Senin, 03 Desember 2018

GANDARI


Senja baru saja berlalu penuh syahdu, seakan dunia adalah sebuah tarian yang kadang nampak rancak sedang di lain waktu acap kali terlihat begitu lemah gemulai. Suasana stasiun kota itu nampak begitu membaur dalam tarian alam yang terus saja ditampilkan. Diantara banyak kerumunan orang terlihat seorang wanita tampak berdiri terpaku dalam kesendirian, menantikan kedatangan keretanya. Tatap matanya penuh ragu, seakan hatinya telah terbelenggu, ibarat dia hendak melarikan diri dari sebuah cerita yang memperangkap jiwanya.
Tak berapa lama kereta yang ditunggunya datang, dia nampak masih diam mempersilahkan orang lain sibuk berebut masuk ke dalam gerbong kereta tersebut. Seolah dia ingin menjadi yang paling terakhir dan berlama-lama menikmati malam terakhir di kota itu. Seolah tak akan pernah kembali.
Kemudian dia memasuki gerbong kereta, dia masih terpaku sejenak di pintu kereta, ada beban berat yang sepertinya dia tinggalkan, dia menoleh sebentar ke arah luar kereta, seakan mencari sebuah jawaban atas ribuan pertanyaan di dalam kepalanya. Nampak kemudian sekilas pantulan kilatan cahaya di sudut matanya yang berkaca-kaca.
Kemudian roda-roda besi pun perlahan mulai berdecit membaur dengan suara peluit panjang. Wanita itu duduk sendiri di sudut gerbong, tampak jelas dia sedang menahan diri sekuat tenaga untuk tidak menjerit.
***
Gandari tampak berjalan perlahan di tengah koridor rumah sakit yang lengang itu, dia tak menyadari ada langkah berlari dari arah berlawanan karena dia berjalan dengan sedikit menunduk, hingga sedetik sebelum dia bertabrakan dengan langkah tersebut, Gandari segera menyadari untuk sedikit menepi dengan tergesa. Dia masih sempat menepi dan berpegangan pada salah satu tiang koridor itu sebelum orang tersebut betul-betul menabraknya, orang tersebut seakan terburu-buru, tapi dia sempat menolehkan wajah ke arah Gandari yang terpaku. Sosok laki-laki muda dengan penampilan yang sangat rapi. Gandari kemudian melanjutkan langkahnya menuju bagian Instalasi Farmasi.
“Maaf untuk yang tadi,” terdengar suara laki-laki yang tiba-tiba muncul di samping tempat duduk Gandari. “Ibuku tiba-tiba masuk Rumah Sakit,” lanjutnya kemudian. “Antri obat juga?” tanyanya kepada Gandari kemudian.
Gandari hanya sedikit tersenyum dan menjawab pertanyaan dengan anggukan saja, seolah dia sedang mencerna apa yang terjadi karena dia merasa begitu canggung berada di samping seorang laki-laki yang nampak rapi dengan senyum manis menghiasi kerut di wajahnya, sangat kontras dengan wajah-wajah lesu dari banyak orang yang sedang mengantri obat di apotik rumah sakit tersebut. Gandari hanya menebak umur laki-laki tersebut sekitar menginjak kepala tiga.
“Siapa yang sakit?” Tanya lagi laki-laki tersebut dengan serius.
“Teman,” jawab Gandari lirih kemudian dia menundukkan kepalanya sedikit.
“Boleh berkenalan? Aku Prayoga,” laki-laki itu mengulurkan tangannya.
“Gandari.”
Gandari melihat kerutan di dahi laki-laki itu, nampak juga di matanya ribuan tanda tanya yang bersarang di sana. Tapi dia tidak lagi merasa aneh, sudah terbiasa dia lihat pada ekspresi wajah orang yang biasanya baru tahu namanya. Mungkin namanya terlalu aneh bagi beberapa orang.
“Hhmmm… kalau tidak salah namamu adalah nama salah satu tokoh pewayangan bukan?” laki-laki itu mencoba menebak.
“Iya, Ibu dari para Kurawa,” jawab Gandari singkat seolah ingin mengkahiri percakapan tersebut.
***
Gandari menahan diri untuk tidak menjerit, seolah ceruk luka begitu menganga di dadanya. Deru roda-roda besi yang menggilas rel kereta seakan tak mampu mambawanya lari menjauh dari ribuan kenyataan pahit. Dia tidak akan hanya akan teringat pada sosok laki-laki yang dicintainya, tapi hatinya akan selalu terjerat untuk selama-lamanya. Karena alasan mencintailah terpaksa dia harus pergi dan meninggalkan semua kenangan.
***
“Kenapa tiba-tiba memutuskan semua ini seorang diri?” tanya Prayoga dengan wajah tampak kesal dan penasaran.
“Sudah dari awal aku bilang, hubungan kita ini tidak mungkin, kamu sudah tahu siapa diriku sejak awal” jawab Gandari sembari mengemas pakaiannya ke dalam koper.
“Tapi semua bisa kita cari jalan keluarnya, apa kau tak mempercayai keseriusanku?”
Gandari menghentikan pekerjaannya, dia memalingkan tubuhnya menghadap sosok laki-laki di hadapannya tersebut. “Aku ini bukan wanita yang memiliki masa depan, sedang masa depanmu masih terlalu panjang untuk kau habiskan dengan wanita yang punya virus HIV di dalam tubuhnya,” Gandari berucap lirih namun jelas. Dia berusaha sekuat tenaga untuk tidak menangis walau matanya telah begitu sembab oleh air mata yang dia tahan.
Prayoga melangkah menghampiri, dia berusaha memeluk Gandari walau ditepiskan, tapi kekuatan laki-laki itu terlalu kuat bagi Gandari. “Kenapa harus menyerah semudah ini? Tak bisakah terus berjuang seperti aku yang tak pernah menyerah terhadapmu?” bisik laki-laki itu disusul isak tangis Gandari yang tak mungkin lagi dibendung.
Gandari melepaskan diri dari pelukan laki-laki tersebut kemudian, dia sadar betul semakin lama dia berada di sana akan semakin sulit baginya untuk pergi. Kemudian dia kembali melanjutkan kegiatannya tadi, mengemasi semua pakaiannya ke dalam koper, seolah ingin mengemasi semua kisah mereka berdua dan menutup rapi tanpa ada celah untuk diungkit lagi.
“Aku antar ke stasiun,” ucap laki-laki itu dengan lembut yang tak mungkin ditolak oleh Gandari.
***
Sejak menyadari dirinya mengidap virus HIV dari mantan suaminya yang telah meninggal, Gandari sadar hidupnya tak akan lagi pernah sama, semua pintu-pintu kemungkinan dia coba tutup rapat-rapat, yang dia tahu adalah dia harus terus bertahan dan berjuang hidup untuk keluarganya. Bahkan perlahan hatinya mulai dia bekukan dengan dingin dan sepinya malam-malam yang ia lalui, pintu hatinya dia kunci rapat-rapat. Tak berharap siapapun akan datang menyapa. Hingga datang seorang lelaki bernama Prayoga yang seolah membolak-balikkan hidupnya, laki-laki yang mengajarkan kepadanya tentang rasa yang telah dia kubur dalam-dalam. Laki-laki yang hampir menabraknya di koridor rumah sakit waktu itu. Laki-laki yang begitu menyukai namanya tak seperti orang-orang lain yang sering merasa aneh dengan namanya. Laki-laki yang tetap tersenyum saat Gandari pernah menolaknya, dan laki-laki yang tetap mengantarnya ketika dia harus meninggalkan laki-laki yang dicintainya tersebut. Laki-laki yang ingin sekali dia hujankan ribuan permintaan maaf karena telah terlalu berani untuk melintas di kehidupannya.
***
“Maaf jika ibu tiba-tiba ingin mengajakmu bertemu berdua saja, tapi ada sesuatu hal yang ingin ibu sampaikan,” ucap wanita separuh baya yang duduk di hadapan Gandari sembari meletakkan cangkir teh yang baru diminumnya sedikit.
“Tidak apa-apa ibu,” balas Gandari kepada wanita yang tak lain adalah ibu dari Prayoga.
Sejak Gandari dekat dengan Prayoga sudah beberapa kali Prayoga mengajak Gandari ke rumahnya dan bertemu dengan ibunya, bahkan beberapa kali juga Gandari menemani Prayoga mengantarkan ibunya berobat jalan ke dokter karena penyakit jantungnya. Tapi Gandari menangkap sinyal aneh kali ini dari nada bicara ibunda Prayoga.
“Tak bisa dipungkiri jika semenjak kenal denganmu sikap Prayoga sedikit berubah, dia selalu menyempatkan waktu untuk ibunya ini, padahal dulu dia lebih asyik dengan kesibukan kerjanya.” Wanita itu menerawang sejenak mencoba merajut kata-kata selanjutnya. “Bahkan sejak dia berpisah dengan pacarnya yang dulu, dia hampir 4 tahun tak pernah memperkenalkan lagi teman wanitanya kepada ibu, kadang ibu mengira dia masih memendam kekecewaan, tapi…”
“Mas Yoga selama ini sibuk kerja karena ingin membanggakan ibu, dia ingin sekali ibu bahagia. Dia bukan laki-laki yang mudah menyerah,” sela Gandari kemudian.
“Iya, ibu pun sebenarnya berpikir demikian, dan ibu berharap dia juga sedang mempersiapkan masa depannya juga,” wanita itu kemudian menghela nafas panjang namun lirih.
“Sebenarnya apa yang ingin ibu sampaikan?”
Wanita itupun menghela nafas untuk kedua kalinya. “Maafkan ibu, bukan bermaksud menyinggung atau mengungkit apa yang menjadi masa lalu,  ibu berterima kasih kepadamu karena telah membantu ibu menjaga dia selama ini, tapi hati ibu selalu mengkhawatirkan masa depannya,” nampak mata wanita paruh baya itu berkaca-kaca, diam-diam tangannya mengambil sepucuk tisu yang ada di meja di hadapannya dan menyapukannya di sudut-sudut matanya yang keriput.
“Apakah ibu mengkhawatirkan Mas Yoga karena bersama dengan wanita seperti saya? Wanita yang di dalam darahnya mengalir penyakit yang begitu ditakuti banyak orang?”
“Maafkan ibu… bukan maksud ibu menyinggungmu, ibu tahu kamu wanita yang baik,” wanita itupun akhirnya tak bisa menahan air matanya. “Maafkan ibu, maafkan wanita tua ini yang mengkhawatirkan masa depan anak semata wayangnya,” lanjutnya dengan suara terisak.
Gandari mendekati ibunda Prayoga, menangkap kedua telapak tangan keriput milik wanita tersebut. “Tak ada yang perlu dimintakan maaf ibu. Melindungi anak adalah naluri bagi seorang ibu dan itu adalah sebuah kebenaran bukan sebuah kesalahan,” ucap Gandari lirih walau hatinya terasa tercabik-cabik. Bukankah dia sudah mempersiapkan untuk hal-hal seperti ini sebelumnya? Tapi tetap saja rasa itu begitu menyakitkan dan dia tak pernah merasa siap untuk menerima perihnya.
***
Air mata Gandari meleleh sedari tadi, bahkan berkali-kalipun dia hapus seakan air mata itu tak pernah mau surut dan reda, dalam gamang dia sandarkan kepalanya di jendela kereta, dia menatap ke luar sana ke arah gelap yang sedang di lalui kereta itu, kadang terlintas sedikit cahaya remang namun kemudian hilang bergantikan gelap lagi.
Dia menyadari rasa sakit ini pasti suatu saat bakal dia rasakan tapi dia tidak berpikir akan secepat ini. Sudah seharusnya dia tak pernah membukakan pintu hatinya ketika waktu itu Prayoga berkali-kali mengetuknya. Seharusnya sedari awal dia tak selemah itu agar tak ada satu hatipun yang tersakiti olehnya.
Dalam malam yang makin meninggi, seolah bidadari dengan gaun hitamnya menari-nari dengan penuh gemulai, Gandari merasakan dirinya begitu lelah, seolah dia perlahan ditarik ke alam mimpi.
***
“Kenapa anak ayah menangis?” kata seorang lelaki kepada Gandari kecil.
“Teman-teman mengejek namaku lagi,”
Laki-laki tersebut mengangkat tubuh kecil putrinya, menariknya kedalam gendongannya dan mengajaknya ke ruang tengah sembari membuka sebuah buku.
“Kata siapa nama Gandari itu aneh? Gandari adalah nama seorang putri yang setia terhadap cintanya, rela berkorban untuk orang yang dikasihinya dan dia adalah wanita yang paling tegar dalam cerita pewayangan Mahabharata, dia juga seorang ibu yang sangat mengasihi semua putra-putranya, tapi walau begitu banyak ujian yang Tuhan berikan kepada dirinya, dia tak pernah sedikitpun menyerah, dia selalu menerima dengan ikhlas apa yang Tuhan berikan kepadanya. Bagi ayah Gandari adalah wanita yang kuat.”
***
Pagi menjelang diiringi sinar mentari yang hangat ketika kereta itu berhenti di tempat tujuan Gandari, dengan bergegas kemudian dia turun dari kereta itu. Berharap semua akan kembali baik-baik saja secepatnya, berharap dia akan masih kuat berjuang entah dengan ribuan perih apa lagi yang harus dia hadapi kedepannya. Gandari harus ikhlas menerima dengan lantang, bahwa jika Tuhan memberi pasti dengan jutaan maksud dan tujuan.
Kemudian dia raih handphone di saku jaketnya, ada sebuah pesan yang dia terima dengan perasaan entah bagaimana dia mampu mengeja.
“Aku masih terus berjuang, aku tak mau menyerah,” pesan dari Prayoga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar