..............berpendarlah dengan cahaya yang berkilau laksana kunang-kunang di malam yang gelap....... tak perlu ragu karena dari mana asalmu, karena kilau emas sekalipun berasal dari kubangan lumpur juga......................

Minggu, 15 Mei 2011

AYAH (sebuah cerpen)



Andy

Dua bulan setelah kepergian istriku untuk selama-lamanya, aku harus dihadapkan dalam situasi yang serba sulit. Mantan suami istriku meminta hak asuh atas putra mereka. Sebenarnya dalam hati aku ingin sekali menolaknya. Aku telah merawat anak ini selama hampir tujuh tahun terakhir. Bahkan dalam benakku saja tak pernah terbersit sedikitpun untuk membedakannya hanya karena dia bukan anak kandungku, dia telah mengisi begitu banyak rasa dalam hidupku. Ingin sekali kukatakan kepada mantan suami istriku ‘dia putraku dan kamu tidak berhak mengambilnya dariku,’ tapi apa daya ikatan darah mungkin dianggap lebih kental daripada ikatan rasa, hingga membuat kata-kata itu hanya terngiang dan berputar-putar dalam pikiranku saja.

Lebih sulit lagi ketika aku harus memberikan pengertian kepada Dika, putraku. Dia tampak cemberut dan marah. Mungkin dia merasakan hal yang sama denganku. Tiba-tiba dimatanya aku seolah menjadi sesosok ayah yang jahat terhadap anaknya sendiri.

Begitu menyakitkan ketika tuduhan itu tertancap di hatiku. Bahkan tatapan matanya menuduhku seolah aku ingin membuangnya dari kehidupanku. Aku begitu mencintai istriku, sekaligus aku mencintai putra dari istriku. Walau dia bukan putra kandungku tapi kasih sayangku tak pernah kurang selayaknya kasih sayangku kepada putra kandungku sendiri.

“Apakah ayah membenciku?” tanya dia saat aku membantu mengemasi barang-barangnya. Hatiku begitu miris mendengar pertanyaan tersebut.

“Bagaimana mungkin kamu bisa mengira kalau ayah membencimu?” tanyaku perlahan.

“Tapi kenapa ayah menyuruhku tinggal dengan orang yang tidak pernah aku kenal?” tanyanya dengan lugu, sekilas kulihat matanya berkaca-kaca dan aku tak mau menatap mata itu karena aku takut benteng pertahanku akan hancur seketika.

“Dia ayah kandungmu,” jelasku dengan intonasi yang kubuat selembut yang aku bisa.

Sekejap hening dan kulirik dia sedang mengusap matanya yang sembab dengan kedua belah telapak tangannya. Kemudian kami diam melanjutkan kesibukan kami mengemasi barang-barang miliknya.

“Seandainya ibu masih ada atau mungkin seandainya bisa, aku akan memilih untuk ikut ibu,” gumamnya lirih dengan suara sedikit serak.

&&&&&

Dika

Aku tumbuh seperti layaknya anak-anak lain sebayaku, tapi aku merasakan ada yang beda dengan diriku. Orang yang lebih dewasa disekitarku menganggap diriku punya pikiran lebih dewasa dari umurku. Selain itu, aku masih ingat bahwa sampai umurku belum genap empat tahun, aku tak pernah mengenal kata ‘ayah’ apalagi untuk memanggil seseorang dengan sebutan itu. Aku iri saat teman-temanku berbicara tentang ayahnya yang hebat, acara liburan dengan ayahnya yang menyenangkan, sedang aku tak pernah merasakannya. Aku sering bertanya kepada ibuku tapi dia selalu menjawab, “nanti kalau kamu sudah besar kamu akan tahu.” Untuk itulah aku sering mencoba memahami pola pikir orang dewasa, mendengarkan dengan cermat apa saja yang mereka bicarakan dan mereka lakukan, aku hanya ingin cepat besar dan aku ingin tahu kenapa aku tak bisa memanggil seseorang dengan sebutan ‘ayah’.

Saat ulang tahunku ke-4, ada seseorang yang tak aku kenal datang dengan senyuman hangat. Memberikan sebuah kado dengan wajah tersenyum kepadaku. Entah kenapa aku mengira aku bisa memanggilnya dengan sebutan ‘ayah’, tapi ternyata tak seperti yang kubayangkan karena ibu menyuruhku memanggilnya dengan sebutan ‘om’.

Sejak saat itu, om Andy sering sekali datang ke rumah. Dia sering menemui ibuku, tapi tak jarang dia malah menemaniku bermain play station hadiah darinya waktu ulang tahunku kemarin. Aku menyukainya karena dia baik. Aku sering bercerita kepada temanku, tapi tetap saja menurut mereka beda, hanya karena aku tidak memanggilnya ‘ayah’.

Aku masih ingat waktu itu, aku, om Andy dan ibuku sedang berada di ruang tengah bersama saat tiba-tiba om Andy berkata padaku. “Mulai sekarang, apakah Dika mau panggil om dengan sebutan ‘ayah’, tidak lagi memanggil om?” tanyanya lembut sambil mengusap sebagian rambutku yang jatuh tergerai di keningku.

Aku memandangnya sekilas dengan bingung, “apakah itu boleh?” aku balik bertanya dengan polosnya. Kemudian aku menatap kearah ibuku, mencari jawaban atas pertanyaanku. Aku tak ingin ibu marah, tapi ibu malah menggangguk dengan tersenyum seolah menyetujui. Aku pun menggangguk kepada om Andy dan dia memelukku dengan rasa hangat yang menyenangkan.

Sejak saat itu aku dengan bangganya sering bercerita kepada teman-temanku, bahwa aku sekarang punya ayah. Orang yang sangat hebat, orang yang selalu menemaniku belajar, mengantarkanku pergi ke sekolah dan juga sering mengajakku jalan-jalan, bahkan tiap malam aku selalu tertidur di gendongannya sebelum aku ditidurkan di kamarku sendiri.

Saat ibuku punya bayi kecil, aku kadang merasa ibu selalu saja hanya perduli dengan bayinya. Aku sering merajuk dan merengek hanya karena ingin diperhatikan apa keinginanku. Pernah aku sampai menangis karena ibu tak peduli dengan permintaanku karena dia sibuk dengan bayinya yang sering nangis, saat itu ayah datang.

“Kenapa kakak menangis?” tanya ayahku lembut seperti biasanya.

Aku tak menjawab dan terus saja menangis sampai suaraku serak.

“Mau ikut ayah?” ajak ayahku sambil mengulurkan kedua tangannya, dan aku menyambutnya, sedetik kemudian aku sudah berada di gendongannya.

Ayah mengajakku ke sebuah mini market yang tak jauh dari rumah dan membelikanku sebuah es krim yang lezat.

“Kakak sekarang sudah besar, jadi tidak boleh nangis lagi, malu kan sama adik kecil,” kata ayahku.

“Tapi ibu sudah tidak sayang sama kakak, ibu selalu sama adik kecil,” bantahku.

“Ibu selalu sayang sama kakak, ayah juga sayang sama kakak, tapi sekarang kan adik kecil belum bisa jalan, belum bisa ngomong, belum bisa makan sendiri jadi ibu harus menemani adik kecil terus. Kalau kakak kan sudah besar, kalau ingin sesuatu bisa minta ke ayah.”

Tapi sekarang semua telah berubah, semua cepat sekali berubah sejak ibuku meninggal. Aku mengira aku tak perlu takut karena masih ada ayah yang akan selalu menjagaku dan menyayangiku. Tapi semua menjadi begitu membingungkan saat tiba-tiba datang seseorang yang mengaku sebagai ayahku, aku bingung. Yang aku tahu ayahku hanya satu dan itu adalah ayah Andy.

Saat ayah mengatakan kalau aku akan tinggal dengan ‘ayah yang tak aku kenal’ aku menjadi sangat marah, aku mengira ayah sudah tak sayang denganku lagi. Bagaimana mungkin bila ayah sayang akan membiarkan aku tinggal dengan orang yang tak pernah aku kenal sebelumnya, walau kata ayah, orang itu adalah ayah kandungku.

Aku ingin minta sesuatu, aku ingin tetap bersama ayahku, tapi aku tak mengerti jalan pikiran orang dewasa. Kenapa mereka tidak bisa mengerti pikiran anak kecil? Semakin aku berusah untuk meminta semakin membuatku harus bersama orang asing yang katanya adalah ayah kandungku, Aku tak mau memanggilnya ayah, karena aku hanya memiliki satu orang ayah.

&&&&&

Yudha

Saat pertama kali melihatnya, aku begitu tertegun. Rasa haru tak mungkin dapat aku elakkan lagi. Dua belas tahun lamanya aku meninggalkan darah dagingku sendiri. Aku bercerai dengan istri pertamaku saat anakku masih berumur delapan bulan dalam kandungan. Aku memang bukan orang yang baik, aku ketahuan selingkuh dengan perempuan lain yang sekarang menjadi istri keduaku, istri pertamaku langsung meminta cerai ketika tahu ada perempuan lain dalam hidupku, terlebih perempuan tersebut juga mengandung anakku.

Setelah cerai, istri pertamaku seolah menghilang begitu saja dan tak membiarkanku untuk sekedar melihat darah dagingku sendiri. Sampai sekitar dua bulan yang lalu aku mendapat kabar dari seorang teman lama, kalau mantan istriku telah meninggal dunia. Dan saat itu yang mengganggu pikiranku adalah bagaimana keadaan anakku.

Aku berusaha mencari tahu keberadaan anakku. Akhirnya setelah genap satu bulan aku mencari, aku mendapatkan titik terang keberadaan anakku. Dalam bayanganku saat itu, dia akan mengenaliku sebagai ayahnya, tapi ternyata tidak. Dia begitu asing melihatku, dia bersembunyi di balik sosok tubuh yang dia panggil dengan sebutan ‘ayah’, sebutan yang seharusnya untukku tapi sekarang telah direbut oleh orang lain.

Aku ingin menebus semua kesalahanku, menebus waktu yang telah terlewatkan. Aku menyesal telah melewatkan masa-masa indah bersama putraku selama kurang lebih dua belas tahun. Aku tak ada saat dia lahir, aku tak ada saat ulang tahun pertama sampai ulang tahun yang ke sebelas, aku tak melihatnya saat pertama kali dia bisa berjalan, aku tak berada di sampingnya saat dia mulai bicara, aku tak menggendongnya saat dia sakit, aku mendukungnya saat dia pertama kali bersekolah. Dalam hati aku berteriak, ‘ayah macam apa diriku ini?’

Entah kenapa aku merasa begitu iri terhadap sosok pria yang dipanggil oleh putraku dengan sebutan ‘ayah’. Dia suami baru mantan istriku, tapi bukan itu yang membuatku iri, tapi dia bisa merebut hati putra kandungku yang sebenarnya tak pernah kumiliki sebelumnya. Entah kenapa aku melihat kemiripan antara putraku dengan dia.

Dia orang yang baik, juga ayah yang baik bagi putraku, tapi rasa egoku yang besar tak mau mengakuinya. Saat kuutarakan niatku untuk membawa putra kandungku tinggal bersamaku, kulihat dia sebenarnya berusaha mencegah dan menolak niatku tapi dengan cara yang sangat sopan. Dia selalu menegaskan bahwa setiap sesuatu yang kita putuskan harus benar-benar terbaik bagi putraku sekaligus putranya. Tapi menurutku anak kecil akan secepatnya beradaptasi dengan lingkungan baru dan aku juga yakin aku cukup tahu untuk menjadi seorang ayah yang baik, tanpa perlu diajarin olehnya. Tarik ulur yang lumayan alot hingga saat aku mengutarakan niatku akan mengajukan masalah ini ke pengadilan yang bisa membuat pertahanannya mengendur. Aku kira dia menyadari bahwa posisinya tidaklah kuat, tapi bukan itu menurutnya.

“Aku hanya memikirkan apa yang terbaik buat Dika, aku rasa membawa kasus ini ke pengadilan akan membuat trauma di hidupnya, dan itu tidak bagus bagi mental yang belum stabil. Dia seorang anak yang memiliki hati, dia bukan barang yang bisa dipertaruhkan di meja judi,” katanya tegas. “Aku yang akan berbicara dengan Dika, aku rasa dia bisa memahami pengertian dariku,” lanjutnya.

Akhirnya aku bisa membawa putra kandungku untuk tinggal dengan keluargaku. Walau dengan berbagai syarat yang harus aku penuhi, tapi satu syarat yang membuatku sedikit marah saat putraku sendiri tak mau memanggilku ayah, dan orang yang dia panggil sebagai ‘ayah’ hanya mampu membujuk putraku untuk memanggilku papa.

&&&&&



Dika

Aku menangis saat harus meninggalkan rumah untuk ikut dengan orang yang aku panggil dengan sebutan ‘papa’, aku tak mau menyebutnya ‘ayah’ karena selama ini hanya ayah Andy yang kukenal sebagai ayahku.

Rumah itu begitu besar, luas dan mewah, sangat berbeda dengan rumahku. Tapi aku merasa kesepian disana. Selama dua bulan aku hanya ditemani beberapa pembantu. Berangkat sekolah diantar sopir, semua keperluanku diurus oleh pembantu. Istri papaku terlalu sibuk untuk mengurusi anak sepertiku, dia bahkan tidak mau dipanggil mama, dia menyuruhku memanggilnya ‘tante’, dia tidak jahat terhadapku tapi dia seolah enggan bersamaku. ada juga gadis kecil yang bernama Tiara, kata papa aku harus memanggilnya adik, tapi dia seperti mamanya, tak mau bermain bersamaku. Dia lebih suka bermain sendiri dengan boneka-boneka koleksinya. Sedang papa sendiri aku jarang bertemu dengannya. Dia selalu pulang kerja malam hari dan berangkat sangat pagi sekali. Aku merindukan ayah, aku merindukan bermain dengan Raka, adikku, aku ingin digendong ayah, aku ingin dipeluk dan dicium sebelum tidur oleh ayah, aku ingin mendengar suara ayah saat membacakan cerita untukku dan Raka, sebelum kami tidur. Aku ingin belajar ditemani ayah. Aku ingin sekolah diantar ayah. Aku ingin seperti dulu bersama dengan ibu, ayah dan Raka. Aku tak ingin apa-apa lagi selain itu.

Aku sakit sejak pulang sekolah, tiba-tiba demam dan seluruh tubuhku terasa panas. Hanya bi’ Marni yang mengurusiku, papaku tak ada di rumah, tante juga tak tahu kemana. Aku menangis, aku jadi sangat merindukan ayah, karena biasanya dia yang selalu mengurusiku.

Karena bi’ Marni tak tega melihat keadaanku, dia memberanikan diri menelpon papaku.

“Tuan! Den Dika sakit badannya panas.”

“Kamu saja yang ngurusin, aku sedang sibuk.”

Karena tidak ada tanggapan yang menyenangkan, bi’ Marni mencoba menelpon istri papaku.

“Nyonya! Den Dika sakit.”

“Anak kecil sudah biasa sakit, nanti juga sembuh sendiri. Kasih makan dan obat terus bawa dia tidur,” jawabnya dari seberang sana.

“Bi’ Marni! Bolehkah aku pinjam handphonenya?”

“Buat apa den?”

“Aku mau sms ayah,” kemudian aku mengambil no hp ayahku yang aku simpan di laci meja belajarku.

Kakak kangen sama ayah, sekarang kakak sakit, apa ayah bisa kesini?

&&&&&

Andy

Aku terkejut saat mendapatkan sms dari putraku, Dika. Rasa khawatir begitu membuncah di dadaku, tapi aku coba tahan, karena aku harus mencoba menjaga perasaan Yudha sebagai orang tua kandungnya. Dengan hati-hati aku mencoba menghubungi Yudha, seolah hanya ingin menanyakan keadaan Dika. Tidak lebih.

“Dika, baik-baik saja,” jawab Yudha sesaat sebelum mematikan hubungan telpon mereka.

Tapi kata-kata Yudha tak mampu mengurangi rasa cemasku. Sampai sore menjelangpun perasaan khawatir terus menghantuiku. Dalam hati aku juga merindukan putraku. Tapi aku tak mau karena kekhawatiran yang kurang beralasan membuat situasi jadi runyam.

Hampir menjelang malam, saat aku mendapat telpon dari no handphone yang tadi digunakan Dika untuk mengirim sms padaku. Ada suara wanita disana yang tampak cemas. Ternyata wanita tersebut diminta Dika untuk menghubungiku. Aku begitu kalut saat mendengar bahwa Dika sakit, dan karena panas tubuhnya yang tak kunjung turun membuat Dika pingsan, maka wanita tersebut membawa Dika ke rumah sakit.

Aku begitu cemas, dengan segala kecemasan aku segera mengambil sepeda motorku untuk segera pergi ke rumah sakit dimana Dika dirawat, setelah sebelumnya kutitipkan Raka kepada adik perempuanku.

“Ayah mau menjemput kak Dika, Raka di rumah sama tante ya?” bujukku dan untungnya dia mengerti.

Dalam perjalanan ke rumah sakit aku berusaha untuk tenang, walau hatiku berkecamuk. Aku marah, kenapa saat seperti ini Yudha malah bilang kalau Dika baik-baik saja. Aku juga marah pada diriku sendiri yang tidak bisa menjadi ayah yang baik untuk Dika, aku menyesal menyerahkan Dika kepada Yudha. Aku merasa telah membuat istriku kecewa di atas sana.

Kemarahanku makin membuncah kepada Yudha saat aku sampai di rumah sakit tak kudapati batang hidungnya disana. Dika hanya ditemani seorang wanita yang tadi menghubungiku, wanita yang ternyata pembantu di rumah Yudha.

Kulihat tubuh putraku tergeletak tak sadarkan diri. Tubuhnya kurus sekali. Menurut dokter ada kemungkinan Dika terkena gejala demam berdarah, tapi itu juga belum bisa dipastikan karena harus menunggu hasil tes darah. Aku begitu sedih saat aku tahu dari wanita yang mendampingi Dika, jika selama ini Dika sangat sulit makan, dia sering murung dan selalu bilang kangen dengan ayahnya, kangen denganku. Dalam hati aku mengumpat kepada diriku sendiri, ‘ayah macam apa aku ini?’

Aku bersimpuh di samping tempat tidur dimana tubuh Dika tergeletak tanpa daya. Bulir air mata membasahi wajahku. Jika istriku melihat semua ini pasti dia sangat sedih dan kecewa. Kenapa aku dulu begitu lemah untuk mempertahankan agar Dika tetap di sampingku. Aku begitu bodoh dan seperti seorang pecundang.

Tiba-tiba kudengar langkah berat berjalan mendekat kearahku, aku berbalik dan kudapati Yudha di sana. Saat dia hendak menyentuh tubuh Dika, kudorong tubuhnya keras-keras untuk menjauhi putraku. Rasa marahku begitu sulit untuk aku tahan. Kudorong tubuh Yudha sampai tubuhnya menempel ke tembok, kutekan dadanya dengan menggunakan lengan kiriku dan kepalan tangan kananku siap-siap mendarat di wajahnya, tapi saat hendak kulayangkan pukulan itu, kulihat ada tetesan bening di matanya, dia seolah pasrah, dia seolah memahami kesalahannya. Dan pukulan itu hanya bisa aku daratkan di tembok sebelah kanan wajah Yudha. Dan saat itulah kudengar suara putraku.

“Ayah!” suara lirih itu membuyarkan semuanya, ku abaikan tubuh Yudha yang masih menempel di tembok tanpa daya.

Aku berlari mendekati tubuh putraku. Kuhamburkan tubuhku untuk memeluk tubuhnya yang lemah, kucium wajahnya. Hanya ingin menyatakan bahwa aku berada di sisinya bukan lagi di mimpinya.

Dika membuka matanya perlahan, mungkin merasakan keberadaanku disana.

“Ini ayah, Dika!” rancauku dengan suara serak menahan tangis.

“Ayah, aku mimpi bertemu ibu,” ucapnya lirih, tapi mampu membuatku begitu ketakutan. Saat itu pula kudengar sesuatu terjatuh, dan aku lihat tubuh Yudha melorot tanpa daya ke lantai, tubuhnya masih di tempat yang sama seperti saat kutinggalkan, masih bersandar di salah satu tembok kamar itu.

“Kata ibu, ayah akan menjemputku disini,” ucap Dika perlahan kemudian.

Aku mengangguk perlahan kemudian kucium keningnya, “ayah datang menjemputmu.”

“Maukah ayah menggendongku? Aku ingin tidur di gendongan ayah,” pintanya dengan lemah dan aku mengangguk menyetujuinya.

Aku mencoba mengangkat tubuh Dika yang lemah, tapi aku sedikit kesulitan, selain karena tubuhnya sangat rapuh juga ada selang infus yang tertancap di lengan kecilnya. Saat itulah Yudha datang membantuku. Kini Tubuh lemah itu telah berada di gendonganku.

“Bolehkah aku meminta sesuatu ayah?” tiba-tiba Dika kembali berbicara.

“Apapun akan ayah lakukan untuk Dika.”

“Bolehkah aku ikut ayah lagi?”

&&&&&

Yudha

Aku menyadari kekalahanku sebagai seorang ayah, sebagai seorang manusia juga sebagai seorang laki-laki. Sekali lagi karena keegoanku sendiri aku hampir kehilangan orang yang aku sayangi untuk kesekian kalinya.

Ternyata salah jika aku ingin menebus kesalahanku selama ini terhadap putraku dengan membawanya tinggal bersamaku, hanya memberikan kecukupan materi tapi bukan pelukan kasih sayang. Aku seperti orang bodoh yang tak bisa berpikir bahwa anak bukanlah barang yang bisa dipindah tangankan dengan mudah, mereka juga punya hati, mungkin aku bisa merebut jasadnya tapi aku tak mampu merebut hati putraku sendiri, aku malah merampas senyum yang sebenarnya ingin sekali aku lihat.

Pagi itu, kepada Andy aku mengakui kekalahanku sebagai seorang ayah, menelanjangi seluruh keegoisanku sebagai seorang laki-laki dan mencoba meluruhkan kesombonganku sebagai manusia. Begitu menyakitkan saat menyadari putra kandungku sendiri belum bisa menerima kehadiranku, tapi terasa lebih menyakitkan lagi melihat rasa sakit yang dipendam putraku sendiri karena keegoisanku.

“Maukah kau merawat Dika? Mungkin dia akan lebih bahagia jika tetap bersamamu,” ucapku kepada Andy dengan lidah yang terasa kelu.

Dia mengangguk dan kemudian memelukku, seolah ingin memberikan kekuatan padaku.

“Tapi ijinkan aku setiap saat untuk menemuinya,” pintaku dan dia hanya menepuk punggunggu sebagai tanda setuju.

Dan kemudian aku melangkah pergi, meninggalkan semua kesombongan dan keangkuhanku.

6 komentar:

  1. hmmmm ini crita yg sangat haru.. buat q nangis.. ap ini crita yg qm almi sndri??


    oy slm knl dariq.. ^_^

    BalasHapus
  2. @To Aurel: salam kenal juga.... cerita ini 100% hanya fiktif semata.... cuma terilhami dari kisah seorang sahabat wanitaku yang setelah cerai, mantan suaminya tak peduli dg anak mereka.....

    BalasHapus
  3. Salam kenal saja & follow, ceritanya menyentuh sekali

    BalasHapus
  4. @Thanjawa Arif: salam kenal balik.... terima kasih sudah sudi membacanya.... semoga bermanfaat ^_^

    BalasHapus
  5. orangtua bukan hanya sekedar panggilan dan pengakuan dari seorang anak, tapi orangtua adalah orang-orang dewasa yang terus menerus membanjuri kasih sayang kepada seorang anak, meski anak-anak itu bukan selalu dari benih yang terlahir melalui mereka


    keren ceritanya Mas, salut :)

    BalasHapus
  6. 100% nangis bacanya :'(
    jadi kangen sama ayah kandung saya <3

    BalasHapus