu jaman bergerak, Dukuh Paruk harus tersungkur ikut dalam arus tragedi politik dimana mereka tak pernah memahaminya karena kebodohan mereka, termasuk grup ronggeng Srintil yang harus kena getahnya. disaat seperti itu, Rasus harus terjebak dalam dua pilihan, memilih loyalitas kepada negara, atau cintanya kepada Srintil. Dan ketika Rasus berada dalam dilema, ia sudah kehilangan jejak kekasihnya. Pencariannya tidak mudah dan baru membuahkan hasil setelah 10 tahun kemudian, nasib mempertemukan Rasus dengan Srintil.




Walau tidak 100%  mengadaptasi cerita dari novel Ronggeng Dukuh Paruk (mungkin terlalu berat mengadaptasi trilogi ronggeng dukuh paruk kedalam satu film yang bedurasi tak lebih dari 111 menit) tapi film ini cukup pantas mendapatkan perhatian karena menjadi wacana baru dalam dunia perfilman Indonesia. Film ini bahkan menurut saya layak masuk festival-festival film internasional. Selain Akting para pemainnya yang sangat mendalami karakter masing-masing, setting lokasi dan atribute yang juga sangat detail. Selain itu segi bahasa dan dialeknya ikut menghidupkan suasana Dukuh Paruk yang sesungguhnya.



Dan walaupun endingnya tak setragis versi novelnya, film ini konon katanya mampu membuat sang penulis novel ronggeng dukuh paruk, Ahmad Tohari ikut larut dalam emosi film ini. Beliau bahkan berujar bahwa sang sutradara dibeberapa bagian bahkan lebih berani menggambarkan apa yang dia sendiri tak berani untuk menggambarkannya.




Sinopsis versi Novel :



Semangat Dukuh Paruk kembali menggeliat sejak Srintil dinobatkan menjadi ronggeng baru, menggantikan ronggeng terakhir yang mati dua belas tahun yang lalu. Bagi pendukuhan yang kecil, miskin, terpencil, dan bersahaja itu, ronggeng adalah perlambang. Tanpanya, dukuh itu merasa kehilangan jati diri. Dengan segera Srintil menjadi tokoh yang amat terkenal dan digandrungi. Cantik dan menggoda. Semua ingin pernah bersama ronggeng itu. Dari kaula biasa hingga pejabat-pejabat desa maupun kabupaten. Namun malapetaka politik tahun 1965 membuat dukuh tersebut hancur, baik secara fisik maupun mental. Karena kebodohannya, mereka terbawa arus dan divonis sebagai manusia-manusia yang telah mengguncangkan negara ini. Pedukuhan itu dibakar. Ronggeng beserta para penabuh calungnya ditahan. Hanya karena kecantikannyalah Srintil tidak diperlakukan semena-mena oleh para penguasa di penjara itu. Namun pengalaman pahit sebagai tahanan politik membuat Srintil sadar akan harkatnya sebagai manusia. Karena itu setelah bebas, ia berniat memperbaiki citra dirinya. Ia tak ingin lagi melayani lelaki mana pun. Ia ingin menjadi wanita somahan. Dan ketika Bajus muncul dalam hidupnya, sepercik harapan timbul, harapan yang makin lama makin membuncah. Tapi, ternyata Srintil kembali terempas, kali ini bahkan membuat jiwanya hancur berantakan, tanpa harkat secuil pun...


Kamis, 03 November 2011

Drama Korea Favorit-ku

Pasti banyak diantara kita yang demam dengan drama Korea. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa drama-drama buatan negeri gingseng tersebut selalu jaminan mutu dan tak sedikit yang memancing emosi baik tawa, ceria, suka, duka, sedih, tangis dan marah. Selain itu menurut saya pribadi banyak hal yang bisa dipetik dari serial drama buatan korea yang tidak kita temukan di Indonesia..... Produser di Korea lebih berani menampilkan drama dengan durasi episode yang lebih pendek dibanding sinetron Indonesia.... Tentu mereka harus berusaha keras dan membuat tayangan bermutu agar modal produksi bisa tidak sia-sia walau hanya dengan jumlah episode yang pendek. Berikut saya mau sedikit berbagi tentang drama-drama korea favorit saya (pribadi), dan mungkin saja juga salah satu favorit rekan-rekan yang lain.... Saya rangking dari yang paling favorit.
1. Jewel In The Palace

Dae Janggeum atau juga dikenal Jewel in the Palace adalah serial drama tahun 2003 yang diproduksi oleh saluran TV MBC Korea Selatan. Ceritanya didasarkan pada tokoh sejarah yang diceritakan dalam Catatan Sejarah Dinasti Joseon, yang berpusat pada Jang-geum (diperankan oleh Lee Young-Ae), dokter kerajaan perempuan pertama dari Dinasti Joseon di Korea. Tema utamanya adalah kegigihiannya, serta gambaran tentang budaya Korea yang tradisional, termasuk makanan serta obat-obatan istana kerajaan Korea. Kegigihan dan sifat pantang menyerah sangat memberikan inspirasi kepada saya. Selain itu cara-cara memasak ala Korea menjadi sangat menarik bagi saya.


2. Endless Love / Auntumn in my heart

Pasti sudah banyak yang tahu dengan drama satu ini, drama korea pertama yang saya lihat dan mampu menguras berliter-liter air mata saya.

Dikisahkan tentang Yun Joon Suh (Song Seung Hun) dan Eun Suh (Song Hye Kyo) dibesarkan sebagai kakak beradik selama 14 tahun sampai munculnya sebuah fakta yang mengejutkan keluarga mereka. Ternyata Eun Suh bukan adik perempuan kandung Joon Suh melainkan anak orang lain yang tertukar ketika masih bayi.

Kekeliruan tersebut tanpa sengaja terungkap ketika Eun Suh mengalami kecelakaan. Begitu terungkap, kehidupan Eun Suh dan Shin Ae berubah total. Shin Ae yang akhirnya kembali ke pelukan keluarga Yun dan Joon Suh pun dibawa oleh ayah-ibunya ke Amerika Serikat. Sedangkan Eun Suh ditinggalkan di Korea pun terpaksa membanting hidup untuk menyambung hidupnya.

 Setelah sembilan tahun berlalu, keluarga Yun akhirnya kembali ke Korea. Joon Suh yang telah menginjak usia dewasa tanpa sengaja bertemu lagi dengan Eun Suh di sebuah hotel. Eun Suh kini bekerja di sebuah hotel milik sahabat Joon Suh, Hun Tae Suhk (Won Bin).

Pertemuan Joon Suh dan Eun Suh ternyata mendatangkan kesulitan di kemudian hari. Sebab mereka akhirnya menyadari bahwa cinta kasih di antara mereka tidak lagi merupakan kasih kakak beradik melainkan telah berubah menjadi cinta antara pria dan wanita.

Namun mereka juga menyadari tidak mudah mewujudkan hal tersebut sebab Joon Suh telah punya tunangan. Tidak hanya itu, Eun Suh pun dicintai Tae Suhk. Bahkan pergulatan cinta di antara mereka bertambah rumit, ternyata Shin Ae  tergila-gila kepada Tae Suhk.

Dan menjadi sangat mengharukan saat drama ini ditutup dengan sad ending...... 





3. Oh! My Lady

Alasan utama ingin lihat drama ini adalah ada aktor sekaligus member Suju idola saya yaitu Choi Siwon, ditambah sosok Chaerim yang lama tak terlihat, dan ternyata drama ini sungguh membuat saya selalu pulang kerja tepat waktu. Salah satu ost.nya hampir tiap hari saya dengarkan.

Bercerita tentang seorang wanita perkasa, ibu rumah tangga yang berumur 35 Tahun, Yoon Gae Hwa (Chae Rim), yang bekerja sebagai di sebuah perusahaan Management Artis dalam rangka untuk mencari uang yang cukup untuk mendapatkan hak asuh atas anaknya dari mantan suaminya.

Kisah cinta, drama dan romantika yang dibalut oleh suasana komedi terjadi ketika seorang bintang terkenal Korea, Sung Min Woo (Choi Si Won) menyewa Yoon Gae Hwa untuk mengurus anak biologisnya, Ye Eun (Kim Yoo Bin) dan merahasiakan keberadaan anak tersebut dari publik dengan sedikit perjanjian diantara mereka berdua. Lambat laun tanpa mereka sadari tumbuh benih-benih cinta diantara mereka berdua. Cinta yang pebuh perbedaan, perbedaan kelas sosial, perbedaan usia dan perbedaan karakter yang kontras. Tapi Sung Min Woo menunjukkan tekadnya dengan cara yang sangat "unik" untuk mendapatkan cinta dari  Yoon Gae Hwa



4. Full House

Perpaduan Song Hye Kyo dan Rain sangat mampu menghidupka drama yang sebenarnya sangat sederhana ini.

Drama ini bercerita tentang pernikahan kontrak antara wanita biasa bernama Han Ji-Eun (Song Hye Kyo) dan aktor bernama Lee Young-Jae (Rain). Han Ji-Eun, seorang penulis naskah, tinggal di rumah bernama Full House yang dibangun oleh ayahnya. Pada suatu hari, Ji-Eun ditipu oleh dua orang temannya. Ia dibohongi telah memenangi liburan serba gratis ke Luar negeri. Di dalam pesawat, Ji-Eun duduk berdampingan dengan Young-Jae, seorang aktor terkenal dan tampan. Keduanya menjadi saling mengenal setelah Ji-Eun muntah di kemeja Young-Jae. Di Shanghai, Ji-Eun kehabisan uang dan harus meminjam uang kepada Young-Jae. Kedua teman yang menipunya mengatakan semua pengeluaran, termasuk biaya makan sudah ditanggung. Setiba kembali di Korea, Ji-Eun sadar dirinya telah ditipu, dan rumah tempat tinggalnya sudah dibeli oleh Young-Jae. Keduanya setuju untuk tinggal di satu rumah, asalkan Ji-Eun bekerja sebagai pembantu rumah tangga agar bisa mendapatkan kembali rumahnya. Dari sinilah kisah percintaan drama komedi ini dimulai.



5. Secret Garden

Alasan nonton pertama adalah adanya aktris Ha Ji Won yang saya suka, dan cerita yang kadang sangat lucu ini juga membuat saya makin mengidolakan sosok cantik Ha Ji Won.

Drama ini menceritakan kisah Gil Ra Im (Ha Ji-won), sebuah stuntwoman miskin dan rendah hati dan Kim Joo Won (Hyun Bin), seorang CEO arogan dan eksentrik. Pertemuan secara kebetulan, ketika Joo Won salah mengira bahwa Ra Im adalah aktris Chae Rin Taman, hubungan mereka diawali dengan ketegangan dan pertengkaran. Tapi tak bisa dipungkiri tumbuh rasa ketertarikan dalam hati Joo Won kepada Ra Im, Joo Won mencoba untuk menyembunyikan  rasa ketertarikannya tapi hal itu malah mengganggu dia. Cerita makin menarik ketika kejadian aneh menimpa mereka, jiwa mereka tertukar satu sama lain.


6. Summer Scent

Saya terbawa suasana musim panas saat lihat drama ini, benarkah debaran jantung bahkan tak pernah bisa membohongi rasa cinta???

Yoo Min-Woo (Song Seung-heon) sangat mencintai Seo Hye Eun-(Shin-ae). Namun, Eun-Hye mengalami sebuah kecelakaan mobil dan meninggal. Tanpa pengetahuan Yoo Min-Woo, orang tua Eun-Hye memutuskan untuk mendonorkan organ-organ tubuhnya. Dilain pihak, Shim Hye-Weon (Son Ye-jin) menderita penyakit jantung yang mengerikan sejak masa kanak-kanak. Ajaibnya, dia mendapatkan donor jantung yang tepat, belakangan diketahui bahwa itu adalah jantung Seo Eun-Hye.

Setelah kematian Seo Hye Eun, Min-Woo pergi ke Italia untuk belajar dengan kenangan Eun-Hye. Ketika kembali ke korea, nasib mempertemukannya dengan Hye-Weon.

Dan pergulatan cinta dan batin berbalut kenangan dan kepedihan masa lalu bergulir, tapi cinta sejati tetap akan memberikan jalannya.
 


7. The Great Queen Seondeok

Mengisahkan perjuangan ratu pertama di Korea dari kerjaan Silla akan tetapi sosok antagonis Lady Mishil lah yang membuatku suka dengan drama ini.
 

8. City Hall

Apa jadinya kalau gadis biasa, PNS rendahan di kantor walikota tiba-tiba ikut pertarungan politik memperebutkan kursi Walikota??? Dibumbui kisah cinta beda kelas cerita ini menjadi sangat mengharukan.


9. Memories of Bali / Something Happened in Bali

Inilah pertama kali saya begitu menyukai Ha Ji Won, karena dia mampu menghidupkan suasana mencekam ditengah konflik cinta segi empat di tengah perbedaan kelas sosial.

Ditambah dengan sad ending membuat drma ini selalu sulit dilupakan.


10. Princess Prosecutor



Ma Hye Ri (Kim So Yeon) adalah wanita yang punya ingatan yang sangat bagus dan kemampuan fokus yang baik, sehingga dia dengan mudah lulus ujian dari perguruan tingginya tanpa harus belajar keras. Walau punya kemampuan hebat tersebut, Hye Ri ternyata lebih suka menjadi wanita bergaya dalam fesyen. Bahkan ia gila belanja agar bisa mengoleksi barang-barang bermerek.

Selain itu, Hye Ri kurang suka bekerja keras karena lebih suka bersenang-senang. Tidak heran jika ia begitu karena adalah putri satu-satunya ayahnya yang memang pengusaha kaya raya. Ibunya begitu memanjakannya sehingga Hye Ri sangat manja dan keinginannya harus dituruti.

Namun sikapnya mulai berubah ketika bekerja sebagai jaksa. Sempat diragukan kapasitasnya sebagai jaksa yang ideal dan mengalami konflik dengan jaksa lain yang tidak menyukai gayanya, akhirnya Hye Ri bisa tumbuh menjadi jaksa yang teguh pada keadilan.

Ditambah bumbu-bumbu konflik percintaan dan kejadian masa lalu ayahnya, makin membuat Hye Ri menjadi sosok yang mengagumkan dan tidak ternilai dari kulit luarnya saja.




11. Beethoven Virus

Perjuangan dan kerja keras adalah tema utama drama ini, dengan setting grup orkestra amatiran membuat cerita ini penuh dengan bumbu-bumbu intrik emosi antara pemainnya.


12. Hotelier

Drama dengan setting kehidupan kerja para karyawan hotel berbintang lima, membuat drama ini tidak monoton tentang cinta.


13. Baker King Tak Goo / Bread, Love and Dream

Wow..... saya suka karena banyak adegan membuat roti, tapi selain itu sosok karakter Tak Goo yang pantang menyerah dan tidak pendendam membuatku simpati.


14. Sad Love Story

Sebenarnya saya hampir lupa dengan drama ini, yang saya ingat adalah air mata yang selalu menghiasi mata Park Hae In dan Suh Joon Young, dan dari drama ini saya juga mengidolakan Kwon sang woo.


Kira-kira itulah drama-drama korea favorit saya, walau sebenarnya masih banyak yang lain yang sudah pernah saya lihat. Tapi drama tersebut yang masih mampu menuri perhatian saya secara lebih.

Kamis, 07 Juli 2011

Kesempatan Terakhir


Air mata Arya meluber tak tertahankan. Mulutnya penuh sesuap nasi goreng yang tak mampu dia kunyah, bukan karena rasa yang tak mampu dinikmati oleh indra pengecapnya, tapi karena memori lima tahun tahun lalu masih terpampang jelas di relung-relung perasaannya. Walau perasaan memiliki memori yang sangat abstrak tapi memori itu lebih kuat dari pikiran logisnya. Arya menggigit bibir bawahnya menahan tangis yang bisa setiap saat meledak. Rasa nasi goreng selalu saja masih mampu melemparkan ke masa yang ingin sekali dia kembali kesana untuk memperbaikinya.

♣ ♣

Raya merasa kedua lengannya dicekal sosok yang tak terlihat jelas, sosok tinggi besar dengan sorot mata tajam, seolah menghunus pedang menembus jantung. Raya lemah kesakitan saat dirinya diseret menjauh. Raya memohon. Raya berdo’a. Raya merasakan ketakutan teramat sangat.

“Beri saya satu kesempatan,” Raya memohon dengan sorot mata yang melemah.

♣ ♣

Raya mengetuk pintu dengan pelan. Arya membuka pintu dengan wajah enggan. Malam sudah mulai naik. Raya masuk kedalam rumah yang terasa sangat sunyi untuk mereka tinggali berdua saja. Sunyi bukan karena Raya masih merindukan kedua orang tuanya yang sudah lama meninggal, tapi sunyi karena sudah beberapa lama Raya dan Arya saling diam, tak bertegur sapa. Mereka kembar, mereka hidup dalam satu atap yang sama tapi mereka seperti orang yang masing-masing saling terasing, terasing dalam hidupnya sendiri-sendiri.

Arya dan Raya anak kembar.

Kembar hanya karena mereka lahir dari rahim yang sama dan lahir di saat yang sama juga, selain itu mereka individu yang sangat berbeda walau memang tak bisa dipungkiri guratan-guratan wajah mereka membuat orang lain sulit membedakan. Arya tumbuh menjadi sosok remaja lelaki yang maskulin dan seperti kebanyakan anak laki-laki yang lain, sedang Raya tumbuh menjadi remaja laki-laki yang lebih feminim dan lembut serta sangat pendiam. Jika Arya selalu dikelilingi pujian-pujian karena tumbuh menjadi pribadi yang supel dan sangat mandiri, serta dipuji banyak remaja perempuan seusianya karena berperawakan sangat menawan dan atletis, tidak demikian yang terjadi pada diri Raya. Karena sikapnya yang terlalu lembut dan sangat pendiam membuat Raya dipandang dengan tatapan sinis oleh lingkungan sekitarnya. Cibiran sepertinya menjadi begitu lekat bagi sosok Raya. Kata ‘banci’ seolah telah disematkan dalam diri Raya oleh orang-orang disekirnya.

“Apakah kamu sudah makan?” tanya Raya kepada Arya dengan bibir gemetar menahan takut.

“Sudah,” jawab Arya singkat tanpa menoleh, dia terlalu terpaku pada layar TV yang berada didepannya.

“Aku membuatkan nasi goreng, maukah kamu memakannya bersamaku sekarang?” Raya meletakkan sepiring nasi goreng di samping Arya dengan hati-hati.

Raya mencoba menikmati nasi goreng buatannya sendiri, sambil sesekali dia menatap ke arah sepiring nasi goreng yang berada disamping Arya. Piring itu tak bergeming dari tempatnya, Arya terlalu terpaku dengan film yang sedang ditontonnya, atau mungkin dia memang enggan menyentuh nasi goreng buatan Raya.

Pelan tapi pasti air mata meluncur dari kelopak mata Raya, turun kebawah dan bercampur dengan nasi goreng yang makin lama makin begitu menyakitkan dia rasakan. Bukan rasa nikmat karena kenyang yang dia dapatkan, tapi rasa sakit diujung kerongkongannya yang seolah tersumbat batu besar. Membuat Raya seolah begitu kesulitan menghirup udara.

♣ ♣

Pintu rumah digedor dengan sangat keras, pagi masih terlalu buta. Arya bangkit dari tempat tidurnya dengan perasaan kesal. Dia melirik kearah kamar Raya, sepi. Dia melirik kearah dapur dan kamar mandi, tak ada suara apapun disana.

Masih gelap saat Arya membuka pintu dan mendapati seseorang yang wajahnya tampak sangat gusar.

“Mas, saudara kembarnya Raya kan?” tanya orang tersebut dengan sedikit panik.

“Ya,” jawab Arya enggan.

“Semalam Raya kecelakaan sepulang dari tempat kerja, sekarang jasadnya berada dirumah sakit.”

Entah beberapa saat Arya merasakan seluruh tubuhnya seolah berhenti, jantungnya berhenti berdetak, otaknya entah melayang-layang kemana, tubuhnya kaku dan dingin. Kata-kata dari orang yang berada didepannya seolah terlalu sulit untuk dipahaminya. Mungkin tidak ingin dipahaminya. Arya ingin berharap ini adalah mimpi dan dia sangat berharap bisa buru-buru bangun dari mimpi yang membuatnya seolah di pukul palu godam, semakin dia berharap semakin dia menyadari bahwa ini adalah nyata.

“Tapi semalam dia bersamaku,” bisik Arya lirih dan bulir bening meluncur perlahan keluar dari matanya.

♣ ♣

Satu persatu para pelayat mulai pergi meninggalkan Arya yang masih terpaku sendiri larut dalam kesedihan yang begitu sulit diselami kedalamannya. Arya masih merasakan jiwa Raya masih berada di sampingnya walau jasadnya kini telah berada dalam pelukan bumi. Dia merasakan begitu sepi, bukan hanya karena kepergian Raya tapi sepi karena rasa penyesalan.

Arya dengan langkah gontai masuk ke kamar Raya, dia masih sangat berharap menemukan saudara kembarnya berada di kamar tersebut, tapi kosong. Hanya kepedihan yang dia temukan di kamar tersebut. Kepedihan yang menyelimuti kesendirian saudara kembarnya. Kepahitan yang ditelan sendiri oleh saudara kembarnya. Dan kenapa di saat seperti ini Arya merasa baru menyadarinya, kemanakah dia selama ini. Sekarang, saat ini, kenapa dia baru begitu menginginkan untuk memeluk saudaranya tersebut dan bilang kepadanya, ‘kamu tak pernah sendiri, ada aku disampingmu.’

Arya menemukan buku harian Raya tergeletak di meja belajar. Arya mengambilnya dan membaca dilembaran terakhir yang seolah tintanya belum benar-benar kering.

Aku hanya memohon satu kesempatan,

Aku hanya ingin bilang minta maaf kepada Arya, karena aku merasa tak pernah pantas menjadi saudara kembarnya.

Aku hanya ingin mendengar suaranya terakhir kali, karena aku begitu kesepian dengan kediamannya.

Jika aku bisa, aku akan melakukan apa saja agar Arya kembali bersikap seperti dulu, bahkan termasuk mematikan rasa cinta dalam hatiku.

Jika Tuhan memberikan pilihan, aku akan lebih memilih menjadi bayangan Arya daripada menjadi saudara kembar yang membuat hati Arya selalu tersiksa.

Aku tak pernah menyesal menjadi saudara kembar Arya tapi yang menyesalkan bagiku kenapa diriku tak pernah bisa menjadi saudara yang baik bagi Arya.

Caci maki orang lain lebih mudah kutelan mentah-mentah walau pahit dan menyayat perasaanku daripada sikap diam saudaraku sendiri.

Aku lebih memilih ditampar bahkan diludahi mukaku daripada diacuhkan oleh saudaraku sendiri.

Aku tak punya siapa-siapa.

Hanya dia yang aku punya sebagai saudaraku.

Aku begitu ketakutan selama ini, dan keberadaan dialah yang membuatku sedikit lebih berani.

Aku merindukan senyumannya.

Bahkan untuk bilang bahwa aku membutuhkannya begitu sulit kuutarakan.

Apalagi harus bilang aku menyayanginya.

Tapi walau dia diam, aku selalu menyakini dalam diriku bahwa dialah satu-satunya orang yang mampu menerimaku apa adanya, menerimaku sebagai saudaranya, hanya mungkin dia terlalu sulit mengungkapkannya.

Tuhan, terima kasih telah melahirkanku sebagai saudaranya, walau kami tak pernah bisa sama.

Tangisan Arya tak mampu dibendungnya, berada dalam kamar tersebut seolah membuatnya sulit menarik udara ke paru-parunya. Dia keluar dengan perasaan hancur berkeping-keping karena kehilangan sebagian dari kehidupannya.

Di ruang tengah Arya melihat sepiring nasi goreng. Bukan mimpi. Nasi goreng yang semalam begitu dia acuhkan karena merasa enggan menerimanya. Tapi sekarang dia seolah sangat lapar dan ingin menikmati nasi goreng tersebut. Nasi goreng buatan saudaranya. Nasi goreng yang dibuat dengan ketulusan dan kasih sayang. Nasi goreng terakhir yang dipersembahkan untuknya.

Dengan kalap seperti orang sangat kelaparan Arya meraih bulir-bulir nasi goreng yang sudah mulai basi. Dengan tangan gemetar dia suapkan nasi tersebut ke dalam mulutnya sendiri. Dia sangat lapar, dia lapar akan kehadiran saudaranya, dia lapar akan ketulusan saudaranya, dia lapar akan kasih sayang saudaranya. Tapi mulutnya tak mampu mengunyahnya dengan sempurna, seolah dia mengunyah batu-batu terjal yang selama ini dilalui saudaranya seorang diri, Arya merasakan kepahitan dan kehidupan yang sangat pedas yang dialami saudaranya dari tiap bulir nasi yang berhasil dia hancurkan dengan giginya. Air mata bercucuran tak tertahankan meluruh dan bersatu dengan bulir-bulir nasi yang seolah mengoyak-koyak rasa kerinduannya. Tapi tak satupun bulir-bulir nasi tersebut mampu dia telan, tak satupun. Dan Arya marah. Marah pada dirinya sendiri. Marah pada keangkuhannya. Marah kepada kemarahannya yang telah membentangkan tembok pemisah dengan saudaranya sendiri. Tembok yang dia bangun sendiri dengan keangkuhannya, dan kini dia begitu sulit meruntuhkannya. Tembok yang membatasinya dengan kasih sayang dari saudaranya. Tembok itu bahkan membuatnya tak mampu menelan bulir-bulir nasi goreng terakhir buatan saudaranya.

“Tuhan, beri saya satu kesempatan lagi,” Arya memohon dengan sorot mata yang melemah.

Selasa, 05 Juli 2011

Utukki : Sayap Para Dewa


I am one wing and you are equally the other

Suatu rekor tersendiri bisa baca buku setebal 408 halaman dalam waktu seminggu padahal aku tipikal orang yang lambat dalam membaca.

Hal-hal yang berbau mitos dari dulu sangat aku sukai, maka saat membaca sinopsis buku Utukki : Sayap Para Dewa, bayanganku tentang negeri para dewa-dewi sudah lebih dahulu melanglang buana. Tapi yang menjadi menarik dari buka karya Clara Ng ini bukan mengangkat mitos dewa-dewi Yunani atau Romawi yang sudah sering kita temui, tapi ini tentang dewa-dewi dalam kehidupan masyarakat Mesopotamia Kuno yang hidup 5.000 tahun sebelum Masehi.

Yang perlu ditekankan sebelum membaca buku ini adalah buku ini bukan bertema tentang sejarah atau mitos, bukan juga bertema religi, buku ini hanya bertemakan cinta.... dan hanya cinta dengan mitos sebagai latar belakangnya.

Kisah bermula 5.000 tahun sebelum masehi di tanah Mesopotamia yang subur. Cinta terlarang muncul dari seorang Enka, pendeta muda yang saling jatuh cinta dengan Nannia, utukki ke delapan yang wujudnya tidak seperti monster-monster utukki yang lain. Nannia sendiri adalah putri bungsu dari Dewa Anu (Dewa langit) dan Dewi Antu (Dewi Bumi). Tapi kisah cinta mereka menjadi lebih sulit ketika Dewi Ishtar (Dewi cinta dan perang) ternyata juga mencintai Enka dan dia rela menjadi manusia untuk mendapatkan cinta Enka, tapi cinta Enka hanya untuk Nannia.

Dewa Anu dan Dewi Antu pun marah dengan adanya kisah percintaan seperti ini. Dan perjanjian-perjanjian takdir tak dapat terelakkan, Dewa Anu menuliskan takdir untuk Enka, Nannia dan Dewi Ishtar. Jika Cinta antara Enka dan Nannia terus abadi bahkan sampai 7.000 tahun sesudahnya maka mereka akan mengakui kisah cinta mereka, namun jika tidak maka Dewi Ishtar yang akan memiliki jiwa Enka

Setelah 7.000 tahun berlalu, Thomas dan Celia sebagai titisan Nannia dan Enka harus menggenapi takdir kisah cinta mereka. Apakah cinta mereka akan terus abadi??? Di tengah kesulitan-kesulitan yang menghadang mereka (dari Dewi Ishtar, Dewi Antu dan ke-7 monster Utukki yang lain), Apakah cinta mereka layak untuk mendapatkan pengorbanan bahkan dengan mengorbankan nyawa sekalipun???

Kisah ini sebenarnya ingin mengajarkan kepada kita memahami apa arti sejatinya cinta, cinta bukanlah membelenggu tapi cinta sejati adalah membebaskan. Bahwa cinta mampu membuat hati yang keras menjadi lumer, membuat jiwa yang lemah menjadi kuat dan membuat siapapun rela berkorban.

Selain itu, manusia memang tak mungkin bisa merubah masa lalu untuk merubah suratan takdir yang telah digariskan, tapi setidaknya manusia bisa meraih akhir yang berbeda yang lebih indah karena kekuatan cinta.

Buku ini cukup lumayan unik, dengan plot yang seperti puing-puing berserakan yang seakan memaksa kita untuk terus membaca untuk mengetahui jawaban akan pertanyaan-pertanyaan yang muncul dibenak pembaca saat membaca penggalan-penggalan cerita sebelumnya. Seperti pertanyaan yang muncul di awal cerita kenapa bisa Dewi Ishtar bisa mencintai Celia??? Apakah Dewi ini lesbian, tapi setelah beberapa waktu baru kita menyadari bahwa Celia adalah titisan Enka bukan titisan Nannia, sedang Thomas adalah titisan Nannia. Walau plot ceritanya maju mundur bagiku tidak menjadi soal karena penulis mampu membuat loncatan-loncatan yang halus dan wajar saat harus berpindah-pindah dari plot satu ke plot yang lain.

Selain itu gaya bahasanya juga tidak terlalu kaku, apalagi saat kemunculan Dewa Marduk yang sedikit slengekan tapi terkesan gokil. Untuk ukuran karya penulis lokal, aku acungin jempol untuk Clara Ng karena punya imajinasi yang begitu kuat. ^_^

............Cinta adalah kekuatan manusia dan indera kedelapan manusia adalah Cinta.........

Sabtu, 25 Juni 2011

Cermin Diri



Akhirnya aku dapat PR juga dari Mbak Meutia Mansur, dan sungguh PR yang membuatku harus merenung sepanjang malam. Siapakah sebenarnya diriku? bahkan sampai aku harus kirim beberapa pesan ke teman-teman dekat, hanya ingin tahu bagaimana pandangan mereka tentang diriku. Dan pagi ini, saat aku melihat bayangan diriku di cerminpun aku masih bertanya pada diri sendiri "siapakah dirimu sebenarnya?"

Dan ternyata bercermin tentang diri sendiri malah lebih sulit daripada ketika kita menjadi cermin bagi orang lain, kadang kita dengan seenaknya memberikan penilaian kepada orang lain tanpa peduli berdampak baik atau buruk tapi kita kadang dengan pongahnya memberikan penilaian terbaik buat diri sendiri, kita kadang lebih sulit bersikap objektif terhadap diri sendiri.

Tapi aku tetap berusaha bersikap objektif terhadap diri sendiri, walau tidak selamanya bisa seratus persen.

Aku selalu berfikir bahwa diriku bukanlah pribadi yang menarik, tapi bagi beberapa orang aku malah terlalu menarik, mungkin karena beberapa keanehanku.

Dan inilah 10 hal tentang diriku yang mungkin sebagian orang-orang terdekatku sudah banyak memahaminya.

1. EGOIS, KERAS KEPALA DAN MOODY

kata yang tepat menggambarkan tentang keseluruhan diriku, aku sangat egois jika itu erat kaitannya dengan hal-hal yang bersifat pribadi, bahkan saking egoisnya membuat orang-orang terdekatku harus ekstra hati-hati ketika memberikan saran kepadaku bahkan keluarga sekalipun, karena aku kadang tak mau menerima sesuatu yang memang tak aku inginkan.

walaupun sudah berusaha mengurangi kebiasaan mood yang suka berubah-ubah tapi tetap saja kalau sudah bad mood bakal diam seribu bahasa, bahkan tak menjawab saat ditanya juga tak menggubris kalau dipanggil. Bahkan juga bakalan tutup facebook untuk beberapa saat. Aku bakal menghindari orang lain saat bad mood agar tidak berdampak buruk bagi orang lain. Tapi kalau mood lagi baik bisa seperti seorang 'peri' kata beberapa temanku.

2. ANTI DURIAN

waaahhhh ini kesamaanku dengan mbak Meutia, mencium bau durian saja sudah bisa membuatku pusing dan sakit maag ku kumat karena asam lambung meningkat. Tapi kata temanku, semakin parah efek bau durian kepadaku maka bagi beberapa temanku itu adalah indikasi bahwa durian itu sangat lezat. Bahkan jika ada acara kumpul dan makan bersama aku melarang teman-temanku pesan jus durian, karena jika mereka melanggar maka aku bakal langsung pergi (sungguh egois). Tapi anehnya efek tersebut tidak akan terjadi jika itu hanya aroma durian sintetis (aku bisa makan permen rasa durian).

3. TERTUTUP

sangat jarang mau terbuka untuk masalah yang sering menimpaku dan lebih suka menuangkannya dalam bentuk tulisan, bahkan sering membuat sahabat-sahabatku complain karena aku jarang mau terbuka dengan mereka.

4. PENDENGAR YANG BAIK & TEMPAT CURHAT YANG MENYENANGKAN

entah kenapa sahabat-sahabatku bilang bahwa serasa nyaman curhat denganku, padahal kadang saat curhat aku bisa bikin mereka yang curhat kepadaku sampai nangis dengan kata-kataku yang kadang terlalu lugas.

5. CEPLAS-CEPLOS

ini nih yang sering membuat orang lain 'sakit hati' dengan gaya bicaraku yang kadang terlalu ceplas-ceplos bahkan kadang tak peduli bahkan dengan orang yang lebih tua dariku. ini contohnya kata-kata yang pernah aku ucapin kepada tanteku sendiri "jangan mentang-mentang jadi orang yang lebih tua jadi lupa caranya beretika kepada yang muda, dan jangan salahkan yang muda tidak bisa bersikap sopan kepada yang tua kalau yang tua tidak bisa mengajarkan sopan santun kepada yang muda"

6. PEMARAH SEKALIGUS PEMAAF

aku mudah tersingguh dan kadang cepat marah, tapi secepat itu marah secepat itu pula hilang dan memaafkan.

7. FEMINIM

dari kecil aku sudah dibilang seperti perempuan, awalnya aku merasa minder karena merasa itu adalah kekuranganku, tapi sekarang aku akan bilang bahwa itu adalah kelebihanku.

8. BERTATAP MATA

paling tidak suka jika orang lain menatap mataku dengan lekat-lekat. Seolah mereka sedang menelanjangi dan mengulitiku hidup-hidup.

9. MENGHARGAI PERBEDAAN

aku sangat menghargai dengan perbedaan, karena aku berfikir kalau semua orang sama maka dunia ini malah bakal jadi 'aneh'. Bahkan saking sukanya dengan perbedaan aku dengan mudah menikmati musik-musik yang beragam seperti barat, korea, jepang, india, mandarin, lokal bahkan dangdut dan campur sari. Bahkan begitupun dengan film.

10. SANGAT MENYUKAI CERITA TRAGIS

salah satu keanehanku adalah sangat menyukai cerita dengan akhir cerita yang sangat menyedihkan, rasanya puas kalau sudah mencucurkan air mata seember.

Selain 10 hal di atas sebenarnya masih banyak beberapa hal tentang diriku, antara lain suka sekali membuat kue/kudapan tapi paling males kalau disuruh masak walau sebenarnya bisa. Suka sekali makan dan paling benci orang yang suka 'mencaci makanan' apalagi kalau makanan pemberian orang lain. Atau juga gayaku yang kadang kata orang 'sok' selebritis (^_^). Bahkan juga sangat ngefans sama yang namanya BRITNEY SPEARS semenjak kelas 3 SMP sampai sekarang ini. Tapi 10 hal di atas sudah sangat mewakili siapa sebenarnya diriku.

Dan Akhirnya PR ini kelar juga, dan saatnya setor tugas ke Ibu Guru Meutia Mansur ^_^

Kamis, 02 Juni 2011

Tentang Sahabat


David

Aku berdiri tertegun dihamparan tanah berumput yang menghijau. Didepanku duduk dengan tenang sosok sahabatku yang seolah begitu khitmad menikmati cahaya sang surya di pagi hari yang secara perlahan meluruhkan bulir-bulir embun yang sedari tadi nampak bermalas-malasan di atas helai-helai daun.

Dia tampak ringkih di atas kursi rodanya. Penyakit telah menggerogoti tubuhnya, tapi tidak demikian dengan semangat juangnya. Dia masih bisa bercahaya walau dengan sisa-sisa tenaga yang dimilikinya.

“Sebaiknya kita kembali ke kamar,” ajakku perlahan mencoba membuyarkan lamunannya. Dia hanya membalas dengan anggukan kecil dan senyuman yang membuat hatiku tertusuk pelan. Perlahan kemudian aku mendorong kursi rodanya.

Aku dan dia telah lama bersahabat, kami adalah sepupu yang sejak kecil tumbuh besar bersama walau aku lebih tua satu tahun darinya. Kami juga punya tiga orang sahabat lagi yang bagi kami sudah seperti layaknya saudara. Kami berlima telah banyak melalui suka, duka, tangis, marah dan kegembiraan bersama. Tapi sejak kurang dari setahun terakhir, saat dia di diagnosa mengalami gejala gagal ginjal akibat penyakit leukemia yang dia idap sejak kecil, membuat semuanya perlahan mulai berubah. Kami sebagai sahabat tidak pernah meninggalkannya, dia sudah menjadi bagian dari hidup kami. Kami semua berjuang sekuat tenaga agar dia bangkit, walau kadang kami sempat menyerah. Di saat kami menyerah terkadang malah dia yang memberikan semangat kepada kami. Dia orang yang kuat, dan bagaimana mungkin kami bisa meninggalkan orang seperti dia jika hanya kami yang dia miliki sekarang.

“Kenapa diam?” Tanyanya.

“Tidak,” jawabku seraya mengusap air mata yang membendung di sudut mataku bagai setitik embun di ujung daun yang siap untuk jatuh ke tanah.

Diantara kami berlima, mungkin aku dan dia yang paling dekat, walau kami sangatlah berbeda. Dia pendiam dan tenang, sedang aku sering bersikap ceroboh dan kekanakan. Karena perbedaan itu membuat kami tidak jarang bertengkar untuk hal-hal kecil, seperti halnya siapa yang harus bayar makanan yang kami makan atau hal-hal kecil lainnya. Sekarang aku begitu merindukan saat-saat seperti itu. Tapi kekompakan kami tak semalanya selalu sejalan. Dari hasil tes dokter, ginjalku tidaklah cocok untuk didonorkan kepadanya, walau kami masih ada ikatan darah.

“Andai saja!” Gumamku perlahan.

“Kenapa?” Bisiknya menanggapi gumamanku. Dia mendongak ke belakang, tatapan matanya menuju ke arah mataku. Dengan segera aku berusaha menyembunyikan kegusaranku disana. Tapi terlambat, dia terlalu pandai membaca ekspresiku.

“Kau telah memberikan seluruh hidupmu untuk menjadi sahabatku, dan jika aku masih menginginkan yang lain maka sungguh sangat berdosalah aku,” ucapannya selalu saja mampu merasuk kesetiap sanubariku. “Aku seharusnya berterima kasih kepadamu,” lanjutnya pelan.

Saat memasuki kamar perawatannya, terlihat sosok perawat dan ketiga sahabat kami yang lain seolah menunggu kedatangan kami. Setelah sedikit berbasa-basi kami meninggalkan sahabat kami bersama perawat yang akan memeriksanya.

Tampak Yanik berjalan paling depan dengan tergesa-gesa diikuti oleh Selfi dan Pram di belakangnya. Kemudian baru aku menyusul. Aku sedikit bingung dengan tingkah mereka pagi ini.



Pram

Pagi ini aku disambut dengan kemarahan dua orang sahabat perempuanku dan mungkin sebentar lagi David, salah satu sahabat laki-lakiku juga akan ikut mendampratku. Walau aku berjalan dengan kakiku sendiri, namun seolah kemarahan mereka telah menyeret-nyeret seluruh jiwaku. Aku harus mengakui, bahwa aku mungkin satu-satunya orang yang paling pantas dipersalahkan sekarang ini.

Kami berempat bergegas memasuki salah satu ruangan kecil di rumah sakit dimana salah satu sahabat kami dirawat. Di depan pintu ruangan tersebut sangat jelas terpampang tulisan Drg. Selfi Rahmawati. Ya, itu adalah ruangan kerja salah satu sahabatku yang bekerja sebagai sebagai dokter gigi di rumah sakit ini.

“Ada apa ini?” Tanya David penuh kebingungan sesaat setelah dia menutup pintu ruangan tersebut agar tidak ada orang lain mengganggu pembicaraan kami berempat.

“Tanya saja kepada dia,” suara Yanik terdengar dengan intonasi yang sangat tinggi dengan telunjuk tertuju ke mukaku.

“Tenanglah sedikit,” Selfi berusaha mereda emosi Yanik.

“Sebenarnya ada apa?” David makin gusar.

“Kau tahu sendiri kan? Kalau dia kemarin bilang kepada kita bahwa dari hasil tes, ginjalnya juga tidak cocok untuk didonorkan kepada Adi” tanya Yanik kepada David. “Dia pembohong,” lanjut Yanik.

“Maksudnya?” David balik bertanya dengan bingung.

“Ya, Pram adalah satu-satunya dari kita berempat yang ginjalnya paling cocok untuk didonorkan kepada Adi. Aku mengetahui hal ini dari Dokter Laksono yang menangani Adi selama ini,” jelas Selfi.

Aku merasa seperti pecundang, aku sudah siap jika sahabat-sahabatku sendiri merajamku, bahkan mencincang-cincang diriku. Aku memang salah karena berbohong kepada mereka, aku memang pengecut dan mungkin aku adalah satu-satunya sahabat yang bisa disebut tak memiliki rasa setia kawan. Tapi apakah kalian memahami kesulitanku? Teriakku dalam hati. Tanpa terasa air mataku meleleh, aku tak sanggup berkata apa-apa, mana mungkin aku punya sedikit kata untuk membela diri, justru pembelaan diri akan makin membuatku terlihat seperti setan di mata sahabat-sahabatku sendiri.

“Hapus air mata palsumu,” teriak Yanik kepadaku, tapi justru itu malah membuatku tak mampu menghentikan cucuran air mata yang sedari tadi berusaha aku tahan.

Yanik tampak geram, baru kali ini aku melihatnya semarah ini. Walau dia perempuan, tapi amarahnya sangatlah menakutkan. Tiba-tiba dia mendekat ke arahku, dengan kedua tangannya dia mencengkeram kerah kemejaku, didorongnya aku sampai tertahan ke salah satu sisi tembok. Aku pasrah, aku siap mengahadapi kemarahan apapun dari sahabatku. Sesaat lengan kanannya terayun ke udara, seolah sebuah tombak yang siap menghujam tubuhku. Tapi sebelum pukulan itu benar-benar mendarat di mukaku, Selfi sudah lebih dulu menghentikan lengan Yanik dengan tangannya yang kecil.

“Adi pasti sangat sedih jika melihat kita seperti ini,” bisik Selfi dengan air mata yang mulai berlinang. Sesaat kemudian hening dan Selfi berjalan meninggalkan kami. Dia keluar dengan tangis yang tak mampu dia bendung lagi.

Yanik menghempaskan tubuhku begitu saja, dia berlari menyusul Selfi. Aku benar-benar lemah tanpa daya, tubuhku merosot ke lantai dengan muka sembab karena penuh air mata.

“Aku saja sangat berharap bisa menjadi donor bagi Adi, tapi aku juga tak bisa menyalahkanmu sepenuhnya,” desis David yang masih berada di ruangan itu.

Aku berusaha meraih tangannya saat dia hendak meninggalkanku dalam rasa bersalah yang menggunung. “Bukan aku tak mau, tapi Adi yang tak mengijinkannya,” bisikku dengan suara terisak. Sebenarnya aku tak ingin megatakannya, tapi aku terlalu lemah.

David tampak kaget, dan aku merasa kalah. Aku menangis, kulipat kedua lututku sampai menyentuh dadaku dan kubenamkan kepalaku disana. Kurasakan lengan David merengkuhku dalam pelukannya. “Kita tahu betul siapa Adi,” gumamnya lirih.

Ya, aku juga sangat tahu siapa Adi. Bukan karena aku sangat memahaminya, tapi aku tahu bahwa dia sangatlah sulit untuk dipahami.

Waktu itu aku merasa gembira saat tahu bahwa aku punya kesempatan untuk membuat Adi bertahan lebih lama bersama kami. Hasil tes menyatakan bahwa ginjalku cocok untuk didonorkan kepada Adi tapi rasa gembiraku segera sirna saat dia mengetahui niatku untuk mendonorkan salah satu ginjalku kepadanya.

“Aku tak akan pernah mengijinkamu mendonorkan ginjalmu untukku,” kata-kata itu masih terngiang dikepalaku.

“Tapi apa salahnya kita berusaha? Kami masih ingin bersamamu lebih lama,” kataku sembrono dan buru-buru kuhempaskan tubuhku untuk memeluk tubuhnya yang lemah tak berdaya.

“Asal kalian masih setia menjadi sahabatku, maka aku akan selalu bersama kalian,” bisiknya. “Aku ingin kamu meraih cita-citamu sebagai pemain bola yang hebat. Aku akan sangat bangga memiliki sahabat sepertimu. Maka dengan terpaksa aku tidak mengijinkan niat baikmu, bagaimana mungkin aku bisa disebut sahabat jika aku merampas masa depan sahabatku sendiri? Katakan kepada teman-teman yang lain bahwa ginjalmu tidak cocok untuk didonorkan padaku.”

“Tapi,” sergahku.

“Aku tak akan memaafkanmu jika aku harus terus hidup dengan menanggung beban rasa bersalah,” bisiknya tegas dan aku cukup mengerti untuk tak lagi membantahnya.



Selfi

Aku meninggalkan sahabat-sahabatku karena aku sudah merasa tidak sanggup menahan kepedihan yang kurasakan. Beban di hatiku begitu membuncah tak karuan. Di dalam ruangan tadi aku terasa sulit bernafas, melihat sahabat-sahabatku bertengkar membuatku makin sadar bahwa aku juga memiliki andil memikul rasa bersalah tersebut. Walau sulit untuk memungkirinya, aku juga tak sanggup menyalahkan sepenuhnya keputusan Pram yang tidak mau mendonorkan ginjalnya untuk sahabat kami, Adi. Kenapa harus menyalahkan Pram jika aku sendiri tak mampu memberikan apa-apa kepada sahabatku sendiri. Bahkan sebagai dokterpun aku tak mampu membuat sahabatku terlepas dari rasa sakitnya selama ini.

“Sahabat seperti apa aku ini?” Tanyaku bergumam saat suatu malam aku menemani Adi. Kukira aku bertanya dalam hati, tapi Adi mendengarkan perkataanku dengan sangat jelas.

“Kau sahabat yang sangat hebat,” jawabnya lirih tapi mampu membuatku tersentak kaget. Dia tersenyum hangat, sehangat mentari di pagi hari.

“Istirahatlah,” kataku mengalihkan perhatiannya. “Aku yang akan menemanimu malam ini,” sambil kurapikan letak selimut yang membungkus tubuhnya yang kini tampak kurus.

“Kenapa kamu bertanya seperti itu?” Dia balik bertanya.

Kuraih tangannya dan kugenggam tangannya yang begitu lemah seolah tubuhnya hanya terdiri dari tulang-belulang yang terlapisi kulit yang sangat tipis. Di sekujur tubuhnya juga terdapat bekas-bekas suntikan yang seolah menceritakan kesakitan yang dialaminya selama ini.

“Kadang aku cuma berpikir, aku adalah dokter tapi kenapa aku tak bisa menolong sahabatku sendiri?” Ucapku lirih.

“Kau sudah banyak menolongku selama ini. Menjadi sahabatku adalah pertolongan yang tak mungkin dapat tergantikan oleh apapun di dunia ini,” sergahnya berusaha menenangkanku.

“Kenapa aku dulu tidak ambil spesialis penyakit dalam?” Sebenarnya aku bertanya untuk diriku sendiri.

“Setiap manusia punya jalan cerita masing-masing untuk mengisi dunia ini. Tidaklah penting bagaimana tentang jalan cerita itu sendiri, tapi yang terpenting adalah apakah tiap jalan cerita itu bermanfaat bagi sesama. Sebagai sahabat, aku sangat bangga kepadamu karena kamu sebagai dokter telah menorehkan jalan kehidupan yang sangat bermanfaat bagi orang lain. Dan kamu sebagai sahabat telah melukiskan kenangan indah dalam hidupku, maka tak ada sedikitpun rasa sesal ada di hatiku.”
Aku hanya mampu menitikkan air mata mendengarnya berkata seperti itu. Di saat seperti ini dia masih saja tampil begitu kuat untuk memberikan semangat kepada sahabatnya.

Tapi melihat sahabat-sahabatku hari ini bertengkar, aku merasa sangat sedih. Aku yakin jika Adi mengetahuinya pasti dia akan terpukul dan itu sama saja dengan menambah rasa sakit yang selama ini dirasakannya.

Aku sebenarnya juga sangat tahu bahwa harapan hidup bagi Adi sekarang sangatlah kecil. Kemoterapi yang selama ini dia jalani memang banyak membantu tapi selalu saja ada ketakutan pada diriku bahwa penyakit itu akan kembali menyerang dan merenggut sahabat terbaikku, dan kini gagal ginjal yang dia alami seolah menandakan bahwa penyakit leukemia yang dia derita belum benar-benar hilang dari tubuhnya. Aku ingin dia bertahan selama mungkin untuk tetap bisa berada di sisi kami atau setidaknya dia tetap bisa tersenyum di hari-hari terakhirnya bersama kami.

“Tuhan! Aku masih ingin bersamanya lebih lama lagi,” desisku lirih disela isak tangisku.

“Aku juga berharap hal yang sama,” bisik Yanik yang entah sejak kapan berada di sampingku.

Kami berdua duduk terdiam di sebuah gazebo yang terletak di salah satu taman rumah sakit tersebut.

“Adi pasti akan sangat sedih jika kita seperti ini,” bisikku dengan suara serak.

“Aku tahu, maafkan aku,” jawab Yanik lirih.



Yanik

Aku tahu betul siapa diriku, sebagai seorang perempuan aku selalu tampil layaknya laki-laki. Aku memang tomboy sejak kecil hingga jarang memiliki teman. Aku sering dianggap aneh. Tapi tidak demikian dengan Adi. Dia mungkin salah satu orang yang menilai orang bukan dari penampilan. Dia yang mempertemukanku dengan sahabat-sahabat yang hebat yang tidak hanya bisa menerima kelebihan orang lain tapi dengan senang hati menerima kekurangan orang lain.

“Orang hebat bukanlah orang yang bisa menerima kelebihan orang lain, tapi orang hebat adalah orang yang mampu menerima kekurangan orang lain dengan secara wajar,” kata-kata Adi saat pertama kali kami kenal selalu terngiang di kepalaku. Aku juga heran kenapa dia mau mengajakku berkenalan waktu itu.

Terlalu banyak alasan untuk menyayangi orang seperti dia dan tak ada alasan bagiku untuk tidak menyayanginya, walau kami sangatlah berbeda jauh. Jika aku adalah perempuan dengan penampilan laki-laki maka Adi adalah sosok laki-laki yang kadang memiliki keluwesan dan kelembutan yang biasanya dimilki perempuan.

Bersahabat dengan orang-orang yang memiliki kepribadian yang sangat berbeda-beda memang kadang teramat sangat sulit untuk dijalani, tapi justru itulah kunci persahabatan yaitu mampu memahami bahwa perbedaan itu indah. Tak perlu sama untuk menjadi sahabat. Terkadang kami berlima juga pernah mengalami masa-masa sulit, tapi kami mampu bersama-sama menghadapinya. Mungkin kami bukan lagi disebut sahabat, tapi lebih tepat disebut sebagai saudara.

Aku tak mampu mengukuhkan terus amarahku setelah tahu alasan kenapa Pram tidak mendonorkan ginjalnya kepada Adi. Aku juga menyesal menuduhnya dengan tuduhan yang sangat tak beralasan karena aku sendiripun tak memiliki daya upaya untuk menolong sahabatku ini. Mungkin Aku hanya mampu berdo’a.

Setiap hari aku selalu saja berdo’a, bahkan setiap waktupun aku selalu berdo’a untuk sahabatku, tapi semakin aku berdo’a semakin banyak pertanyaan muncul disana. Kenapa aku berfikir bahwa Tuhan tidaklah adil?

“Kenapa aku berpikir bahwa Tuhan tidak adil untuk kita?” Aku bertanya kepada Adi pada suatu malam saat aku menjaganya seorang diri.

“Kenapa berpikir seperti itu?” Tanya dia lemah setelah tadi pagi dia selesai melakukan kemoterapi untuk kesekian kalinya dalam hidupnya.

“Kenapa orang sebaik kamu harus mengalami hal seperti ini? Kenapa tidak aku saja?” Tanyaku polos.

Dia tersenyum mendengar pertanyaanku. “Pernahkah kita berpikir, jika di dunia ini tidak pernah ada kegelapan akankah ada kunang-kunang yang mampu bercahaya dengan indah?” Dia balik bertanya kepadaku dan aku hanya bergeleng tidak mengerti.

“Untuk apa ada kunang-kunang jika tidak pernah ada gelap,” gumamku.

“Tuhan menciptakan sesuatu pasti ada manfaatnya. Tuhan juga sangat menyayangi kita walau dengan cara yang berbeda-beda. Jangan sekali-kali kita menghujat kepada Tuhan jika kita diberikan hadiah berupa kegelapan dalam hidup kita. Tuhan hanya ingin melihat kita mampu bersinar bagaikan kunang-kunang yang bersinar indah di gelapnya malam.”

Mendengarkan dia berkata seperti itu mau tak mau membuat hatiku takluk penuh keharuan. Aku hanya mampu menitikkan air mata dan merangkulnya. Jika orang seperti dia saja masih mampu bersikap kuat dan tegar kenapa aku tidak. Aku harus kuat, aku harus tegar untuk sahabatku.

“Dan memiliki sahabat-sahabat seperti kalian adalah cahaya yang aku dapatkan di balik kegelapan yang dihadiahkan Tuhan kepadaku,” bisiknya kepadaku malam itu.



Adi

Seperti kunang-kunang yang bersinar terang ketika gelap datang, seharusnya seperti itulah insan di dunia ini, bersinar terang ketika gelap (masalah) menyapa. Jadi jangan pernah hujat Tuhanmu yang telah menghadiahkan jalan gelap (masalah) dalam perjalanan hidupmu, karena sesungguhnya Tuhan menyayangimu dan ingin membuatmu bercahaya untuk menghiasi dunia ciptaanNYA agar lebih indah.


Selama ini aku hanya mencoba berusaha menjalani hidupku dengan cara yang biasa-biasa saja, tak lebih dari itu. Walau aku kehilangan kedua orang tuaku di saat usiaku masih sembilan tahun tapi aku tak pernah merasa kehilangan kasih sayang. Begitu banyak orang-orang di sekelilingku yang begitu hebat menyayangiku. Terlebih bisa memiliki sahabat-sahabat yang hebat dan selalu berada di sisiku dan yang paling penting adalah mereka mampu menerimaku dengan seada-adanya diriku.

Mengidap leukemia membuatku harus merasakan berbagai macam rasa sakit yang sulit diungkapkan dengan kata-kata, tapi aku yakin aku mampu bertahan dengan dukungan orang-orang yang menyayangiku, walau aku sendiri sadar bahwa kemampuan bertahanku suatu saat pasti ada batasnya.

Memiliki sahabat seperti David, Pram, Selfi dan Yanik membuatku mampu tersenyum karena Tuhan masih sangat menyayangiku dengan mengirimkan orang-orang seperti mereka dalam hidupku sebagai sahabat. Mereka seolah cahaya–cahaya pelangi yang membuat hidupku menjadi kaya warna. Mereka adalah cermin yang mampu merefleksikan tentang siapa diriku tanpa merasa harus untuk menghakimiku.

Aku tahu sahabat-sahabatku sangat menginginkanku bertahan lebih lama lagi bersama mereka, tapi kehendak Tuhan tak pernah ada yang tahu. Bukan aku tak mau berusaha untuk bertahan, tapi dengan menerima donor ginjal dari Pram bisa membuatku merasa bersalah jika hal itu bisa merenggut harapan masa depan sahabatku sendiri. Mereka telah terlalu banyak memberi, jadi apa pantas diriku membalasnya dengan merenggut masa depannya. Do’a dan kasih sayang mereka saja sudah mampu membuatku bertahan selama ini, terus untuk apa aku masih harus menginginkan yang lain. Aku tak pernah tahu apakah aku pernah menginginkan memilki sahabat seperti mereka, tapi yang aku tahu aku bahagia memiliki mereka.

Malam makin naik dan semakin pekat. Dingin embun mulai menyapa bumi dan aku merasakan dingin mulai menjamah seluruh tubuhku. Pandanganku mulai kabur dan sayup-sayup aku masih mendengar kegaduhan malam itu. Aku hanya ingin istirahat. Aku hanya ingin memimpikan sahabat-sahabat tercintaku. Bahkan dalam mimpipun aku hanya menginginkan mereka selalu menemaniku.

Dingin makin menyerang, tapi rasa sakit yang selama ini kurasakan mulai berangsur hilang. Aku merasakan diriku begitu ringan hingga seolah anginpun mampu meniup dan menerbangkan diriku. Aku melihat para Dokter dan perawat begitu sibuk berada di sisi sebuah tempat tidur, aku mencoba melihat dan kulihat wajah yang tidak asing tergolek lemah dengan senyum tersungging di wajahnya yang memucat.

Aku keluar ruangan tersebut, seolah aku memiliki tenaga untuk berjalan. Kulihat David, Pram, Yanik dan Selfi tampak duduk dengan wajah tegang di koridor itu. Kulihat dokter yang tadi, keluar dari ruangan yang sama dari tempatku keluar. Dia seolah berbisik kepada sahabat-sahabatku, dan menyerahkan sesuatu kepada Selfi, aku tahu itu adalah selembar foto yang selama ini aku simpan, foto yang berisi sosok kami berlima dengan wajah penuh senyum kegembiraan. Foto yang selalu menemaniku seolah sebagai wakil keberadaan sahabat-sahabatku.

Aku berada di sisi mereka, tapi seolah mereka tak mampu melihat diriku. Aku ingin memeluk Pram yang kulihat tampak melampiaskan kemarahannya dengan memukul tembok dengan sekuat tenaga, tapi kini aku tak lagi mampu melakukannya. Aku ingin mengusap air mata yang mengalir dari mata Yanik yang biasanya selalu tampil kuat, tapi aku juga tak mampu melakukannya. Aku ingin menggenggam erat tangan Selfi yang mungil, tapi itu juga tak kuasa untuk aku lakukan. Aku ingin bersandar di bahu David yang seperti dulu sering aku lakukan, tapi akupun merasa seolah terhempas di lahan yang kosong.

Hatiku masih mengingikan untuk terus bersama mereka tapi tiba-tiba ada dua sosok putih yang menarikku meninggalkan mereka. Tapi aku sadar mungkin inilah yang terbaik untuk kita.


Walaupun mata kalian tidak lagi selalu dapat melihatku, tetapi mata hati kalian akan selalu dapat mengingatku karena aku akan terus hidup di hati dan kenangan kalian.

Selasa, 24 Mei 2011

Shin Suikoden 1



Sudah sejak dulu saya ingin sekali membaca buku karya Eiji Yoshikawa, seperti Taiko atau Musashi, tapi mungkin karena belum berjodoh angan-angan itu serasa hampir begitu saja menguap, sampai sekitar sebulan yang lalu saat saya nyasar di Toko Buku Gramedia. Di depan langsung disambut oleh jajaran buku-buku yang bercover warna biru. Setelah saya mendekati, saya langsung tertarik dengan desain covernya, yang lebih membuat saya tertarik adalah nama pengarang yang tertulis, yaitu Eiji Yoshikawa yang begitu melegenda. Buku tersebut berjudul SHIN SUIKODEN (kisah klasik batas air) dan tanpa pikir panjang langsung saya bawa buku tersebut ke kasir.

Hampir sebulan buku tersebut terlantar di laci lemari saya (karena saya masih sibuk dengan urusan lain), hingga beberapa hari yang lalu buku tersebut baru bisa saya sentuh. Dan surprise banget baca buku tersebut (walau awalnya masih agak bingung dengan alur ceritanya). Baru kali ini buku setebal 486 halaman bisa saya baca dalam kurun waktu kurang dari satu minggu, atau tepatnya selesai baca selama 4 hari (padahal saya termasuk tukang baca yang lamban).

Buku ini berkisah tentang 108 bintang (108 Bandit Budiman Ryou Zan Paku) yang bersatu hendak menggulingkan pemerintahan Kaisar Ki Sou (Dinasti Sou, Cina) yang dipenuhi oleh pejabat-pejabat yang korup, sedang sang Kaisar seolah tidak peduli dengan penderitaan rakyatnya. Di buku pertamanya yang diterjemahkan langsung dari bahasa Jepang ini kita baru akan diajak mengenal beberapa tokoh yang kelak akan bertemu untuk satu tujuan tertentu. Mereka antara lain Shi Shin, pemuda dengan rajah sembilan naga di tubuhnya, ahli tongkat yang meski mudah emosi, namun sangat menghargai pertalian antarlelaki sejati. Ro Chi Shin si Pendeta Bunga, mantan polisi militer dengan tubuh dan sikap bagaikan raksasa kasar, namun berhati lembut laksana bunga musim semi yang dirajah indah menakjubkan di punggungnya. Cendekiawan Go, guru kuil di desa yang tersohor ketajaman akal dan kepiawaiannya dalam membuat strategi. Kemudian ada tokoh-tokoh lain diantaranya Rin Chu si Kepala Macan Kumbang, yang harus menjadi korban kejahatan para pejabat yang sewenang-wenang. You Shi si Iblis Berwajah Biru, Chou Gai (raja langit pemikul batu momentum), Kou Son Shou, Gen 3 Bersaudara, Ryu Tou dan lain-lain.

Di buku pertama ini awalnya seperti tak memiliki alur cerita yang jelas (saya juga sedikit bingung) karena masing-masing bab menceritakan latar belakang dan sepak terjang tokoh-tokoh utamanya yang masing-masing memiliki kisahnya sendiri. Barulah di bagian-bagian akhir kisahnya akan semakin fokus ke kisah perampokan iring-iringan hadiah ulang tahun dari seorang pejabat yang hendak diberikan kepada ayah mertuanya yang tak lain adalah Menteri Sai, salah satu pejabat yang korup.

Karena banyaknya tokoh dan nama yang diceritakan di buku ini saya kadang bingung sendiri. Mungkin karena saya tidak terbiasa membaca buku bertema seperti ini sehingga terkadang nama dan tokohnya sering tertukar-tukar atau sering lupa bahwa tokoh yang sedang diceritakan di bagian tertentu itu sama dengan yang dikisahkan di bagian sebelumnya.

Pengisahan tokoh-tokohnya memang menarik namun di paruh pertama novel ini karena masih belum jelas mau kemana sebenarnya kisahnya akan bergulir hal ini membuat saya sedikit bosan. Untungnya di bagian-bagian akhir tokoh-tokohnya bertemu satu sama lain dan bekerjasama untuk melakukan sebuah tindakan mulia (perampokan iring-iringan hadiah ulang tahun pejabat), hanya sayangnya ketika sedang seru-serunya kisahnya harus berhenti karena baru bisa dilanjutkan di jilid ke 2 nya.

Sepertinya di jilid-jilid selanjutnya kisah Shin Suikoden ini akan semakin menarik karena selain kisahnya yang telah semakin fokus dan kemahiran penulisnya dalam merangkai cerita yang seru dan memikat, tentunya jalan hidup dari para pendekar dalam kisah ini akan semakin banyak memberikan pesan moral yang baik bagi pembacanya baik itu dalam hal kesetiakawanan, kepahlawanan, dan komitmen serta semangat juang mereka dalam memperbaiki kesejahteraan rakyat yang telah direnggut oleh pemerintahan yang korup untuk memperkaya dirinya.

Satu kesan saya, akan sangat rugi membiarkan buku seperti ini teronggok begitu saja di etalase-etalase toko buku, dan makin penasaran dengan karya-karya Eiji yang lain. ^_^