..............berpendarlah dengan cahaya yang berkilau laksana kunang-kunang di malam yang gelap....... tak perlu ragu karena dari mana asalmu, karena kilau emas sekalipun berasal dari kubangan lumpur juga......................

Kamis, 07 Juli 2011

Kesempatan Terakhir


Air mata Arya meluber tak tertahankan. Mulutnya penuh sesuap nasi goreng yang tak mampu dia kunyah, bukan karena rasa yang tak mampu dinikmati oleh indra pengecapnya, tapi karena memori lima tahun tahun lalu masih terpampang jelas di relung-relung perasaannya. Walau perasaan memiliki memori yang sangat abstrak tapi memori itu lebih kuat dari pikiran logisnya. Arya menggigit bibir bawahnya menahan tangis yang bisa setiap saat meledak. Rasa nasi goreng selalu saja masih mampu melemparkan ke masa yang ingin sekali dia kembali kesana untuk memperbaikinya.

♣ ♣

Raya merasa kedua lengannya dicekal sosok yang tak terlihat jelas, sosok tinggi besar dengan sorot mata tajam, seolah menghunus pedang menembus jantung. Raya lemah kesakitan saat dirinya diseret menjauh. Raya memohon. Raya berdo’a. Raya merasakan ketakutan teramat sangat.

“Beri saya satu kesempatan,” Raya memohon dengan sorot mata yang melemah.

♣ ♣

Raya mengetuk pintu dengan pelan. Arya membuka pintu dengan wajah enggan. Malam sudah mulai naik. Raya masuk kedalam rumah yang terasa sangat sunyi untuk mereka tinggali berdua saja. Sunyi bukan karena Raya masih merindukan kedua orang tuanya yang sudah lama meninggal, tapi sunyi karena sudah beberapa lama Raya dan Arya saling diam, tak bertegur sapa. Mereka kembar, mereka hidup dalam satu atap yang sama tapi mereka seperti orang yang masing-masing saling terasing, terasing dalam hidupnya sendiri-sendiri.

Arya dan Raya anak kembar.

Kembar hanya karena mereka lahir dari rahim yang sama dan lahir di saat yang sama juga, selain itu mereka individu yang sangat berbeda walau memang tak bisa dipungkiri guratan-guratan wajah mereka membuat orang lain sulit membedakan. Arya tumbuh menjadi sosok remaja lelaki yang maskulin dan seperti kebanyakan anak laki-laki yang lain, sedang Raya tumbuh menjadi remaja laki-laki yang lebih feminim dan lembut serta sangat pendiam. Jika Arya selalu dikelilingi pujian-pujian karena tumbuh menjadi pribadi yang supel dan sangat mandiri, serta dipuji banyak remaja perempuan seusianya karena berperawakan sangat menawan dan atletis, tidak demikian yang terjadi pada diri Raya. Karena sikapnya yang terlalu lembut dan sangat pendiam membuat Raya dipandang dengan tatapan sinis oleh lingkungan sekitarnya. Cibiran sepertinya menjadi begitu lekat bagi sosok Raya. Kata ‘banci’ seolah telah disematkan dalam diri Raya oleh orang-orang disekirnya.

“Apakah kamu sudah makan?” tanya Raya kepada Arya dengan bibir gemetar menahan takut.

“Sudah,” jawab Arya singkat tanpa menoleh, dia terlalu terpaku pada layar TV yang berada didepannya.

“Aku membuatkan nasi goreng, maukah kamu memakannya bersamaku sekarang?” Raya meletakkan sepiring nasi goreng di samping Arya dengan hati-hati.

Raya mencoba menikmati nasi goreng buatannya sendiri, sambil sesekali dia menatap ke arah sepiring nasi goreng yang berada disamping Arya. Piring itu tak bergeming dari tempatnya, Arya terlalu terpaku dengan film yang sedang ditontonnya, atau mungkin dia memang enggan menyentuh nasi goreng buatan Raya.

Pelan tapi pasti air mata meluncur dari kelopak mata Raya, turun kebawah dan bercampur dengan nasi goreng yang makin lama makin begitu menyakitkan dia rasakan. Bukan rasa nikmat karena kenyang yang dia dapatkan, tapi rasa sakit diujung kerongkongannya yang seolah tersumbat batu besar. Membuat Raya seolah begitu kesulitan menghirup udara.

♣ ♣

Pintu rumah digedor dengan sangat keras, pagi masih terlalu buta. Arya bangkit dari tempat tidurnya dengan perasaan kesal. Dia melirik kearah kamar Raya, sepi. Dia melirik kearah dapur dan kamar mandi, tak ada suara apapun disana.

Masih gelap saat Arya membuka pintu dan mendapati seseorang yang wajahnya tampak sangat gusar.

“Mas, saudara kembarnya Raya kan?” tanya orang tersebut dengan sedikit panik.

“Ya,” jawab Arya enggan.

“Semalam Raya kecelakaan sepulang dari tempat kerja, sekarang jasadnya berada dirumah sakit.”

Entah beberapa saat Arya merasakan seluruh tubuhnya seolah berhenti, jantungnya berhenti berdetak, otaknya entah melayang-layang kemana, tubuhnya kaku dan dingin. Kata-kata dari orang yang berada didepannya seolah terlalu sulit untuk dipahaminya. Mungkin tidak ingin dipahaminya. Arya ingin berharap ini adalah mimpi dan dia sangat berharap bisa buru-buru bangun dari mimpi yang membuatnya seolah di pukul palu godam, semakin dia berharap semakin dia menyadari bahwa ini adalah nyata.

“Tapi semalam dia bersamaku,” bisik Arya lirih dan bulir bening meluncur perlahan keluar dari matanya.

♣ ♣

Satu persatu para pelayat mulai pergi meninggalkan Arya yang masih terpaku sendiri larut dalam kesedihan yang begitu sulit diselami kedalamannya. Arya masih merasakan jiwa Raya masih berada di sampingnya walau jasadnya kini telah berada dalam pelukan bumi. Dia merasakan begitu sepi, bukan hanya karena kepergian Raya tapi sepi karena rasa penyesalan.

Arya dengan langkah gontai masuk ke kamar Raya, dia masih sangat berharap menemukan saudara kembarnya berada di kamar tersebut, tapi kosong. Hanya kepedihan yang dia temukan di kamar tersebut. Kepedihan yang menyelimuti kesendirian saudara kembarnya. Kepahitan yang ditelan sendiri oleh saudara kembarnya. Dan kenapa di saat seperti ini Arya merasa baru menyadarinya, kemanakah dia selama ini. Sekarang, saat ini, kenapa dia baru begitu menginginkan untuk memeluk saudaranya tersebut dan bilang kepadanya, ‘kamu tak pernah sendiri, ada aku disampingmu.’

Arya menemukan buku harian Raya tergeletak di meja belajar. Arya mengambilnya dan membaca dilembaran terakhir yang seolah tintanya belum benar-benar kering.

Aku hanya memohon satu kesempatan,

Aku hanya ingin bilang minta maaf kepada Arya, karena aku merasa tak pernah pantas menjadi saudara kembarnya.

Aku hanya ingin mendengar suaranya terakhir kali, karena aku begitu kesepian dengan kediamannya.

Jika aku bisa, aku akan melakukan apa saja agar Arya kembali bersikap seperti dulu, bahkan termasuk mematikan rasa cinta dalam hatiku.

Jika Tuhan memberikan pilihan, aku akan lebih memilih menjadi bayangan Arya daripada menjadi saudara kembar yang membuat hati Arya selalu tersiksa.

Aku tak pernah menyesal menjadi saudara kembar Arya tapi yang menyesalkan bagiku kenapa diriku tak pernah bisa menjadi saudara yang baik bagi Arya.

Caci maki orang lain lebih mudah kutelan mentah-mentah walau pahit dan menyayat perasaanku daripada sikap diam saudaraku sendiri.

Aku lebih memilih ditampar bahkan diludahi mukaku daripada diacuhkan oleh saudaraku sendiri.

Aku tak punya siapa-siapa.

Hanya dia yang aku punya sebagai saudaraku.

Aku begitu ketakutan selama ini, dan keberadaan dialah yang membuatku sedikit lebih berani.

Aku merindukan senyumannya.

Bahkan untuk bilang bahwa aku membutuhkannya begitu sulit kuutarakan.

Apalagi harus bilang aku menyayanginya.

Tapi walau dia diam, aku selalu menyakini dalam diriku bahwa dialah satu-satunya orang yang mampu menerimaku apa adanya, menerimaku sebagai saudaranya, hanya mungkin dia terlalu sulit mengungkapkannya.

Tuhan, terima kasih telah melahirkanku sebagai saudaranya, walau kami tak pernah bisa sama.

Tangisan Arya tak mampu dibendungnya, berada dalam kamar tersebut seolah membuatnya sulit menarik udara ke paru-parunya. Dia keluar dengan perasaan hancur berkeping-keping karena kehilangan sebagian dari kehidupannya.

Di ruang tengah Arya melihat sepiring nasi goreng. Bukan mimpi. Nasi goreng yang semalam begitu dia acuhkan karena merasa enggan menerimanya. Tapi sekarang dia seolah sangat lapar dan ingin menikmati nasi goreng tersebut. Nasi goreng buatan saudaranya. Nasi goreng yang dibuat dengan ketulusan dan kasih sayang. Nasi goreng terakhir yang dipersembahkan untuknya.

Dengan kalap seperti orang sangat kelaparan Arya meraih bulir-bulir nasi goreng yang sudah mulai basi. Dengan tangan gemetar dia suapkan nasi tersebut ke dalam mulutnya sendiri. Dia sangat lapar, dia lapar akan kehadiran saudaranya, dia lapar akan ketulusan saudaranya, dia lapar akan kasih sayang saudaranya. Tapi mulutnya tak mampu mengunyahnya dengan sempurna, seolah dia mengunyah batu-batu terjal yang selama ini dilalui saudaranya seorang diri, Arya merasakan kepahitan dan kehidupan yang sangat pedas yang dialami saudaranya dari tiap bulir nasi yang berhasil dia hancurkan dengan giginya. Air mata bercucuran tak tertahankan meluruh dan bersatu dengan bulir-bulir nasi yang seolah mengoyak-koyak rasa kerinduannya. Tapi tak satupun bulir-bulir nasi tersebut mampu dia telan, tak satupun. Dan Arya marah. Marah pada dirinya sendiri. Marah pada keangkuhannya. Marah kepada kemarahannya yang telah membentangkan tembok pemisah dengan saudaranya sendiri. Tembok yang dia bangun sendiri dengan keangkuhannya, dan kini dia begitu sulit meruntuhkannya. Tembok yang membatasinya dengan kasih sayang dari saudaranya. Tembok itu bahkan membuatnya tak mampu menelan bulir-bulir nasi goreng terakhir buatan saudaranya.

“Tuhan, beri saya satu kesempatan lagi,” Arya memohon dengan sorot mata yang melemah.

2 komentar: